Aku Bukan Istri Bayaran

Aku Bukan Istri Bayaran
Tuduhan


__ADS_3

“Aku nggak suka melihat kamu kecentilan seperti itu,” ucap Reza sedikit kesal.


“Kecentilan gimana maksud Mas?”


“Aku perhatikan sejak tadi kamu berbicara dengan Gibran banyak tersenyum, bahkan tertawa. Sepertinya kamu mencari perhatian dia.”


“Memangnya kenapa kalau aku mencari perhatian dia. Kita kan sudah buat kesepakatan bahwa kita tidak saling mencampuri urusan pribadi kita masing-masing. Aku nggak akan mencampuri urusan pribadi Mas, dan Mas juga nggak boleh mencampuri urusan pribadi aku.”


Reza yang mendengar ucapan Nayla merasa heran. Dia tidak menyangka Nayla yang selama ini dianggapnya pendiam ternyata bisa juga berontak. Akhirnya Reza pun hanya diam saja mendengar ucapan Nayla yang merasa tersinggung.


‘Sepertinya mas Reza membatasi semua yang kulakukan. Bahkan untuk berbicara dengan temen lamaku aja harus pakai aturan. Sementara ketika dia berbicara dengan Vera, dia tidak pernah memikirkan perasaanku sebagai istrinya,’ batin Nayla kesal.


Keduanya pun terdiam membisu. Tidak terdengar sedikit pun suara dari keduanya. Reza tampak kesal karena baru melihat Nayla ngobrol dengan teman lamanya. Sedangkan Nayla juga merasa kesal karena Reza terlalu ikut campur dalam urusannya.


Begitu sampai rumah, Reza langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Nayla langsung mengambil pakaian ganti buat Reza dan dirinya.


Tiba-tiba ponsel Reza yang ada di atas nakas berdering. Rasa ingin tau Nayla cukup besar sehingga dia melangkahkan kakinya mendekati ponsel itu. Ketika dilihatnya ternyata ada panggilan masuk dari ‘Cintaku.’


‘Memangnya siapa ‘Cintaku.’ Apa ‘Cintaku’ itu artinya Vera. Mungkin juga dia. Lebih baik aku pura-pura aja nggak melihatnya.


Kemudian Nayla cepat-cepat kembali duduk di tempat tidur untuk menyusun pakaian yang baru diambilnya dari lemari yang akan dijadikan pakaian gantinya.


Begitu Reza keluar dari kamar mandi dia langsung meraih ponselnya. Entah kenapa Nayla merasakan dadanya terasa sesak dan sakit ketika melihat suaminya memainkan ponselnya. Pikiran buruk langsung berkecamuk dalam pikirannya.


‘Pasti mas Reza mengirim pesan pada wanita itu,’ batin Nayla sambil memperhatikan suaminya.


Benar saja dugaan Nayla karena saat membaca pesan itu terlihat Reza tersenyum-senyum sendiri. Melihat hal ini perasaan Nayla semakin sakit. Ingin rasanya untuk marah tapi tidak ada alasan baginya untuk marah karena keduanya telah membuat kesepakatan bahwa tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing.


‘Biarlah mas Reza menjumpai Vera. Tapi suatu saat mas Reza pasti akan menyesal atas keputusannya yang masih berhubungan dengan Vera.’


Akhirnya Nayla yang merasa sakit hati berusaha untuk tetap tegar. Seperti janjinya pada dirinya sendiri yang tidak akan pernah marah meskipun suaminya telah melukai perasaannya.


‘Aku nggak mau kalau mas Reza mengetahui aku sakit hati atau cemburu karena nantinya mas Reza pasti akan merendahkan aku.’

__ADS_1


Ternyata Vera mengirimkan pesan pada Reza untuk menjumpainya di tempat biasa. Reza langsung menyetujuinya karena bi Ijah sore ini sudah kembali lagi ke rumah pak Mahendra.


***


Sekarang tinggallah Reza dan Nayla berdua di rumah mereka. Tentu hal ini membuat Reza merasa senang karena dia merasa bebas tidak ada lagi yang akan memantaunya atau mengadukannya pada


Nayla dan Reza tinggal berdua di dalam rumah yang telah diberikan pak Mahendra pada menantunya. Rumah itu adalah warisan dari pak Mahendra untuk Nayla karena memandang kebaikan ayah Nayla pada pak Mahendra ketika masih hidup. Pak Mahendra merasa telah berhutang nyawa pada almarhum ayah Nayla sehingga pak Mahendra memberikan rumah itu pada Nayla walaupun awalnya ditentang keras oleh istri dan anaknya yaitu Reza.


***


Vera yang merupakan kekasih Reza merasa tidak rela ketika kekasihnya Reza harus menikah dengan Nayla. Tapi Reza berusaha untuk meyakinkan Vera bawa pernikahannya dengan Nayla hanyalah sementara saja karena setelah tujuan Reza untuk mendapatkan harta kekayaan papinya berhasil maka Reza akan menceraikan Nayla dan menikah dengan Vera.


Hari ini setelah mendapat pesan wa dari Vera untuk menemuinya di tempat biasa, Reza pun menyetujuinya. Tanpa merasa bersalah dia pamit pada istrinya untuk keluar rumah.


“Nayla, aku mau keluar dulu dan mungkin malam baru pulang.”


Reza merasa bebas karena dia bisa kapan saja menemui Vera kekasihnya itu. Begitu juga dengan hari ini.


“Aku ada sedikit urusan,” jawab Reza.


“Urusan dengan kekasih Mas ya?” tanya Nayla sammbil tertawa.


“Kamu nggak perlu tau urusan aku,” ucap Reza dengan nada marah.


“Tidak masalah kamu mau ketemu siapa meskipun itu kekasih kamu, Mas. Tapi aku hanya mau tau kamu sekarang mau ke mana supaya ketika papi nanti bertanya aku bisa menjawabnya,” jelas Nayla.


“Katakan aja pada papi bawa aku pergi ke rumah teman aku.”


“Oh, ya udah kalau memang seperti itu. Mudah-mudahan aja papi nggak ada bertanya.”


Setelah pamit pada istrinya, Reza langsung melajukan kendaraannya menuju tempat biasa Reza dan Nayla bertemu.


***

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju cafe yang dimaksud Reza tidak habis pikir dengan reaksi Nayla ketika mengetahui kalau Reza akan menemui Vera.


‘Kenapa Nayla sepertinya tidak merasa cemburu. Padahal dia tau kalau aku akan menemui kekasihku. Apakah Nayla tidak punya perasaan sedikit pun padaku. Bahkan ketika aku akan naik ke mobil, Nayla melepas kepergianku dengan senyumnya yang khas. Sedikit pun dia tidak marah atau sakit hati,’ batin Reza heran.


Jalanan tampak ramai oleh pengguna jalan dengan cahaya lampu yang bersinar terang di setiap sudut jalan. Kerlap-kerlip lampu jalanan menambah keramaian kota.


***


Begitu sampai di Cindy Cafe terlihat Vera sudah menunggu di sana. Dia sedang duduk sendiri di meja yang tidak jauh dari petugas bagian kasir. Reza langsung berjalan mendekati Vera yang tampak serius dengan ponselnya. Bahkan kedatangan Reza tidak diketahuinya.


Setelah Reza duduk di hadapannya Vera langsung menoleh ke arah Reza.


“Mas Reza kenapa lama kali sih?” ucap Vera manja.


“Maaf Sayang. Tadi aku baru pulang undangan dan kemudian istirahat dulu makanya lama,” jelas Reza.


“Atau jangan-jangan Mas takut ya sama istri Mas saat akan kemari tadi.”


“Mas nggak takut sama dia Sayang. Mas hanya takut sama kamu, Sayang.”


“Bi Ijah gimana, tau kalau Mas akan kemari menemui aku?” tanya Vera sedikit khawatir.


“Bi Ijah sekarang sudah tinggal di rumah papi lagi,” jelas Reza.


“Kenapa bisa begitu Mas?” tanya Vera.


“Karena pembantu mami sekarang pulang kampung makanya bi Ijah yang menggantikannya di sana.”


“Jadi pembantu di rumah Mas nggak ada sekarang?”


“Nggak ada Sayang semuanya istri mas yang mengerjakan pekerjaan rumah.”


Vera yang memang malas dan tidak biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga merasa khawatir. Dia khawatir kalau tidak ada pembantu di rumahnya nanti maka dia nantinya yang akan capek.

__ADS_1


__ADS_2