Aku Bukan Istri Bayaran

Aku Bukan Istri Bayaran
Cerai


__ADS_3

Reza langsung berjalan mendekati mereka.


“Kamu semalam pergi ke mana Vera, kenapa kamu pergi tidak memberitahu aku?”


“Aku nginap di rumah teman,” jawab Vera singkat.


“Seharusnya kamu memberi tau aku, jadi aku tidak bingung mencari kamu.”


“Kamu kan senang kalau aku pergi dari rumah itu. Kamu jangan mencari simpati di depan tante Lisa.”


“Vera, apa maksud kamu?”


“Di depan tante Lisa, kamu katakan kalau kamu bingung mencari aku. Padahal sebenarnya kamu senang kalau aku keluar dari rumah itu. Benarkan Reza?”


“Kamu jangan menuduh aku seperti itu.”


“Begini saja Reza. Dari pada kalian terus-menerus ribut, lebih baik kamu putuskan dari sekarang,” ucap tante Lisa.


“Maksud Tante apa?” tanya Reza bingung.


“Maksud Tante, sekarang kamu ceraikan istri pertama kamu supaya kalian berdua bisa hidup bahagia. Masalah perusahaan tak usah kalian harap lagi. Jadi jangan terlalu berharap besar pada perusahaan itu. Biarlah kamu tidak mendapatkan perusahaan itu, tapi kamu mendapatkan Vera. Tentu Vera lebih berharga dari sekedar perusahaan,” jelas tante Lisa dengan yakinnya mengucapkan hal itu.


Padahal dia tidak tau kalau sebenarnya rasa cinta Reza pada Vera sudah hilang. Mendengar pembicaraan mereka, dua pelanggan yang ada di situ langsung mencuri pandang ke arah mereka. Tentu hal ini membuat Reza merasa malu karena menjadi perhatian semua orang yang ada di situ.


“Vera, aku tunggu nanti malam. Kita bicarakan di rumah lagi. Saya permisi dulu Tante.” Reza langsung pamit meninggalkan Vera dan tante Lisa yang masih tergolong melihat kepergian Reza.


“Makanya kamu itu harus tegas Vera. Kamu lihat sendiri kan gimana Reza tidak bertanggung jawab. Enak aja dia pergi begitu aja tanpa bisa memutuskan masalah yang sedang kalian hadapi,” ucap tante Lisa dengan nada marah.


“Mungkin dia nggak mau berbicara di sini Tante makanya dia minta bicaranya di rumah nanti malam.”


“Yang penting kamu harus tegas. Kamu harus bisa mendesak dia agar segera menceraikan istri pertamanya itu.”


“Tapi gimana kalau dia tidak mau Tante.”

__ADS_1


“Kalau dia tidak mau menceraikan istrinya itu, ya tergantung kamu. Kalau kamu mau hidup seperti ini ya silakan, lanjutkan. Tapi kalau kamu tidak mau, ya udah tinggalkan aja dia. Masih banyak pria di luar sana yang lebih baik lebih, lebih kaya dari dia. Jadi kamu nggak perlu takut Vera, apalagi wajah kamu lumayan cantik. Pasti banyak cowok-cowok di luar sana tergila-gila sama kamu.”


“Tapi Vera nggak bisa hidup tanpa dia, Tante,” ucap Vera sedih.


“Kamu jangan bodoh Vera. Kamu jangan mau diperbudak oleh cinta. Coba kamu lihat hidup tante. Apa pernah kamu lihat tante sedih dan menangis karena cinta, nggak kan. Makanya kamu jangan bodoh. Kamu manfaatkan wajah kamu yang cantik itu untuk mencari pria yang lebih baik dari Reza.”


Akhirnya Vera pun diam saja saat tantenya berbicara panjang lebar tentang lelaki. Vera yang tau betul kehidupan tantenya yang sering bergonta-ganti pasangan, tidak ingin dia juga seperti tantenya. Vera ingin mempunyai satu suami sampai mati nantinya.


***


Begitu tiba waktu pulang Reza masih duduk di ruang kerjanya. Sejak tadi ketika ketemu Vera, Reza merasa bingung. Dia tidak sanggup menuruti kemauan Vera maupun tante Lisa untuk menceraikan Nayla. Apalagi saat ini Nayla senang mengandung anaknya.


‘Aku harus bisa menentukan sikap seandainya Vera bersikeras menyuruh aku menceraikan Nayla. Aku harus berterus terang pada Vera walaupun nantinya Vera akan marah besar kalau mengetahui Nayla mengandung anakku. Lebih baik aku berterus terang dari sekarang supaya Vera tidak memaksa aku untuk menceraikan Nayla. Lebih baik aku katakan saja pada Vera kalau aku akan lebih memilih Nayla dari pada dia. Tapi kalau dia mau hidup bersama Nayla maka aku akan tetap menerimanya karena ini sudah keputusanku sejak awal. Tapi aku nggak yakin Vera begitu saja menerima keputusanku. Pasti dia akan marah. Biarlah dia marah, yang penting masalah ini cepat selesai.’


Setelah Reza duduk beberapa saat di ruang kerjanya, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang dia sudah mempersiapkan diri kalau nantinya akan terjadi keributan antara dirinya dengan Vera.


***


Pak Mahendra yang baru sampai di rumahnya langsung menemui istrinya.


“Memangnya ada apa Pi, harus tidur di rumah Reza.”


“Papi ingin menyambut hari kebahagiaan ini.”


“Papi ini lebay kali sih.”


“Lebay gimana maksudnya?” tanya pak Mahendra.


“Terlalu lebay, terlalu berlebihan.”


“Ya wajar aja donk Mami. Papi kan udah nggak sabar pengen punya cucu dan sekarang menantu kita sedang hamil. Ya jelas papi bahagia.”


“Banyak loh orang yang akan mempunyai cucu tapi tidak seperti Papi.”

__ADS_1


“Ya udah terserah apa kata Mami. Yang penting malam ini kita nginap di rumah Reza. Jangan lupa nanti di tengah perjalanan beli makanan kesukaan Nayla. Sekarang papi mau mandi dulu.” Pak Mahendra langsung masuk ke dalam kamarnya untuk segera mandi.


Bu Minar yang tidak bisa menolak kemampuan suaminya akhirnya menurut saja meski pun dia tidak suka dengan keputusan ini. Tidak perlu waktu lama pak Mahendra yang sudah selesai mandi langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Reza.


***


Begitu Reza sampai rumahnya ternyata Vera sudah sampai di rumahnya juga. Terlihat Vera sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Begitu Reza masuk ke dalam rumah dia langsung menemui Vera yang sedang rebahan di sofa.


“Nayla mana Vera?”


“Mungkin ada di kamarnya.”


“Kamu udah lama sampai?” tanya Reza.


“Baru aja...”


Reza langsung berjalan menuju ke kamar Nayla.


“Nayla, yuk kita kumpul di ruang tengah,” ajak Reza pada istrinya.


Nayla langsung mengikut saja dan berjalan di belakang suaminya. Ketiganya langsung duduk di ruang tengah. Semuanya diam tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Akhirnya Reza memulai pembicaraan.


“Sekarang coba kamu katakan keinginan kamu apa Vera.”


Vera langsung menatap wajah Nayla seperti tidak suka dan kemudian kembali menatap wajah suaminya.


“Aku hanya mau menagih janji kamu, Reza,” ucap Vera singkat.


“Kan udah aku katakan sama kamu bahwa cinta itu tidak akan kekal. Kapan saja bisa berubah.”


“Aku nggak mau tau Reza. Aku hanya mau menagih janji kamu dan kamu harus menepatinya.”


“Jadi maksud kamu, aku harus menceraikan Nayla?” tanya Reza.

__ADS_1


“Iya... itulah yang harus kamu lakukan.”


Reza yang mendengar permintaan Vera semakin membenci Vera. Dari sini dia dapat menilai kalau Vera hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan Nayla. Sementara Nayla juga istrinya yang sah. Vera sepertinya tidak mempunyai hati lagi. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


__ADS_2