
“Kan udah pernah aku katakan sama kamu bahwa pernikahan kita hanya di atas lembar kertas dan kita tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadi aku walaupun aku menikahi Vera. Mau nggak mau kamu harus siap menerimanya dan setelah menikah Vera akan tinggal di sini bersama kita.”
Bagai disambar petir di siang hari begitu mendengar ucapan Reza yang sangat menyakitkan.
‘Kenapa mas Reza sepertinya tidak punya hati. Dia tidak memikirkan perasaanku. Walaupun pernikahan kami hanya di atas selembar kertas tapi aku adalah istrinya yang sah dan berhak atas dirinya.’
Nayla sepertinya tidak dapat berpikir lagi. Perasaannya sangat sakit dengan keputusan Reza yang akan menikahi Vera bahkan akan tinggal satu rumah dengan dirinya.
***
Begitu Reza pergi, Nayla langsung masuk kamar dan menumpahkan isi tangisnya di atas tempat tidur. Dia tidak menyangka bahwa kehidupannya akan seperti ini.
***
Setelah puas menangis kemudian Nayla pergi ke dapur untuk masak makanan siang seperti yang diminta Reza. Tetapi ketika sampai di dapur dia berubah pikiran.
‘Untuk apa aku menyiapkan makanan buat Vera sementara dia bukan siapa-siapa aku. Kalau untuk mas Reza mungkin aku mau menyiapkannya, tapi kalau untuk Vera aku nggak akan mau. Biar aja mereka makan apa adanya. Mereka akan aku masakan supermi nanti. Aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah di depan mereka. Nanti mereka akan semakin menyepelekan aku.’
Kemudian Nayla tidak jadi masak. Kemudian dia membersihkan seluruh ruangan yang ada di rumahnya. Semuanya disapu bersih dan kemudian dipel. Setelah itu dia mencuci bajunya dan baju Reza di mesin cuci. Tidak lama kemudian setelah pekerjaan rumah selesai Nayla duduk santai di ruang tengah sambil menonton tv.
Walaupun mata tertuju ke layar tv, tapi pikiran Nayla entah ke mana. Membayangkan suaminya akan menikah lagi membuat dia merasa sedih dan kecewa. Dia sedang memikirkan apa yang harus dilakukan supaya Reza membatalkan niatnya untuk menikahi Vera.
Sejak tadi Vera memikirkan bagaimana caranya membatalkan pernikahan Reza, tapi sampai sekarang dia belum menemukan solusinya.
***
Selesai sholat zuhur Nayla berdoa cukup lama meminta kepada Allah supaya niat Reza di batalkan.
__ADS_1
‘Ya Allah ya Tuhanku. Aku mohon kepada-Mu. Bantulah aku dalam menyelesaikan masalah yang sedang aku hadapi sekarang ini. Dalam waktu dekat ini mas Reza akan menikahi Vera kekasihnya. Aku mohon berilah jalan keluar yang terbaik. Kalau memang akan menghancurkan rumah tanggaku nantinya batalkanlah pernikahan itu. Tapi kalau dengan pernikahan itu rumah tanggaku akan semakin baik maka aku akan ikhlas menerimanya. Ya Allah, berilah kekuatan padaku dalam menghadapi masalah ini.’
Nayla tidak kuasa menahan tangisnya saat mendengar suaminya akan menikah. Perasaannya sangat sakit. Gimana nanti kalau memang Reza benar-benar menikah, Nayla tidak bisa membayangkan apa jadinya dengan dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil Reza memasuki halaman rumahnya. Nayla yang merasa penasaran buru-buru melipat mukenanya dan dia langsung berjalan ke ruang tamu. Belum sempat membukakan pintu depan, pintu sudah dibuka sendiri oleh Reza. Reza terlihat masuk ke dalam diikuti oleh seorang wanita yang bernama Vera. Nayla yang sudah sejak tadi mempersiapkan mentalnya untuk bertemu Vera berusaha untuk kuat walaupun hatinya remuk redam. Perasaannya sangat sakit dan ingin langsung menumpahkan isi tangisnya, tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus kuat, tidak boleh lemah di depan mereka.
Begitu Vera masuk ke dalam langsung disambut Nayla dengan senyum ramah.
“Oh ini yang namanya Vera. Silakan masuk Vera. Beginilah kondisi rumah mas Reza,” ucap Nayla dengan nada ramah.
Reza yang melihat reaksi Nayla sedikit pun tidak marah atau pun sakit hati merasa heran sendiri. Padahal saat akan pergi tadi Reza sempat melihat Nayla menangis mendengar dia akan menikahi Vera. Tapi sekarang Nayla tampak ceria tidak menunjukkan rasa kecewanya. Bahkan dia bersikap ramah pada Vera, sementara Vera sendiri menyambutnya dengan sangat cuek.
“Nayla, udah disiapkan makan siang untuk kami,” tanya Reza pada istrinya.
“Udah Mas, baru saja aku siapkan. Ayo Vera kita makan,” ajak Nayla yang langsung berjalan ke meja makan.
Kemudian Reza dan Vera menyusul di belakangnya. Begitu sampai meja makan Reza duduk di tempat biasa tepat di depan Nayla sedangkan Vera duduk di samping Reza. Kemudian Nayla mengambilkan piring buat Reza dan Vera. Sengaja Nayla tidak mengambilkan nasi buat suaminya membuat Reza merasa heran. Padahal biasanya Nayla selalu mengambilkan nasi beserta lauknya ke dalam piringnya, tapi untuk hari ini Nayla hanya memberikan piring kosong pada suaminya.
Kemudian Nayla membuka isi mangkok yang ada di hadapan mereka yang berisi supermi yang masih hangat dan satu mangkok lagi yang berisi telur dadar. Melihat isi kedua mangkok itu Reza langsung terkejut sedangkan Nayla tersenyum puas melihat Reza yang tampak marah.
“Makanan ini yang kamu sajikan untuk kami...” ucap Reza dengan nada marah.
“Memangnya ada yang salah Mas?” tanya Nayla pura-pura bodoh.
“Tadi kan aku suruh kamu menyiapkan masakan yang istimewa karena Vera mau datang,” ucap Reza lagi.
“Memangnya Vera ini siapa aku. Dia bukan siapa-siapa aku, jadi aku nggak perlu menyiapkan masakan untuknya.”
__ADS_1
“Tapi aku suami kamu Nayla.”
“Aku tau Mas suami aku makanya aku selalu menyiapkan makanan buat Mas. Tapi kalau untuk Vera aku nggak mau karena aku bukan pembantu dia,” jelas Nayla tidak mau kalah.
Melihat Nayla yang begitu berani membuat Reza merasa heran sendiri. Vera yang sejak tadi tidak buka suara akhirnya merasa geram dan marah.
“Aku sudah jauh-jauh kemari hanya diberi supermi. Lebih baik aku nggak makan,” ucap Vera.
Vera langsung bangkit dari duduknya dan tidak jadi makan. Melihat Vera yang marah dan berjalan ke ruang tamu Reza langsung mengejarnya.
“Sayang... kamu jangan seperti ini donk. Kita makan aja ya kebetulan aku udah lapar nih.”
“Ya udah kalau kamu mau makan, makan aja sendiri. Aku nggak mau karena nafsu makan aku langsung hilang melihat makan dengan supermi.”
“Ya udah kalau kamu nggak mau makan, aku makan dulu ya.”
Reza kembali ke meja makan untuk makan. Nayla yang sejak tadi makan hanya cuek saja melihat kedatangan Reza. Sedikit pun dia tidak ada mengambilkan makanan buat suaminya seperti biasanya.
“Nayla...” panggil Reza.
Nayla hanya melirik sebentar ke arah Reza.
“Ada apa Mas?” tanya Nayla.
“Aku mau makan.” Sengaja Reza berkata seperti itu supaya Nayla mengambilkan makannya.
Nayla yang sangat kesal dengan Reza berusaha untuk menolak.
__ADS_1
“Apa nggak Mas lihat aku sedang makan. Mas kan bisa ngambil sendiri. Kenapa nggak menyuruh Vera mengambilkan,” ucap Nayla ketus.
Mendengar ucapan Nayla, Reza malas ribut dan akhirnya dia ngambil makan sendiri. Keduanya makan di meja makan. Reza yang sangat lapar langsung menyantap makanan itu walaupun hanya dengan supermi dan telur dadar. Nayla hanya bisa tersenyum dalam hati dan merasa puas karena telah membuat Reza dan vera.