
Ketika terdengar azan subuh di mesjid Nayla langsung bangkit dari tidurnya. Dia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat suaminya. Vera terlihat belum keluar dari kamarnya sehingga Nayla langsung buru-buru mengetuk pintu kamarnya.
“Tok... Tok. Vera, ayo bangun...”
Mendengar ketukan keras di pintu kamarnya Vera pun bangkit dari tidurnya. Dia langsung membuka pintu kamarnya dan terlihat Nayla dengan wajah marah menatap ke arahnya.
“Ayo bangun, kita siapkan sarapan buat mas Reza,” pinta Nayla.
“Kamu aja yang membuatkan sarapan. Aku masih ngantuk.”
Kemudian Vera membalikkan badannya tetapi tangannya langsung ditarik oleh Nayla.
“Kita kan sudah buat kesepakatan bahwa pekerjaan di rumah ini kita berdua yang menghandle-nya.”
“Tapi kan udah aku katakan, aku masih ngantuk,” ucap Vera dengan nada berat karena masih ngantuk.
“Aku nggak peduli. Mau kamu masih ngantuk atau tidak, kamu tetap mempunyai kewajiban mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga ini. Ya udah, biar aku yang buat sarapan tapi kamu nanti yang menyapu dan mengepel rumah.”
“Aku nggak mau. Aku nggak biasa mengerjakan itu semua.” Vera berusaha mengelak.
“Kamu harus mau.”
“Nggak, aku nggak mau,” ucap Vera dengan nada keras.
Dia tetap bersikeras tidak mau mengerjakan pekerjaan itu.
“Kalau kamu melanggar aturan yang sudah kita sepakati bersama, maka kamu akan tau akibatnya. Sedikit pun kamu tidak akan mendapatkan harta kekayaan pak Mahendra. Tujuan kamu kemari kan hanya untuk mendapatkan harta kekayaan pak Mahendra.”
Vera diam saja tidak menanggapi perkataan Nayla karena dia mengira bahwa Nayla hanya mengancam saja. Saat keduanya sedang ribut tiba-tiba Reza keluar dari kamarnya.
“Ada apa ini, kenapa masih pagi buta sudah pada ribut,” tanya Reza yang baru keluar dari kamarnya.
“Vera tidak mau membuat sarapan dan aku suruh membersihkan rumah juga tidak mau Mas,” ucap Nayla sambil berlalu pergi ke dapur.
Reza hanya diam saja karena dia juga bingung menghadapi kedua istrinya yang selalu ribut. Sejak tadi malam Vera datang ke rumah ini dia sudah ribut dengan Nayla dan sekarang masih pagi buta sudah ribut lagi.
Mendengar suara Reza yang berdiri di depan kamar Vera, Vera kembali keluar dan langsung penarik tangan Reza. Reza langsung dibawanya ke kamarnya.
__ADS_1
“Kenapa tadi malam tidak kamu buka pintu kamar kamu, Reza?” tanya Vera.
“Aku capek Vera,” ucap Reza.
“Tapi kan, kamu harus ingat bahwa tadi malam seharusnya malam pertama kita.”
“Besok-besok kan masih bisa kita lakukan, nggak harus tadi malam.”
“Tapi aku nggak mau Reza. Aku mau sekarang.”
Vera langsung memeluk erat tubuh Reza membuat Reza sulit bernapas. Tapi dengan lembut Reza langsung melepaskan pelukan Vera membuat Vera merasa kecewa.
“Kenapa Reza...” tanya Vera heran.
“Aku mau mandi dan sebentar lagi akan berangkat kerja.”
“Kenapa kamu berubah sekarang Reza. Padahal sebelumnya kamu sangat perhatian sama aku.”
“Aku merasa tidak pernah berubah sama sekali.”
“Kamu berubah Reza. Kamu seperti sudah tidak mencintai aku lagi. Atau jangan-jangan kamu telah mencintai Nayla.”
“Reza.... tunggu aku.”
Akhirnya Reza membalikkan badannya dan menghadap ke arah Vera.
“Ada apa lagi Vera?”
“Aku ingin jawabanmu.”
“Jawaban apa?” tanya Reza heran.
“Jawab dulu pertanyaanku, kenapa kamu berubah begitu kita menikah. Kamu terlihat langsung berubah.”
“Aku capek Vera. Aku sangat lelah.”
“Lelah kenapa Reza?” tanya Vera lagi.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka ternyata menyatukan dua istri di dalam satu rumah membuat kepalaku semakin pusing.
“Kalau kamu merasa pusing, ya udah kita cari rumah kontrakan. Kita hidup berdua dan kamu tinggalkan Nayla.”
“Kenapa sih kamu selalu bicara tanpa pikir panjang,” ucap Reza marah.
“Pikir panjang gimana maksud kamu. Supaya tidak pusing makanya kita mengontrak rumah dan tinggal berdua sehingga Nayla tidak akan mengganggu kita,” ajak Vera.
“Apa kamu tidak mikir bahwa kalau aku keluar dari rumah ini maka Nayla akan menceritakan pernikahanku dengan kamu pada papi. Kalau sampai papi aku tau akan hal ini maka perusahaan papi tidak akan jatuh ke tangan aku. Mungkin bisa-bisa jatuh ke tangan Nayla. Makanya aku harap kamu bersabar. Kamu harus ikuti perkataan Nayla. Jangan hanya mengikuti kata hati kamu saja,” jelas Reza.
“Tapi aku tidak setuju dengan kemauannya. Dia hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaanku,” jelas Vera.
“Maksud kamu memikirkan perasaanmu gimana sih?” Reza tidak mengerti dengan penjelasan Vera.
“Yang dikatakan dia bahwa aku harus mengerjakan pekerjaan rumah sementara aku sendiri tidak pernah melakukannya.”
“Tapi kan mengerjakan pekerjaan rumah kan bersama-sama, bukan hanya kamu sendiri.”
Iya Reza. Tapi kan kamu tau sendiri bahwa aku tidak pernah melakukan itu di rumah tante aku. Di rumah tante aku selalu ada pembantu yang mengerjakannya. Jadi mana mungkin aku bisa mengerjakan pekerjaan itu di sini.”
“Makanya mulai dari sekarang kalau kamu menginginkan aku dan juga harta kekayaan papi, kamu harus selalu menuruti ucapan Nayla. Jadi kamu jangan terlalu egois yang memikirkan perasaan kamu sendiri.”
“Memangnya siapa yang egois. Aku nggak egois Reza.”
“Ya, kamu itu egois. Buktinya kamu tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah karena alasan tidak pernah mengerjakannya di rumah kamu. Itu artinya semua pekerjaan rumah dilimpahkan kepada Nayla. Sementara Nayla dan kamu itu sama sama-sama istri aku. Jadi kalau Nayla melakukan pekerjaan rumah, kamu juga harus melakukannya karena hak dan kewajiban kamu itu sama dengan Nayla,” jelas Reza.
“Tapi aku dengan Nayla berbeda Reza. Kamu menikahi Nayla karena terpaksa, sementara kamu menikahi aku karena dasar cinta.”
Akhirnya Reza tersenyum sinis mendengar ucapan Vera yang terlalu percaya diri.
“Perlu kamu ketahui Vera. Cinta itu tidak akan pernah kekal kalau kita tidak pernah bisa merubah sifat dan kelakuan kita yang jelek menjadi lebih baik.”
“Jadi maksud kamu sifat dan kelakuan aku jelek?”
Vera seperti tidak terima dengan perkataan Reza karena dia menganggap kalau apa yang sudah diperbuatnya baik. Vera yang keras kepala tidak pernah mendengarkan pendapat orang lain.
“Kamu renungkan sendiri apa yang baru aku katakan, jangan nantinya kamu menyesal karena penyesalan selalu datang belakangan.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan perkataan itu Reza langsung meninggalkan Vera yang masih berdiri terbengong melihat kepergian Reza.
Begitu masuk ke kamarnya Reza langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi pagi. Sambil berdiri di bawah shower Reza masih memikirkan ucapannya. Ada perasaan puas yang melanda pikiran Reza. Dia merasa puas karena telah mengeluarkan semua isi hatinya pada Vera dengan harapan Vera dapat menyadari kesalahnnya.