
“Ada apa Vera, ini kan sudah larut malam?” tanya Rendy dengan suara lembut.
Dengan suara terbata-bata Vera menjelaskan duduk perkaranya.
“Aku baru saja bertengkar dengan suami aku, Rendy.”
“Memangnya seberat apa sih masalah kamu sampai kamu harus pergi dari rumah?” tanya Rendy.
Vera hanya terisak-isak menahan kesedihannya.
“Ayo kamu masuk dulu.” Rendy kemudian merangkul pundak Vera dan mengajaknya masuk ke dalam.
Kemudian Rendy mengambilkan air putih dari dapur dan memberikannya pada Vera.
“Sekarang kamu minum dulu ya biar lebih tenang.” Rendy yang duduk di samping Vera kemudian mengelus kepala Vera dengan lembut.
Mendapat perlakuan yang begitu lembut dan sayang dari Rendy, Vera semakin sedih. Dia merasa sedih karena tidak mendapatkan kasih sayang seperti itu dari suaminya sendiri.
Walaupun Vera dan Rendy sudah berpisah beberapa tahun yang lalu, tapi Rendy tampak masih mencintainya. Hal ini bisa dilihat dari sikapnya dan perhatiannya pada Vera.
Setelah Vera lebih tenang akhirnya Rendy bertanya lagi.
“Sekarang coba kamu ceritakan masalahnya sampai kamu pergi dari rumah.”
“Aku udah nggak tahan lagi tinggal di rumah bersama suami aku, Rendy,” jelas Vera mencari simpati Rendy.
“Memangnya apa yang sudah dilakukan suami kamu terhadap kamu?”
“Suami aku sering menyakiti perasaanku,” jawab Vera.
Rendy tampak dengan tekun mendengarkan penjelasan Vera.
“Bukankah pernikahan kamu belum lama?” Rendy merasa heran juga.
“Memang iya Rendy. Hampir sebulan kami menikah tapi suami aku tiba-tiba berubah begitu kami menikah.”
“Memangnya kenapa, apa suami kamu selingkuh?”
Vera menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Lalu apa yang membuat dia tidak mencintai kamu lagi.”
“Dia lebih mencintai istri pertamanya dari pada aku.”
“Maksud kamu, suami kamu sudah punya istri sebelum kamu?” tanya Rendy terkejut.
Vera menganggukkan kepalanya lagi.
“Udah tau dia sudah punya istri, kenapa kamu mau menikah dengan dia?”
Akhirnya Vera pun menceritakan semuanya pada Rendy. Setelah selesai bercerita Rendy pun hanya bisa terdiam memikirkan solusinya. Dia tidak menyangka ternyata kehidupan Vera seperti ini. Rendy yang masih mencintai Vera merasa sangat kasihan melihat orang yang dicintainya hidup seperti ini.
“Inilah resiko yang harus kamu hadapi Vera meskipun itu menyakitkan. Apapun yang terjadi harus kamu terima dengan lapang dada karena ini sudah keputusan kamu sejak awal.”
“Tapi suami aku telah mengingkari janjinya Rendy. Ketika akan menikahi Nayla, Rendy sempat menolak dan berkata tidak akan pernah bisa mencintai Nayla. Tapi ternyata yang diucapkan Rendy semuanya bohong. Dia tidak menepati janjinya.”
“Itulah yang namanya cinta. Cinta itu bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi karena cinta itu datangnya dari hati kita yang paling dalam. Cinta itu tidak kekal Vera.”
“Jadi apa yang harus aku lakukan Rendy. Aku bingung sekaligus kesal,” ucap Vera sambil menggenggam tangan Rendy.
Kemudian Vera menyandarkan kepalanya di dada Rendy yang bidang. Rendy sebagai seorang lelaki yang sudah lama tidak mendapat kemesraan seperti ini dari istrinya, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia langsung memeluk pinggang Vera dan keduanya pun terdiam sesaat menikmati saat-saat kebersamaan. Tidak lama kemudian Rendy pun mulai berbicara lagi pada Vera.
“Tapi aku udah nggak tahan tinggal di rumah itu lagi Rendy.”
“Walaupun kamu udah nggak tahan, seharusnya kamu bicarakan pada suami kamu baik-baik dan kamu juga harus bisa menentukan sikap walaupun nantinya akan menyakitkan perasaan kamu.
“Maksud kamu apa Rendy?”
“Kalau kamu memang udah nggak tahan, lebih baik kamu minta cerai dari dia. Ngapain kamu pertahankan rumah tangga kamu sementara suami kamu sudah tidak mencintai kamu lagi. Lebih baik kamu mengalah karena mengalah itu bukan berarti kalah. Tapi mengalah untuk mencari kemenangan. Apa perasaan kamu nggak sakit mempunyai suami tapi harus berbagi. Tapi kalau kamu masih mencintai suami kamu dan masih mau mempertahankan rumah tangga kamu, ya jalan satu-satunya kamu harus bisa memperbaiki diri seperti permintaan suami kamu.”
“Tapi aku nggak yakin Rendy.”
“Kenapa kamu nggak yakin?”
“Karena aku melihat sendiri bagaimana suami aku mencintai Nayla. Apa mungkin suami aku bisa mencintai aku lagi?”
“Kenapa nggak bisa Vera. Semuanya pasti mungkin terjadi yang penting kamu yakin.”
“Tapi aku udah lelah Rendy. Aku udah menyerah dan malas untuk berusaha lagi.”
__ADS_1
“Kamu salah Vera. Kalau kamu masih mencintai suami kamu, kamu harus berusaha terus dan jangan pantang menyerah.”
“Rasanya percuma saja pengorbananku Rendy kalau akhirnya suami aku tidak akan pernah menceraikan Nayla karena dia sudah mencintainya,” jelas Vera.
Sengaja Vera mengatakan hal itu supaya Rendy bisa menerimanya kembali. Setelah sikap Reza berubah bersamaan dengan munculnya Rendy dalam kehidupan Vera, membuat Vera berharap lebih besar terhadap Rendy. Apalagi Rendy pernah bercerita kalau rumah tangganya sedang retak karena hadirnya orang ketiga yaitu istrinya ketahuan berselingkuh. Hanya saja saat ini mereka belum resmi bercerai. Istrinya kembali pulang ke rumah orang tuanya di Malaysia sedangkan Rendy kembali ke Indonesia. Sebenarnya Rendy sempat ingin menceraikan istrinya, hanya saja dia masih memikirkan anaknya yang masih sangat kecil. Jadi karena hancurnya perasaan Rendy setelah mengetahui perselingkuhan istrinya, kemudian dia memutuskan untuk pindah tugas ke kantor cabang yang ada di Indonesia.
“Rendy... ,” ucap Vera dengan nada manja.
“Hemm....”
“Aku malam ini tidur di rumah kamu aja ya,” pinta Vera.
“Gimana kalau suami kamu tau, pasti dia akan marah sama aku. Bisa-bisa aku akan dituntutnya karena telah menyembunyikan kamu di rumahku.”
“Tapi, semua ini kan kemauan aku.”
“Walaupun ini semua kemauan kamu, tapi aku akan dianggap bersalah karena telah menerima kamu untuk tidur di rumah ini. Apalagi di rumah ini hanya ada aku seorang diri. Gimana omongan tetangga di sekitar sini. Bisa-bisa aku akan didatangi masa karena hidup berdua tanpa ikatan pernikahan,” jelas Rendy.
“Aku akan sembunyi di dalam rumah aja Rendy. Aku nggak akan keluar. Pasti mereka nggak ada yang tau.”
Rendy pun berpikir sesaat. Dia merasa kasihan dengan Vera tapi dia juga merasa bingung dan ragu untuk menerima Vera bermalam di rumahnya. Dia khawatir kalau ada tetangganya yang melihatnya pasti orang akan menuduhnya yang macam-macam.
“Kalau saran aku, lebih baik kamu pulang aja. Kamu hadapi masalah kamu dan jangan sembunyi-sembunyi seperti ini. Bila perlu cepat-cepat kamu selesaikan masalah kamu jadi tidak berlarut-larut seperti ini.”
“Tapi aku nggak mau pulang ke rumah Rendy,” ucap Vera manja.
“Bagaimana pun kamu harus pulang ke rumah. Harus kamu selesaikan masalah kamu, mau dilanjut atau berhenti sampai di sini. Kalau kamu masih mencintai suami kamu dan menerima hidup seperti ini, mau nggak mau harus kamu jalani. Tapi kalau kamu sudah tidak tahan dengan kehidupan kamu sekarang ini, ya udah kamu putuskan bercerai.”
Vera yang mendengar penjelasan Rendy hanya bisa terdiam karena dia juga bingung dengan apa yang harus dilakukan.
“Baiklah Rendy, aku akan turuti saran kamu. Tapi untuk sementara ini aku ingin menenangkan diri dulu dan aku ingin tinggal di sini bersama kamu. Nanti setelah aku bisa memutuskan baru aku pulang ke rumah.”
“Maaf Vera, bukannya aku tidak mau menerima kamu tinggal di rumah ini. Tapi aku tidak mau orang di luar sana berpikiran yang nggak-nggak tentang kita. Atau begini aja, gimana kalau kamu tinggal di penginapan yang ada di dekat sini. Setelah kamu sudah merasa tenang dan bisa mengambil keputusan, baru kamu baru pulang ke rumah kamu. Kalau kamu mau, biar malam ini aku carikan temat penginapannya. Kamu juga jangan khawatir karena aku nanti yang akan membayar semuanya termasuk biaya hidup kamu selama di penginapan itu.”
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Vera memutuskan untuk menerima tawaran Rendy mencari penginapan di sekitar tempat tinggal Rendy.
“Tapi Rendy, aku nggak membawa baju ganti.”
“Kalau masalah itu besok pagi akan aku antarkan baju ganti buat kamu. Karena ini sudah larut malam dan toko-toko sudah pada tutup.”
__ADS_1
Akhirnya malam itu juga Rendy membawa Vera ke sebuah penginapan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.