
Vera yang sudah dijanjikan oleh Reza akan dinikahi merasa sangat bahagia. Dia membayangkan kalau menikah dengan Reza pasti semua harta kekayaan Reza akan jatuh ke tangannya. Sehingga Vera berusaha keras untuk segera dinikahi Reza.
Vera adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggal dalam kecelakaan ketika dia masih kecil. Kemudian dia diasuh oleh kakek dan neneknya dari pihak ibunya. Tapi ketika Vera duduk di kelas satu SMP, kakeknya meninggal dan ketika dia duduk di kelas dua SMA neneknya meninggal juga. Sejak saat itu Vera ikut dengan tantenya yang merupakan sepupu ayahnya. Tapi sayangnya sepupu ayahnya ini seorang janda dan sering pergi dengan pria hidung belang sehingga Vera yang pada saat itu masih SMA tidak pernah diperhatikan oleh tantenya itu. Kalau masalah uang selalu dipenuhi oleh tantenya itu. Apa pun yang diminta oleh Vera pasti akan dibelikan. Tapi kalau untuk kasih sayang, Vera tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari tantenya itu karena tantenya selalu sibuk dan jarang di rumah. Hal itu yang membuat Vera menjadi pribadi yang sangat egois dan gampang marah. Kalau kemauannya tidak dituruti maka dia akan marah. Vera juga terkenal sebagai gadis yang matre sejak SMA. Dia selalu gonta ganti kekasih dan semuanya berasal dari keluarga yang berada.
Begitu juga ketika berpacaran dengan Reza, semua kebutuhan pribadinya selalu dicukupi oleh Reza. Hal itulah yang membuat Vera semakin besar kepala karena sekali pun Reza tidak pernah menolak keinginan Vera.
Kemudian Vera membicarakan tentang pernikahannya pada tantenya.
“Apa sudah kamu pikir matang-matang Vera?” tanya tantenya.
“Sudah Tante. Vera sudah memikirkannya,” jawab Vera.
“Sudah kamu pikirkan juga nantinya ketika kamu dimadu. Kamu jangan hanya memikirkan yang enaknya aja, tapi kamu juga harus mikir sisi buruknya. Yang namanya dimadu nggak ada enaknya Vera, karena tante sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya kita dimadu. Setiap hari bawaan kita cemburu apalagi kalau melihat suami kita dekat dengan istri pertamanya. Pasti perasaan kita sakit walaupun kita tau dia sudah sah menjadi suaminya. Tapi hati kecil kita tidak bisa menerimanya. Wanita manapun pasti tidak mau berbagi suami, makanya tante memutuskan untuk bercerai dari pada punya suami tapi harus berbagi. Nggak ada enaknya Vera. Lebih enak kehidupan tante seperti sekarang ini. Nggak ada ikatan yang penting uangnya banyak karena hidup ini hanya sekali Vera jadi harus pintar-pintar kita menikmatinya,” jelas tantenya memberikan nasehat.
“Tapi Reza sudah berjanji Tante pada Vera kalau semua harta kekayaan papinya sudah jatuh ke tangannya maka dia akan menceraikan istrinya.”
“Apa memangnya segampang itu untuk bercerai Vera. Gimana kalau istrinya itu nantinya hamil, pasti dia tidak akan menceraikannya. Dan bagaimana pula kalau kamu juga hamil, dia pasti tidak akan menceraikanmu juga. Akhirnya dia akan memiliki dua istri untuk selamanya. Kamu bayangkan sendiri bagaimana kehidupan nantinya mempunyai suami tetapi harus berbagi kasih sayang kepada istrinya. Nggak enak Vera, nggak enak. Tante lah yang tau karena tante yang sudah merasakannya. Jadi saran tante, mulai dari sekarang kamu pikir-pikir dulu sebelum menyesal nantinya.”
Vera yang sudah bulat tekadnya untuk menikah dengan Reza tidak bisa mendengarkan ucapan tantenya lagi. Ucapan tantenya dianggap hanya angin lalu karena bagaimana pun Vera sudah bertekad untuk menikah dengan Reza. Tujuan utama Vera menikah dengan Reza adalah untuk mendapatkan harta kekayaan pak Mahebdra. Harta itulah yang selalu diincarnya.
Vera yang sudah tidak memiliki orang tua, sudah tidak ada lagi yang menjadi panutannya sehingga semua tindakannya diputuskan sendiri. Dia juga tidak pernah mau mendengarkan ucapan tantenya. Akhirnya tantenya menerima keputusan Vera untuk menikah dengan Reza meskipun dia kurang menyetujuinya.
__ADS_1
Tantenya masih menyuruh Vera untuk berpikir-pikir lagi dalam waktu satu bulan ini sebelum pernikahan digelar.
***
Pulang dari kantor wajah Reza terlihat sangat kusut sehingga Nayla tidak berani untuk bertanya. Begitu masuk ke dalam rumah, Nayla langsung mengambil tas kerja Reza. Kemudian Reza masuk ke dalam kamar dan langsung pergi mandi. Sedikit pun tidak ada berbicara kepada istrinya. Nayla yakin kalau hati suaminya sedang tidak enak hari ini. Mungkin karena ada masalah kerjaan di kantor sehingga Nayla harus pintar-pintar mengambil sikap.
Setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya Nayla langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Nayla yang memang sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah termasuk memasak tidak membuatnya merasa berat. Dia melakukannya dengan senang apalagi ketika melihat suaminya makan yang dimasaknya dengan lahap. Setiap hari sengaja Nayla menanyakan pada suaminya makanan yang harus dimasak dan yang disukai suaminya. Sehingga Nayla masak sesuai dengan permintaan suaminya. Begitu juga dengan hari ini dia memasak makanan yang sudah dipesan suaminya tadi pagi.
***
Selesai magrib Nayla langsung menyiapkan makan malam buat suami.
“Mas, makan malamnya udah siap ayo kita makan,” ajak Nayla.
Nayla yang melihat suaminya akan pergi lagi langsung bertanya.
“Mas mau pergi ke mana?”
“Bukan urusan kamu aku mau pergi ke mana. Kamu urusi aja urusan rumah.”
“Memangnya kenapa aku nggak boleh tau?”
__ADS_1
“Kita kan sudah buat kesepakatan bahwa jangan pernah mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kamu harus ingat itu,” ucap Reza dengan nada marah.
“Tapi Mas, aku kan istri kamu. Jadi aku berhak untuk tau kamu pergi ke mana, karena aku takutnya nanti...” ucap Nayla terputus.
“Papi, maksud kamu?”
“Benar Mas karena biasanya papi sering menelpon aku dan menanyakan keberadaan kamu semenjak bi Ijah tidak tinggal di sini lagi.”
“Kalau masalah itu kamu harus pintar-pintar menjawab. Kamu jawab aja aku di rumah, kan gampang. Jadi nggak perlu masalah kecil seperti itu aja kamu persulit.”
“Aku takut Mas berbohong pada papi.”
“Memangnya kamu takut apa?”
“Aku takut nanti kualat Mas kalau kita membohongi orang tua kita.”
Mendengar ucapan Nayla, Reza langsung tertawa geli.
“Kamu jangan sok suci deh, udah terserah kamu mau jawab apa. Yang penting aku mau keluar dulu.”
“Tapi Mas, kenapa setiap malam selalu keluar?” tanya Nayla lagi.
__ADS_1
“Kan udah aku katakan ini bukan urusan kamu, jadi nggak perlu pusing kamu memikirkannya. Cukup urusi aja urusan kamu sendiri, nggak perlu kamu urusi urusan aku.”
Akhirnya Nayla langsung terdiam dan tidak lagi bertanya, sedangkan Reza langsung berlalu pergi. Walaupun Nayla merasa kesal dengan sikap suaminya tapi dia tetap berusaha untuk tetap sabar karena dia yakin ini adalah ujian dari Allah yang harus dihadapinya dengan lapang dada meskipun sangat sakit.