
“Jadi gimana kalau nanti aku tinggal di rumah Mas, siapa nanti yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga?” tanya Vera lagi.
“Nanti kita cari pembantu yang baru ya Sayang. Yang penting kita bisa menikah dan tinggal serumah,” ucap Reza berusaha menenangkan Vera.
Ternyata Reza dan Vera sudah merencanakan dalam waktu dekat ini mereka akan menikah dan tinggal satu rumah dengan Nayla.
“Kamu apa udah siap Sayang, tinggal serumah dengan Nayla?” tanya Reza.
“Memangnya Nayla kenapa Mas, apakah dia galak?” tanya Vera khawatir.
“Memang sih enggak. Dia itu orangnya baik nggak pernah marah lagi,” ucap Reza sambil menyindir Vera.
“Oh, berarti Mas menyindir aku ya mengatakan Nayla baik, nggak pernah marah karena aku sering marah makanya Mas bisa mengatakan seperti itu,” ucap Nayla dengan nada marah.
“Kamu jangan berburuk sangka gitu donk Sayang. Mas nggak ada niat menyindir kamu. Mas hanya mengatakan yang sebenarnya tentang sifat Nayla.” Reza berusaha menenangkan Vera yang sedang kesal.
“Mas nggak perlu bohongi aku.”
Reza yang sudah paham betul sifat Vera yang mudah tersinggung dan suka emosi langsung mendekatinya. Dia kemudian mengelus rambut Vera sambil berbisik di telinganya.
“Nayla itu tidak ada apa-apanya dibanding kamu, Sayang. Jadi mulai sekarang kamu jangan cemburu kalau aku mengatakan tentang Nayla.”
“Siapa juga yang cemburu, aku nggak cemburu.” Vera berusaha untuk membela diri.
“Ya udah kalau kamu nggak cemburu dan nggak marah. Sekarang kamu harus tersenyum donk supaya hatiku bisa tenang.”
Mendengar rayuan Reza akhirnya Vera langsung tersenyum. Vera langsung menyandarkan kepalanya di pundak Reza dengan manja membuat Reza sangat senang.
“Reza, kapan kamu akan menikahi aku sih?” tanya Vera sudah tidak sabar.
__ADS_1
“Sabar ya Sayang. Kalau sudah tepat waktunya aku pasti akan menikahi kamu.”
“Selalu itu aja yang kamu katakan,” ucap Vera dengan nada kesal.
“Benar Sayang. Saat ini perusahaan papi sudah milik aku tapi belum sepenuhnya karena kepemilikan itu hanya di atas kertas. Sementara papi masih terlibat dalam kegiatan di perusahaan sehingga aku belum bisa mengabulkan permintaan kamu. Nanti kalau papi sudah tidak ikut campur di perusahaan itu dan sepenuhnya aku yang mengelola maka aku pasti menikahi kamu, Sayang.”
Melihat Vera yang cemberut Reza langsung mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Kemudian dia mencium pipinya membuat kekesalan Vera berangsur-angsur hilang.
“Kamu harus janji ya Reza.”
“Iya Sayang, aku pasti menepati janji aku,” bisik Reza di telinga Vera.
Reza yang terlalu mencintai Vera membuat mata hatinya menjadi buta. Semua keinginan Vera selalu diturutinya. Hal ini membuat Vera semakin melunjak dan gampang marah. Kalau melihat Vera sudah marah maka Reza akan bingung karena Reza khawatir kalau nantinya Vera akan meninggalkannya.
Walaupun Reza sudah tau sifat Vera yang sebenarnya yaitu sering marah dan banyak menuntut, tapi Reza tetap mempertahankan hubungan itu selama Vera selalu setia padanya. Karena bagi Reza kesetiaan adalah yang utama. Reza tidak pernah melihat Vera dekat dengan pria lain membuat dia semakin mencintainya karena dia menganggap Vera setia.
Reza yang sedang mengalami frustasi akibat putus dengan Rania akhirnya menerima Vera sebagai kekasihnya pengganti Rania. Sejak saat itu kasih sayang Reza berpindah pada Vera. Semua kemauan Vera selalu dituruti Reza karena Reza takut nantinya akan ditinggal Vera sama seperti saat berpacaran dengan Rania.
Sejak bi Ijah kembali ke rumah pak Mahendra, Nayla mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun untuk menyiapkan sarapan pagi buat suaminya. Setelah itu dia menyiapkan pakaian kerja dan juga sepatunya. Terlihat Nayla sangat menikmati pekerjaannya walaupun terkadang tidak dihargai oleh suaminya. Nayla selalu berusaha untuk bersikap baik pada suaminya meskipun sambutan dari suaminya sering menyakitkan perasaannya.
***
Pagi ini Nayla sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Setelah itu dia akan masuk ke kamar suaminya untuk menyiapkan pakaian kerjanya.
Sejak bi Ijah kembali ke rumah pak Mahendra, Reza dan Nayla tidak satu kamar lagi. Nayla tidur di kamar khusus tamu. Kebetulan di rumah mereka ada tiga kamar. Satu kamar utama yang sekarang di tempati Reza, satu kamar khusus pembantu dan satu lagi kamar khusus tamu.
Begitu masuk kamar Reza, terlihat Reza masih tertidur nyenyak di tempat tidurnya padahal biasanya jam segini Reza sudah terbangun. Nayla yang merasa khawatir kalau Reza akan terlambat pergi ke kantor akhirnya membangunkannya.
“Mas... mas Reza bangun, udah siang nanti mas terlambat ke kantor.”
__ADS_1
Melihat Reza tidak terbangun juga akhirnya Nayla menepuk lengan suaminya.
“Mas... mas bangun...”
Mendengar suara Nayla, Reza terkejut dan langsung terbangun.
“Kamu mengganggu tidur aku aja!” bentak Reza.
“Maaf Mas, aku takut Mas nanti terlambat masuk kantor.”
“Mau terlambat atau tidak itu urusan aku. Kamu nggak perlu ikut campur dalam hal ini,” ucapan Reza sangat pedas membuat Nayla merasa sedih.
Dia langsung berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian kerja suaminya.
“Ya Allah, berilah aku kekuatan dalam menghadapi suami aku,” batin Nayla sambil mengelus dadanya.
Perasaannya sangat sedih mendapat perlakuan dari suaminya yang kasar. Tapi Nayla sudah bertekad, apapun yang dialami meskipun itu sangat menyakitkan dia harus tetap kuat dan tegar. Dia tidak mau lemah di depan suaminya. Bahkan ketika air matanya menetes buru-buru dia menghapusnya dengan ujung jarinya karena dia tidak mau kalau sampai Reza melihatnya.
Setelah Nayla menyiapkan baju kerja suaminya, dia kembali keluar kamar untuk membereskan dapur yang masih berserakan karena baru selesai memasak sarapan untuk suaminya. Sambil menunggu Reza keluar dari kamarnya Nayla duduk di meja makan. Tapi begitu Reza keluar dari kamar dia langsung berjalan ke teras rumahnya untuk memakai sepatu. Nayla yang merasa heran karena Reza tidak sarapan. Kemudian dia pergi ke teras mendekati suaminya.
“Mas, nggak sarapan dulu?” tanya Nayla.
“Apa kamu nggak tau ini udah jam berapa.” ucap Reza dengan ada marah.
Nayla langsung terdiam. Setelah selesai memakai kaos kaki dan sepatunya Reza langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya. Kemudian Nayla berusaha untuk mencium tangan suaminya seperti biasanya, tetapi langsung ditepis oleh Reza.
“Apa nggak tau kamu, kalau aku sudah terlambat,” ucap Reza sambil berlalu pergi.
Mendengar ucapan suaminya Nayla merasa sedih.
__ADS_1