
“Vera, apa-apaan kamu!” bentak Reza sambil berusaha keras pemegang pundak Vera yang berusaha menarik rambut Nayla.
“Ini semua gara-gara wanita itu.” Vera menatap Nayla tajam dengan perasaan benci yang berdiri di belakang Reza.
“Memangnya apa salah dia pada kamu?” tanya Reza.
“Sekarang kamu lebih membela dia dari pada aku.”
“Aku nggak membela siapa-siapa. Aku hanya membela yang benar.”
“Yang benar gimana?” tanya Vera lagi.
“Kenapa kamu berusaha untuk menghajar Nayla sementara dia tidak bersalah.”
“Tidak bersalah gimana. Dia telah merebut hati kamu, Reza sehingga kamu lupa terhadap aku.”
Vera sengaja memasang aksinya dengan pura-pura menangis supaya Reza bersimpati padanya.
“Kan udah aku katakan sama kamu kalau aku lebih memperhatikan Nayla bukan karena dia menggoda aku. Tapi karena kelakuan kamu sendiri yang tidak pernah berubah. Kamu selalu egois dan selalu mau senang sendiri. Sementara Nayla selalu bersikap baik dan perhatian pada aku. Bahkan ketika aku mengucapkan kata-kata yang kasar padanya, dia tidak pernah marah sedikit pun. Hal itulah yang membuat aku lama-kelamaan menyukainya.”
“Tapi kamu telah melanggar janji kamu, Reza. Kamu berjanji akan selalu menyayangi aku, bahkan akan menceraikan Nayla.”
Nayla yang mendengar ucapan Vera kemudian pergi masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mau melihat keributan antara Reza dan Vera.
“Semuanya bisa berubah Vera, seiring berjalannya waktu.”
__ADS_1
“Kamu jahat Reza.... kamu jahat.” Vera kemudian memukul berkali-kali dada Reza karena kesal.
Dia merasa sedih dan kecewa mendengar pengakuan Reza. Dia tidak menyangka ternyata Reza yang dulunya dianggap sangat mencintainya sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Cinta Reza sudah berpindah ke Nayla karena alasan Vera tidak bisa merubah sikapnya yang selalu keras kepala. Reza hanya diam saja membiarkan Vera berulang kali memukul dadanya sambil menangis. Vera berharap dengan dia menangis maka Reza akan memeluknya. Tetapi ternyata tidak karena Reza hanya diam saja sambil memperhatikan tingkah laku Vera yang seperti anak-anak.
“Kalau kamu tidak mencintai aku, lebih baik ceraikan aku, Reza,” ucap Vera sambil menjerit.
Reza hanya diam saja tidak menjawab ucapan Vera. Melihat reaksi Reza yang hanya diam saja Vera semakin kesal. Kemudian diraihnya gelas yang ada di wastafel cucian piring dan langsung dicampakkan ke lantai membuat gelas itu hancur berkeping-keping. Melihat Vera yang semakin gila Reza langsung terpancing emosi.
“Vera, apa kamu sudah gila!” Bentak Reza.
Reza langsung menarik tangan Vera yang berusaha akan meraih piring kaca yang ada di dekat situ juga.
“Iya, aku sudah gila. Memangnya kenapa. Nggak perlu kamu ngurusi aku lagi.” Tantang Vera.
“Memangnya siapa yang mau mengurusi kamu. Aku juga sudah bosan dengan kamu.”
“Kamu jahat Reza...” ucap Vera dengan nada sedih.
Reza yang malas melihat kelakuan Vera langsung berjalan menuju kamarnya. Kalau dia tetap bertahan di tempat itu maka Vera akan semakin gila lagi sehingga Reza langsung masuk ke kamarnya.
***
Sampai di kamar dia langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur. Kepalanya semakin pusing menghadapi kelakuan Vera yang begitu keras kepala dan seperti anak-anak.
‘Kenapa aku terlalu tergesa-gesa untuk menikahi Vera. Aku hanya memaksakan kehendakku sendiri tanpa memikirkan resiko yang akan aku hadapi dengan mempunyai dua orang istri. Bahkan papi sudah pernah mengatakan padaku bahwa beliau tidak mau menerima Vera sebagai menantunya karena papi merasa Vera tidak pantas untukku. Tapi aku tidak pernah menghiraukan ucapan papi. Sekarang aku merasakan hal ini akibat aku memaksakan kehendakku sendiri. Aku menyesal bahkan sangat menyesal. Tapi apa yang bisa aku lakukan karena semuanya sudah terjadi. Dan sekarang apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi masalah ini yang nantinya akan selalu datang. Aku rasanya nggak sanggup hidup terus menerus dengan Vera.’
__ADS_1
Reza merasa sudah lelah hidup dengan Vera yang selalu mau menang sendiri dan tidak pernah mau mendengarkan ucapan suaminya.
***
Nayla yang sejak tadi sudah masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba merasakan mual dan kepalanya pusing apalagi ketika melihat keduanya bertengkar. Akhirnya Nayla yang berasal badannya tidak enak langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia bingung dengan situasi ini walaupun di dalam hatinya dia juga merasa senang karena Reza telah mencintainya. Tetapi menghadapi sikap Vera yang begitu keras kepala membuat Nayla merasa bingung. dia bingung harus berbuat apa, apalagi saat ini dia sedang mengandung anaknya Reza.
‘Gimana nasib anakku ke depannya kalau rumah tanggaku akan seperti ini terus. Apakah Aku sanggup membesarkan anakku dengan keadaan seperti ini. Aku kasihan dengan perkembangan jiwa anakku kalau nantinya dia selalu melihat kedua orang tuanya selalu bertengkar dengan Vera.’
Walaupun Nayla belum memastikan kalau dia hamil atau tidak, tapi Nayla sudah yakin betul kalau dia sedang hamil karena dia sering mual dan pusing.
Akhirnya dari pada pusing memikirkan hal ini semua, Nayla berusaha untuk memejamkan matanya. Tidak lama kemudian dia pun tertidur pulas padahal Nayla merasa lapar. Nayla belum makan malam karena baru saja terjadi pertengkaran di rumah ini. Perasaan laparnya pun langsung hilang dan sekarang dia sudah tertidur nyenyak di kamarnya.
***
Vera yang merasa sedih dan kecewa melampiaskan kesedihannya di atas tempat tidur. Dia menangis sepuasnya membuat bantalnya basah oleh air matanya. Tidak lama kemudian dia pun tertidur karena kelelahan banyak menangis.
Ketika Vera terjaga di tengah malam, dia kembali kesal dengan sikap suaminya. Akhirnya dia langsung mengambil jalan pintas. Dia langsung pergi keluar untuk menemui Rendy sambil menangis. Nayla keluar rumah tanpa memberitahu suaminya dulu. Begitu sampai di depan rumahnya dia langsung memesan go-jek dan tidak lama kemudian go-jek yang dipesannya pun tiba, Vera buru-buru pergi.
***
Sampai di depan rumah Rendy, Vera langsung menekan bel rumahnya. Hampir lima menit Vera menunggu, barulah Rendy keluar. Rendy langsung terkejut melihat kedatangan Vera yang begitu tiba-tiba tanpa memberitahunya lebi dulu. Apalagi sekarang sudah larut malam. Rendy yang tadi sedang tertidur nyenyak seperti dalam mimpi ketika melihat Vera sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Dia langsung mengusap kedua matanya untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
Vera yang sejak tadi menangis langsung menghamburkan diri dalam pelukan Rendy. Rendy kemudian menyambut hangat pelukan itu. Rendy langsung bisa menebak bahwa telah terjadi sesuatu pada Vera. Dielusnya kepala Vera dengan lembut sambil bertanya.
“Ada apa Vera, ini kan sudah larut malam?” tanya Rendy dengan suara lembut.
__ADS_1
Rendy merasa heran dengan kedatangan Vera yang begitu tiba-tiba apalagi sudah larut malam seperti ini.