
Begitu keluar dari kamar mandi Nayla sudah tidak melihat suaminya lagi.
‘Pasti mas Reza sudah kembali ke kamarnya.’
Kemudian Nayla segera berpakaian dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat suaminya. Setelah sarapan selesai disajikan di meja makan, Nayla langsung masuk kamar suaminya untuk menyiapkan pakaian kerjanya. Terlihat Reza masih tertidur di tempat tidurnya. Biasanya kalau sudah jam segini Reza sedang mandi tapi sekarang Reza masih tertidur.
Kemudian Nayla berdiri di sampingnya dan hendak membangunkannyanya tapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya mengingat kejadian kemarin saat dia membangunkan Reza. Reza langsung marah karena merasa terkejut dan merasa terganggu karena dibangunkan istrinya. Sehingga mengingat kejadian itu Nayla sepertinya maju mundur untuk membangunkan suaminya.
Tiba-tiba Reza terbangun dan langsung memandang ke arah Nayla. Nayla yang melihat Reza tiba-tiba membuka matanya langsung terkejut dan kebingungan sementara Reza hanya tersenyum melihat reaksi Nayla seperti maling yang ketauan mencuri. Wajahnya langsung merah padam karena saat Reza membuka matanya Nayla juga sedang memandang wajah Reza. Akhirnya Nayla mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Kenapa kamu menatap aku seperti itu, apa karena aku terlalu tampan sehingga kamu lama-lama memandangku,” ucap Reza dengan nada datar.
Sebenarnya Reza merasa lucu melihat reaksi Nayla yang sepertinya sangat ketakutan makanya Reza sengaja berbicara seperti itu. Reza senang melihat reaksi Nayla yang tampak masih sangat lugu. Reza juga merasa bersyukur memiliki seorang istri yang masih sangat lugu seperti Nayla. Itu artinya Nayla belum pernah dijamah oleh pria manapun. Berbeda sekali dengan Vera yang sudah banyak pengalaman dalam hal bercinta. Bahkan Reza pernah satu kali melakukan hubungan intim dengan Vera dan ternyata Vera sudah tidak gadis lagi. Hal itu membuat Reza merasa sangat kecewa sehingga untuk hari-hari berikutnya ketika Vera mengajaknya untuk melakukan hal itu lagi Reza sempat menolak dengan alasan Reza takut untuk mengulangi perbuatan dosa itu lagi.
“Nanti ya Sayang kalau kita sudah menikah pasti kita akan mengulangi kembali kejadian itu.”
“Kenapa tidak sekarang Reza.”
“Aku takut Vera.”
“Takut apa Reza?” tanya Vera.
“Selain takut dosa, aku takut nantinya kamu hamil di luar nikah.”
“Kalau aku hamil, kita bisa langsung menikah dan papi kamu pasti langsung menyetujuinya.”
“Belum tentu Vera, kamu seperti nggak tau aja gimana kerasnya papi aku.”
Itulah yang diucapkan Reza untuk menolak secara halus keinginan Vera.
***
Pak Mahendra yang merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres sehingga Nayla belum hamil juga berniat untuk mengajak istrinya menginap di rumah putranya.
“Mami, besok kita nginap di rumah Reza ya?” ajak pak Mahendra pada istrinya.
“Memangnya ada apa Pi, kenapa kita harus nginap di sana. Bukankah sebaiknya mereka yang menginap di sini.”
“Papi hanya ingin kita tidur di rumah anak kita sekali-sekali sekalian mencari suasana baru.”
“Papi ini seperti anak muda aja.”
“Nggak apa-apa Mi, walaupun usia sudah tua pikiran harus tetap muda,” jelas pak Mahendra.
__ADS_1
Mendengar gurauan suaminya bu Minar langsung tertawa.
“Jam berapa kita pergi ke sana Pi?” tanya bu Minar lagi.
“Kita perginya sehabis magrib aja tapi jangan ngasihtau mereka dulu. Papi ingin membuat kejutan pada mereka.”
Akhirnya bu Minar menyetujui keinginan suaminya untuk menginap di rumah putranya.
***
Selesai magrib pak Mahendra dan istrinya segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah anaknya.
“Mami bawa apa ke sana?” tanya pak Mahendra.
“Maksud Papi bawa apa gimana?”
“Maksud papi, Mami ke sana bawa makanan apa?”
“Nggak ada Pi.”
“Paling tidak kita pergi ke rumah anak kita bawa buah tangan.”
“Bawa apa ya, mami pun bingung mau bawa buah-buahan apa.”
“Pokoknya terserah mami aja deh.”
“Atau bawa pepaya aja ya Pi.”
“Apa Mami nggak malu pergi sekali-sekali ke rumah anaknya hanya bawa buah pepaya. Paling tidak bawa buahan yang lebih mahal dari pepaya.”
“Kalau nanti mami bawa anggur ataupun apel takutnya perut Nayla tidak terbiasa makan buah-buahan itu, Pi makanya mami bawakan pepaya aja.”
“Kenapa sih Mami selalu menghina Nayla.”
“Bukannya mami menghina Pi, tapi apa yang mami ucapkan benar. Pastinya ketika hidup bersama ibunya, Nayla jarang makan buah anggur dan apel, paling yang dimakannya hanya pepaya.”
“Kenapa Mami bisa berkata seperti itu sih...”
“Papi kan tau sendiri kalau anggur atau apel harganya mahal, sementara kita kan tau sendiri bagaimana ekonomi mereka.”
Pak Mahendra yang mendengar istrinya selalu menghina menantunya merasa tidak suka.
“Ya udahlah terserah Mami aja. Hanya papi minta tolong, Mami beli buah-buahan yang memang disukai oleh Nayla. Habis maghrib kita kesana.”
__ADS_1
***
Sehabis magrib seperti biasa Reza pergi keluar malam. Begitu juga dengan malam ini. Nayla selalu ditinggalnya sendiri di rumah, bahkan terkadang sampai larut malam Reza baru pulang.
Begitu Reza keluar dari rumahnya tidak lama kemudian mobil pak Mahendra memasuki halaman rumah Reza membuat Nayla merasa heran. Nayla berpikir kalau suara mobil itu adalah mobil Reza yang pulang lagi.
‘Kenapa mas Reza pulang lagi, memangnya apa ada yang ketinggalan,’ batin Nayla.
Kemudian dia berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Tapi begitu pintu dibuka Nayla langsung terkejut karena yang datang bukan Reza tapi kedua mertuanya.
“Assalamualaikum...” ucap pak Mahendra saat tiba di depan pintu.
“Walaikumussalam...” jawab Nayla langsung menyalam tangan mertuanya.
“Gimana kabarnya Mami, Papi,” ucap Nayla.
“Alhamdulillah papi dan mami sehat. Kabar kamu gimana?” Gantian pak Mahendra bertanya.
“Alhamdulillah Nayla sehat Pi. Mami, Papi silakan masuk.” Nayla mempersilahkan papi dan mami mertuanya untuk masuk ke dalam.
Kemudian papi dan maminya masuk ke dalam rumah sambil menenteng tas pakaian yang ukuran sedang.
“Mari Pi biar Nayla bawa aja tasnya.” Nayla langsung mengambil tas pakaian itu dari tangan papi mertuanya.
“Papi dan Mami mau tidur di rumah kalian Nayla,” ucap pak Mahendra.
“Oh ya, syukurlah kalau Papi dan Mami mau nginap di rumah kami jadi rumah kami ramai.”
“Reza mana kok nggak kelihatan?” tanya bu Minar.
“Mas Reza sedang keluar Mi.”
“Keluar ke mana dia?” tanya bu Minar lagi.
“Nayla nggak tau Mi karena mas Reza kalau ditanya selalu mengatakan pergi ke rumah temannya,” jelas Nayla.
“Memangnya dia sering pergi keluar?” tanya Pak Mahendra ingin tau.
Nayla tampak bingung harus menjawab apa. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya dia langsung menjawab.
“Tidak terlalu sering Pi.”
Nayla merasa gemetar karena telah membohongi mertuanya. Tidak ada pilihan lain baginya selain harus berbicara bohong pada mertuanya demi kebaikan suaminya.
__ADS_1