Aku Bukan Istri Bayaran

Aku Bukan Istri Bayaran
Harta


__ADS_3

Melihat niat buruk Reza dan Vera yang ingin menguasai harta pak Mahendra, Nayla merasa kesal pada suaminya. Dia tidak menyangka kalau Reza dapat berbuat setegah itu pada orang tuanya sendiri.


‘Kenapa mas Reza bisa setegah itu pada papinya sendiri. Seolah-olah harta segala-galanya baginya sehingga tanpa merasa kasihan pada papinya dia ingin menguasai harta kekayaan papinya. Padahal perusahaan yang telah dimiliki oleh pak Mahendra sekarang adalah karena kerja kerasnya selama ini. Senangkan mas Reza hanya tinggal meneruskan perusahaan itu. Aku kasihan sekali pada pak Mahendra yang sudah bersusah payah merintis perusahaan itu tapi anaknya tinggal mengambilnya. Bagaimana nasib perusahaan pak Mahendra kalau nantinya akan dipegang oleh mas Reza dan juga Vera. Aku yakin Vera hanya menginginkan harta mas Reza dan yang aku takutkan ketika Vera sudah dapat menguasai harta mas Reza pasti dia akan semena-mena pada mas Reza. Mungkin juga dia akan meninggalkan mas Reza. Pokoknya aku nggak boleh tinggal diam. Aku akan selalu mengawasi Vera karena aku yakin semua ini kemauannya Vera bukan mas Reza.’


***


Sehabis magrib Nayla seperti biasa menyiapkan makan malam buat suaminya. Begitu juga dengan malam ini. Keduanya makan di meja makan tanpa ada pembicaraan. Setelah selesai makan malam Nayla membereskan meja makan dan mencuci piring dan gelas yang kotor. Dia mengerjakan pekerjaan rutin yang setiap hari dikerjakannya dengan perasaan senang.


Selesai mencuci piring dia hendak pergi ke ruang tengah untuk menonton tv tapi dilihatnya Reza masih duduk di meja makan sambil memperhatikannya. Nayla merasa heran karena biasanya begitu selesai makan malam Reza langsung pergi keluar dan larut malam baru pulang. Tapi malam ini Reza masih duduk manis di meja makan.


“Nayla, ada yang harus kita bicarakan,” ucap Reza.


“Tentang apa Mas?” tanya Nayla.


“Kamu duduk dulu karena ada yang akan aku sampaikan.”


Kemudian Nayla menarik kursi dan duduk tepat di depan suaminya. Dia hanya terdiam menunggu Reza membuka pembicaraan. Tetapi setelah beberapa saat Reza tidak buka suara juga membuat Nayla semakin penasaran.


“Katanya ada yang akan Mas sampaikan, ya udah bicara aja Mas. Aku siap mendengarnya,” ucap Nayla sambil memandang ke arah suaminya.


Reza langsung menatap Nayla seperti ada keraguan dalam hatinya untuk menyampaikan sesuatu pada Nayla. Akhirnya setelah ditunggu beberapa saat Reza kemudian buka suara.


“Nayla, besok aku menikah dengan Vera,” ucap Reza dengan nada agak berat.


Nayla yang sudah mempersiapkan mental sejak semalam hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan Reza yang begitu menyakitkan perasaannya. Ingin Nayla meluapkan tangisnya mendengar perkataan suaminya tapi Nayla yang sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi dia sudah siap menerimanya sekali pun Reza menikahi Vera.


Walaupun hatinya menangis tetapi di depan Reza, Nayla berusaha untuk tersenyum. ‘Aku harus kuat. Aku nggak boleh lemah,’ batin Nayla.

__ADS_1


“Oh ya, jam berapa Vera dibawa kemari Mas?” tanya Nayla seperti tidak ada nada sedih sedikit pun.


“Rencananya besok sore kami menikah dan habis maghrib kami langsung kemari,” jelas Reza.


“Oh gitu. Ya udah biar besok aku siapkan kamarnya. Besok kamar pembantu aku bereskan untuk dia jadi mas Reza tetap tidur sendiri di kamar.”


“Apa nggak sebaiknya dia tidur dengan aku di kamar utama?” tanya Reza.


“Mas sudah berjanji untuk bersikap adil, jadi supaya adil istri mas yang satu di kamar khusus tamu dan yang satu lagi di kamar pembantu. Karena kamar khusus tamu hanya satu dan sekarang aku yang menempati jadi Vera tidur di kamar pembantu.”


“Lalu kalau kita sudah dapat pembantu, gimana Vera. Akan tidur di mana dia.”


“Vera tetap tidur di kamar itu karena kita tidak akan mencari pembantu. Kami akan kerjasama nanti Mas, karena ada dua wanita di rumah ini. Hitung-hitung olahraga lah Mas,” ucap Nayla.


“Tapi apa Vera mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga?” ucap Reza masih ragu.


Reza yang mendengarkan ucapan Nayla akhirnya mengangguk saja. Dia sudah pasrah dengan keputusan Nayla yang tidak akan mencari pembantu dan semua pekerjaan rumah tangga akan dikerjakan berdua antara Nayla dan Vera.


“Terserah kamu aja deh mana baiknya,” ucap Reza.


Nayla bisa melihat sendiri bahwa Reza sepertinya sangat takut dengan Vera sehingga semua keputusan selalu memikirkan Vera.


“Nayla...” uca p Reza terputus.


“Ya Mas, ada apa lagi?”


Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Reza berkata lagi.

__ADS_1


“Maafkan aku sebelumnya kalau hal ini akan menyakitkan perasaan kamu.”


Mendengarkan kata maaf dari suaminya Nayla merasa sedih dan iba. Tiba-tiba dia merasa kasihan pada suaminya. Dari perkataan suaminya terlihat seperti ada sesuatu yang disembunyikannya. Sepertinya Reza merasa berat untuk menikah dengan Vera.


Nayla kemudian tersenyum pada suaminya. “Nggak apa-apa Mas, aku udah ikhlas kalau kamu menikahi Vera. Apalagi di dalam agama seorang suami boleh mempunyai istri sampai empat. Jadi selama itu diperbolehkan dalam agama aku dukung Mas. Hanya aku berharap pada mas Reza, mas Reza harus bersikap adil kepada kami. Dan nanti kalau rencana Mas dan Vera tercapai, aku juga ikhlas kalau harus dicerai,” jelas Nayla.


“Nayla, jangan pernah kamu ucapkan kata cerai lagi,” pinta Reza.


“Memangnya kenapa Mas?” tanya Nayla heran.


Reza tidak menjawab pertanyaan Nayla. Dia hanya diam saja.


“Bukankah rencana Mas dan Vera, setelah perusahaan papi Mas miliki, Mas akan menceraikan aku.”


“Nggak Nayla, aku nggak akan menceraikan kamu.”


“Kenapa Mas nggak mau menceraikan aku. Dari pada nantinya kami sering ribut lebih baik kita bercerai dan aku bisa menikah lagi dengan pria lain.”


Mendengar penjelasan Nayla, Reza langsung terkejut.


“Kamu mau menikah dengan siapa Nayla?” tanya Reza penasaran.


“Ya belum tau Mas. Yang pasti setelah mas Reza menceraikan aku, aku akan mencari pengganti Mas. Aku akan menikah juga dengan seorang pria yang benar-benar mencintai aku karena pernikahan kita sekarang ini adalah karena perjodohan. Jadi aku mau pernikahanku yang untuk kedua kalinya adalah pernikahan karena dasar cinta. Aku mau memiliki suami yang benar-benar mencintai aku.”


Nayla merasa heran sendiri dengan sikapnya yang begitu tegas dan tidak cingeng. Padahal batinnya sangat sakit tetapi dia berusaha untuk tetap kuat.


Reza hanya diam saja mendengarkan penjelasan Nayla. Dia bingung harus menjawab apa. Tiba- tiba Reza merasa takut akan kehilangan Nayla. Padahal saat dia membuat kesepakatan dengan Vera yang akan menceraikan Nayla kalau harta kekayaan papinya Reza jatuh ke tangannya pada saat itu sedikit pun Reza tidak pernah memikirkan perasaan Nayla

__ADS_1


__ADS_2