
“Memangnya ngapain dia di rumah temannya?” tanya pak Mahendra lagi.
“Nayla juga nggak tau Pi karena kalau Nayla tanya mas Reza tidak mau menjawab,” jelas Nayla.
“Tapi ketika belum menikah Reza jarang keluar malam. Kenapa sekarang setelah menikah dia sering keluar malam?” ucap pak Mahendra bingung.
“Papi seperti tidak tau aja. Reza menikah dengan Nayla kan bukan karena cinta tapi karena perjodohan,” jelas bu Minar.
“Memangnya apa hubungannya dengan dia sering keluar malam?” tanya pak Mahendra.
“Ya jelas ada hubungannya Pi karena dia tidak mencintai istrinya makanya dia mencari kesenangan dengan seringnya keluar malam,” ucap bu Minar membuat Nayla semakin sedih karena selalu disalahkan oleh mertuanya.
“Mami, kenapa sih mami selalu bicara yang tidak mengenakkan seperti itu,” ucap pak Mahendra dengan nada marah.”
“Papi sendiri kenapa sih selalu menyalahkan mami.”
“Ya karena ucapan Mami selalu menyakitkan dan Mami kalau berbicara tidak pernah memikirkan sakit hati orang lain.”
“Tapi semua yang mami katakan ada benarnya Pi. Buktinya kan bisa Papi lihat sendiri.”
Nayla yang sejak tadi mendengarkan percakapan mertuanya merasa sedih apalagi ketika Mami mertuanya yang selalu menyudutkannya. Tapi Nayla yang sudah bertekad untuk tetap kuat dan tegar akhirnya ucapan mami mertuanya dianggapnya sebagai angin lalu yang tidak perlu dipikirkannya. Baginya yang terpenting papi mertuanya masih sayang padanya. Walaupun mertua perempuannya tidak menyukainya tapi Nayla tetap menghormatinya. Nayla juga tidak terlalu menanggapi omongan mertuanya yang perempuan karena akan menyebabkan dia semakin sakit hati. Nayla berusaha tetap sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah padanya.
Nayla langsung mengirim pesan wa kepada suaminya agar segera pulang.
{Mas Reza, kamu pulang cepat karena papi dan mami datang.}
Kemudian Reza menjawab. {Katakan saja aku sedang ke rumah temen ada urusan penting.}
{Tapi Mas, papi dan mami mau bermalam di rumah kita.}
{Mana mungkin papi dan mami bermalam di rumah kita.}
{Benar loh Mas, aku nggak bohong. Kalau Mas nggak percaya telepon aja papi atau mami sekarang.}
Setelah mendapat jawaban dari Nayla, Reza merasa heran. ‘Kenapa papi dan mami tiba-tiba datang dan ingin bermalam. Apakah ada yang ingin disampaikannya. Atau jangan-jangan Nayla telah menceritakan semua kelakuan aku padanya, termasuk aku sering keluar malam. Tapi apa mungkin Nayla mengadu pada Papi. Mungkin juga apalagi papi terlihat ingin sekali mempunyai seorang cucu. Berarti papi sudah tau bagaimana hubunganku dengan Nayla dan itu mungkin yang dikhawatirkan papi karena sampai sekarang Nayla belum juga hamil. Ah, dari pada aku pusing, lebih baik aku pulang aja dari pada nanti menjadi masalah.’
__ADS_1
Akhirnya setelah beberapa saat Reza memutuskan untuk pulang. Dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus jalanan yang masih ramai.
***
Nayla merasa bingung karena harus tidur satu kamar lagi dengan suaminya.
“Sebentar ya Papi Mami, Nayla bereskan dulu kamar untuk Mami dan Papi.”
Kemudian Nayla masuk ke kamarnya yang merupakan kamar khusus tamu. Dia langsung mengambil semua barang-barangnya yang ada di depan meja rias. Semua bedak dan perlengkapan lainnya langsung dimasukkan ke dalam plastik asoy dan hendak dibawa ke kamar suaminya.
Melihat Nayla yang keluar dari kamar belakang dengan membawa plastik yang berisi perlengkapan rias dan juga beberapa potong pakaian, Pak Mahendra merasa heran.
‘Kenapa Nayla membawa plastik yang berisi perlengkapan miliknya dan kemudian di bawahnya ke kamar depan. Apakah selama ini dia tidur di kamar belakang dan karena kami datang dia pindah ke kamar depan,’ batin pak Mahendra.
***
Pak Mahendra dan bu Minar masih menonton tv di ruang tengah sambil menunggu kepulangan Reza. Sejak dari tadi pak Mahendra memperhatikan kelakuan Nayla. Terlihat Nayla seperti sedang mengganti sepre di kamar belakang dan membereskannya cukup lama dan dia juga ada beberapa kali membawa beberapa barang dari kamar belakang ke kamar depan membuat pak Mahendra semakin curiga. Pak Mahendra khawatir kalau mereka selama ini pisah kamar.
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil Reza memasuki halaman rumahnya. Begitu Reza muncul di depan pintu langsung disambut pertanyaan oleh papinya.
“Reza dari rumah teman Papi. Kenapa Papi tidak kasih tau dulu kalau mau datang,” tanya Reza.
“Memangnya kenapa?” tanya pak Mahendra ketus.
“Ya biar Reza nggak keluar tadi,” jelas Reza.
“Berarti kalau papi kasih tau kamu, kalau kami mau datang kamu bisa nggak pergi?” tanya pak Mahendra yang merasa kesal.
“Iya Pi, pasti Reza nggak akan keluar malam.”
“Ya udah, mulai besok dan seterusnya anggap aja papi setiap malam datang ke rumah kamu, biar kamu nggak keluar malam lagi.”
“Ya nggak gitu juga sih Pi,” ucap Reza sambil tersenyum.
“Kamu apa nggak kasihan melihat Nayla sendirian di rumah sebesar ini,” tanya papinya.
__ADS_1
Reza hanya diam saja mendengarkan ucapan papinya. Sedikitpun dia tidak ada menjawab karena takut papinya akan bertambah marah.
***
Akhirnya malam ini Nayla tidur kembali bersama suaminya. Keduanya masih tampak canggung sehingga Reza tidur di sofa seperti sebelumnya. Padahal baru semalam Reza menggauli istrinya tapi sekarang dia masih belum mau tidur satu ranjang dengan istrinya. Dia masih ingat betul ucapan Vera yang melarangnya untuk tidur dengan Nayla dan Reza menurutinya. Apalagi dalam waktu dekat dia akan menikahi Vera.
***
Keesokan paginya selesai sarapan pak Mahendra dan istrinya langsung pamit pulang.
“Papi dan mami kenapa cepat kali pulangnya?” tanya Reza.
“Papi dan mami nggak mau mengganggu kalian,” ucap pak Mahendra.
“Mengganggu gimana maksudnya Pi?” tanya Reza tidak mengerti.
“Kalau ada papi dan mami pastinya kalian malu untuk bermesraan,” jelas pak Mahendra.
Reza dan Nayla hanya tersenyum mendengar candaan pak Mahendra. Selama ada kedua orang tuanya di rumah itu Reza tampak mesra pada Nayla. Dia selalu merangkul pundak istrinya membuat Mahendra merasa senang. Sementara bu Minar merasa kesal dengan kemesraan yang selalu ditampilkan Reza. Keduanya tampak mesra membuat bu Minar semakin kesal.
***
Begitu kedua orang tua Reza pulang, mereka kembali seperti semula. Tidak ada kemesraan yang tercipta di antara keduanya. Bahkan Reza tetap bersikap cuek pada Nayla sementara Nayla berusaha untuk bersikap mesra pada suaminya. Apalagi Reza sudah pernah menidurinya.
“Nayla, kamu siapkan masakan yang enak hari ini karena kita akan kedatangan tamu,” ucap Reza.
“Siapa yang mau datang Mas?” tanya Nayla.
“Vera mau datang kemari dan aku akan menjemputnya sebentar lagi.”
“Vera, kekasih kamu Mas?” tanya Nayla dengan perasan hancur.
“Benar dan dalam waktu dekat kami akan menikah.”
Tanpa terasa Nayla meneteskan air mata kesedihan.
__ADS_1
“Tapi Mas...” ucap Nayla terputus.