
“Tok, tok....” Kembali terdengar pintuk diketuk oleh seseorang.
“Masuk...”
“Ceklek...” Begitu pintu dibuka masuklah pak Mahendra ke ruang kerja Reza.
“Eh Papi. Ada apa Pi?” tanya Reza.
Pak Mahendra langsung duduk di depan anaknya.
“Minggu depan pesta pernikahan anaknya pak Raden. Kita diundang oleh pak Raden untuk menghadiri proses ijab kabul putrinya,” jelas pak Mahendra.
“Kalau nggak ada halangan Reza pasti datang Pi,” jawab Reza.
“Kamu harus datang bersama Nayla.”
“Tapi Pi...” ucap Reza terputus.
“Tapi apanya. Nayla sudah menjadi istri kamu, jadi kamu harus selalu membawa dia. Papi nggak mau sampai nanti dia tidak bahagia menikah dengan kamu. Kamu harus buat dia seperti permaisurimu dan papi mau kamu belikan dia pakaian yang bagus supaya derajat dia bisa terangkat setelah menikah dengan kamu. Dan kamu harus selalu memperhatikan dia. Kalau kamu menyukai penampilan Vera karena terlihat mewah, kamu buat juga Nayla seperti itu. Belikan dia pakaian yang mewah tapi jangan yang terbuka seperti Vera. Saat pesta di rumah pak Raden nanti Nayla harus tampil cantik dan mewah,” jelas pak Mahendra.
Sengaja pak Mahendra mengatakan hal itu pada Reza karena pak Mahendra tau wanita idaman Reza adalah wanita yang dari kelas atas yang selalu berpakaian serba mewah. Makanya Pak Mahendra menyuruh Reza membelikan pakaian yang mewah supaya Reza tidak mengingat Vera lagi.
“Oh ya Reza,” ucap pak Mahendra terputus.
“Ada apalagi Pi?” tanya Reza.
“Malam minggu besok kalian tidur di rumah ya biar besok paginya kita sama-sama berangkat ke rumah pak Raden,’ pinta pak Mahendra.
“Baik Pi,” jawab Reza.
Sebenarnya Reza malas mengajak Nayla ke pesta itu karena Reza beranggapan Nayla adalah gadis kampung dan udik yang tidak pantas hadir dalam pesta yang meriah seperti itu. Reza khawatir kalau Nayla ikut ke pesta itu akan membuat dirinya malu. Pasti perhatian semua orang akan tertuju ke arah Nayla karena terlihat sangat kampungan.
‘Kalau memang Nayla harus hadir di acara pesta anak Pak Raden, berarti aku harus membelikan pakaian yang mewah supaya aku tidak malu. Nayla harus tampil seperti kalangan kelas atas. Aku nggak mau kalau nanti dia menjadi perhatian orang yang datang di pesta itu karena penampilannya yang sangat kampungan,’ batin Reza.
***
Sengaja Reza pulang lebih cepat dari biasanya karena ingin membawa istrinya pergi ke mall untuk membeli gaun pesta. Nayla yang sedang menonton tv di ruang tengah merasa terkejut saat melihat suaminya pulang dari kantor. Dia langsung menghampiri suaminya dan mengambil tas dari tangan Reza.
“Kok tumben Mas cepat pulang?” tanya Nayla.
__ADS_1
“Kamu siap-siap biar kita ke mall,” ucap Reza dan langsung masuk ke kamar.
“Mau ngapain Mas ke mall?” tanya Nayla heran.
“Yang namanya mall, tempat belanja,” jelas Reza sedikit kesal.
“Berarti kita ke sana mau belanja Mas. Mau belanja apa?” tanya Nayla lagi.
“Kamu jangan banyak tanya. Kamu segera bersiap-siap biar sebentar lagi kita berangkat,” pinta Reza pada istrinya.
Nayla langsung masuk ke ke kamar mengikuti Reza yang sudah jalan di depannya. Terlihat Reza berdiri di depan cermin sambil membuka dasinya. Nayla yang melihatnya langsung membantu Reza untuk membukakan dasinya. Lalu Nayla berdiri tepat di depan Reza sehingga mereka saling berhadapan. Tangan Nayla dengan cekatan membuka dasi suaminya. Tanpa sengaja Reza menatap Nayla yang sedang membuka dasinya. Begitu tatapan Reza tertuju pada mata Nayla yang begitu lembut dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, membuat Reza memandang takjub akan kecantikan istrinya.
‘Ternyata Nayla begitu cantik dengan wajahnya yang sangat lembut dan kulit yang tampak bersih. Tapi aku nggak boleh sampai jatuh cinta pada Nayla.’
Kemudian Reza cepat-cepat memalingkan pandangannya ke arah lain. Setelah dasinya dibuka oleh Nayla kemudian Nayla membuka kancing kemeja suaminya tetapi buru-buru dicegah oleh Reza.
“Nggak perlu aku bisa buka sendiri,” ucap Reza dan langsung membalikkan badannya.
Walaupun Nayla mendapat perkataan yang kasar dari suaminya tetapi sedikit pun Nayla tidak pernah menunjukkan rasa kesalnya. Dia tetap tersenyum pada suaminya membuat Reza semakin penasaran.
‘Kenapa Nayla tidak pernah marah atau kesal ketika ucapanku terdengar kasar,’ batin Reza.
***
“Hati-hati ya mbak Nayla,” ucap bi Ijah.
Kemudian Reza dan Nayla pun berangkat ke mall. Begitu Reza dan Nayla pergi, bi Ijah langsung menelepon bu Minar untuk memberi informasi terbaru.
[“Ada apa bi Ijah?”] tanya bu Minar dalam teleponnya.
[“Begini Bu. Saya hanya mau memberi informasi pada Ibu.”]
[“Informasi apa bi Ijah?”] tanya bu Minar tidak sabar.
[“Ya biasalah Bu. Informasi kedekatan mas Reza dengan mbak Nayla.”]
[“Oh ya. Coba ceritakan informasi apa yang mau Bibi sampaikan.”]
[“Barusan saja mas Reza dan mbak Nayla pergi ke mall Bu.”]
__ADS_1
[“Pergi ke mall? Wanita kampungan itu diajak ke mall?”]
[“Benar Bu.”]
[“Mau ngapain mereka ke mall?”] tanya bu Minar kesal.
[“Ya nggak tau Bu. Mungkin mau shopping-shopping Bu, namanya juga pengantin baru. Kan bisa aja mas Reza mau membahagiakan istrinya dengan membawanya shopping ke mall.”] Sengaja bi Ijah membuat bu Minar merasa kepanasan dengan ceritanya.
Bu Minar yang mendengar penjelasan bi Ijah langsung terbakar emosi.
[“Memangnya wanita kampungan itu bisa shopping di mall?”]
Bi Ijah merasa geram mendengar ucapan bu Minar yang terlalu merendahkan Nayla. Bu Minar tampak marah sehingga dengan seenaknya dia menghina menantunya sendiri.
Mendengar ucapan bu Minar seperti itu bi Ijah semakin senang mengerjainya. Sengaja bi Ijah memanas-manasi bu Minar supaya bu Minar semakin kesal.
[“Pasti mas Reza akan mengajari mbak Nayla, Bu. Buktinya sekarang mas Reza kelihatan mulai sayang sama mbak Nayla.”] jelas bi Ijah.
[“Dari mana Bibi tau kalau Reza sudah mulai menyayangi istrinya.”]
[“Ya taulah Bu. Saya kan setiap hari melihatnya. Kalau mereka sudah keluar dari kamar pasti mereka senyum-senyum. Bibi aja terkadang iri melihatnya.”] Ucapan bi Ijah membuat kesal bu Minar.
[“Ini nggak bisa dibiarkan Bi. Bibi harus bisa mencegahnya.”]
[“Mencegah gimana maksudnya Ibu?”]
[“Bibi harus berusaha bagaimana caranya supaya Reza jangan sampai jatuh cinta pada istrinya.”] pinta bu Minar.
[“Saya mana bisa melarang mereka untuk saling mencintai Bu. Gimana pula kalau nanti mbak Nayla hamil, pasti mas Reza semakin sayang sama istrinya.”]
[“Itu nggak boleh terjadi.”] Jawab bu Minar tegas.
[“Gak boleh gimana Bu. Kalau Allah sudah berkehendak pasti tidak ada yang mustahil.”]
[“Benar juga kata Bibi. Ya udahlah kalau memang seperti itu saya sudah kehabisan akal sekarang.”] jawab bu Minar kesal.
‘Biar ibu tau rasa. Saya nggak akan mau mengikuti kemauan ibu, bahkan saya akan berusaha untuk mendekatkan mas Reza dengan mbak Nayla. Saya doakan supaya mbak Nayla akan segera hamil. Kalau nanti mbak Nayla benar-benar hamil pasti bu Minar akan semakin kesal karena niatnya untuk menikahkan Vera tidak berhasil,’ batin bi Ijah sambil tersenyum sendiri.
Bi Ijah merasa puas ketika melihat bu Minar tampak kesal.
__ADS_1