
Sampai di rumah terlihat Nayla sedang menonton TV di ruang tengah sendirian. Begitu melihat kedatangan Reza dan Vera, buru-buru Nayla menyambutnya.
“Baru sampai Mas?” tanya Nayla.
“Vera, ayo silakan masuk,” ucap Nayla ramah.
Reza hanya diam saja sambil memandang istrinya, Nayla. Reza merasa sedih ketika melihat wajah Nayla yang teduh dan lembut.
‘Maafkan aku, Nayla. Aku baru menyadari ternyata aku selama ini selalu egois tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku hanya memikirkan perasaan cintaku terhadap Vera. Ternyata cintaku yang dulunya begitu besar kepada Vera tiba-tiba berubah seketika ketika aku melihat kepribadianmu yang bertolak belakang dengan Vera. Kamu adalah wanita yang kuat dan mandiri. Sekali pun kamu terluka tetapi tidak pernah kamu perlihatkan. Kamu selalu tersenyum di depanku sementara aku tau bahwa kamu sangat terluka. Maafkan aku Nayla kalau telah membuat kamu terluka. Aku tidak punya pilihan selain harus menikahi Vera karena sudah terlanjur janji padanya,’ batin Reza sedih.
Reza, begitu masuk ke dalam rumah langsung duduk di ruang tamu. Dia merasa bingung sendiri dengan situasi ini. Sedangkan Vera sibuk menurunkan kopernya dari bagasi mobil.
Setelah copernya diletakkan di teras dia langsung mendorong bag dorong itu ke dalam rumah sedangkan Reza masih duduk di ruang tamu sambil termenung. Sedikit pun dia tidak membantu Vera memasukkan koper itu. Vera tanpa merasa bersalah langsung mendorong bag dorongnya ke kamar utama yang merupakan kamar Reza tetapi langsung dihalangi oleh Nayla.
“Vera... kamar kamu bukan yang ini, tapi yang itu.” Nayla menunjuk ke kamar pembantu.
“Maksud kamu, kamar yang untuk pembantu?”
“Iya. Memangnya kenapa.”
“Kamu jangan menghina aku ya, Nayla. Aku juga istrinya Reza,” ucap Vera marah.
“Jadi kalau istrinya Reza memangnya kamu mau apa?” Nayla berusaha melawannya.
“Ya aku harus tidur ke kamar dia.”
“Dengar ya. Aku istri pertama Reza jadi aku yang mengatur semua urusan di rumah ini. Mas Reza sudah berjanji bahwa dia akan berlaku adil pada kita berdua. Jadi kesepakatan yang telah kami buat bahwa mas Reza tetap tidur di kamar utama dan aku yang merupakan istri pertama tidur di kamar khusus tamu dan kamu yang belakangan datang berarti harus tidur di kamar pembantu,” jelas Nayla.
“Aku nggak mau. Aku maunya tidur di kamar Reza.”
“Oke, kalau kamu nggak mau tidur di kamar pembantu dan tetap ngotot tidur di kamar Reza maka aku akan melaporkan pada papi tentang pernikahan kalian.”
__ADS_1
“Kamu memang sudah gila ya Nayla.”
“Makanya kamu harus ikuti aturan aku, kalau kamu tidak mau rencanamu gagal. Kalau sampai papi tau kalian menikah pasti papi tidak akan menyerahkan perusahaannya kepada mas Reza. Bisa-bisa papi akan menyerahkan hartanya kepada aku karena aku adalah menantunya.”
“Reza... Reza....” panggil Vera.
Reza yang sedang melamun di ruang tamu dan mendengar suara Vera memanggilnya kemudian berjalan menuju ke ruang tengah bernama. Reza sempat mendengarkan pembicaraan antara Nayla dan Vera tetapi Reza malas untuk ikut campur.
“Reza, apa benar yang dikatakan Nayla bahwa aku tidur di kamar pembantu?”tanya Vera pada Reza.
“Memangnya kenapa kalau kamu tidur di kamar pembantu?” jawab Reza santai.
“Tapi aku nggak mau Reza. Aku mau tidur dengan kamu aja,” ucap Vera manja.
“Bukankah kamu dan Nayla mempunyai hak yang sama karena kalian berdua adalah sama-sama istri aku.”
“Kita kan udah membuat kesepakatan dengan Nayla sebelum menikah, bahwa aku sebagai suami harus bersikap adil pada kedua istri aku. Karena Nayla yang duluan menjadi istri aku, maka dia tidur khusus di kamar tamu dan kamu yang datang belakangan harus menerima kamar yang terakhir dan kamar yang terakhir hanya ada kamar pembantu,” jelas Reza lagi.
Nayla langsung tersenyum mendengar perkataan Vera.
“Nggak ada cerita pembantu, karena pekerjaan di rumah ini kita berdua yang akan mengerjakannya,” jelas Nayla sambil tersenyum puas.
“Apa benar Reza seperti yang dikatakan Nayla bahwa kita nggak jadi mencari pembantu?” Vera seperti tidak percaya.
Reza hanya mengangguk kepalanya.
“Aku nggak bisa ngerjakan pekerjaan rumah Reza.”
“Makanya mulai dari sekarang kamu harus belajar Vera. Kalau kamu mau menikah dengan mas Reza berarti kamu harus siap menerima konsekuensinya bahwa kamu akan mengerjakan semua pekerjaan rumah bersama aku. Kalau masalah nggak bisa mengerjakannya karena mungkin tidak terbiasa maka aku akan mengajari kamu,” jelas Nayla.
“Sebenarnya apa yang dikatakan Nayla benar. Kamu harus banyak belajar dari Nayla.” Reza menegaskan kembali.
__ADS_1
“Kamu apa-apaan si Reza. Sebelum menikah kamu sudah berjanji bahwa kamu akan mencari pembantu karena kamu kan tau sendiri bahwa aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah.”
“Memang rencana aku sih seperti itu, tapi setelah aku pikir-pikir ada baiknya kalian berdua mengerjakan pekerjaan rumah sendiri supaya kamu tau kerja dan mandiri. Lagi pula kalau ada pembantu, sementara kamar di rumah ini hanya tiga jadi pembantunya mau tidur di mana,” ucap Reza.
“Makanya aku tidur dengan kamu supaya kamar pembantunya untuk membantu.”
“Kalau kamu tidur di kamar aku, itu artinya aku tidak bersikap adil sementara kita sudah membuat kesepakatan kalau aku tidak bersikap adil pada kalian berdua maka Nayla akan melaporkan pernikahanku pada papi. Kalau sampai papi tau akan pernikahan ini, pasti papi akan marah besar dan pasti akan membatalkan rencananya untuk memberikan perusahaan itu pada aku. Jadi aku harap kamu selalu bersabar.” Reza berusaha untuk menenangkan Vera.
“Sabar itu ada batasnya Reza. Mendapat perlakuan seperti ini rasanya aku udah nggak sabar,” ucap Vera marah.
“Kalau kamu tidak bisa sabar, ya udah kamu pergi dari rumah ini sekarang,” ucap Nayla.
“Apa kata kamu, aku harus pergi. Kamu yang harus pergi dari rumah ini,” ucap Vera semakin emosi.
Nayla langsung tersenyum sinis pada Vera.
“Kamu nggak sadar diri ya. Kamu itu sekarang ini numpang di rumah aku karena rumah ini sudah diberikan papi untuk aku. Mas Reza sendiri sebenarnya numpang karena ini rumah aku, bukan rumah mas Reza,” jelas Nayla.
Vera langsung terkejut mendengar pengakuan Nayla yang begitu tiba-tiba.
“Benar Reza, ini bukan rumah kamu?” Vera seperti tidak percaya.
“Benar Vera. Rumah ini sudah dihadiahkan papi untuk Nayla.”
“Jadi kamu dapat apa karena Nayla sendiri dapat rumah ini,” tanya Vera pada Reza.
“Aku dapat perusahaan papi, tapi saat ini belum diserahkan sepenuhnya sama aku,” jelas Reza.
“Reza, kamu harus bisa membelikan rumah untuk aku biar kita tinggal berdua di rumah itu,” pinta Vera.
Reza diam saja karena kepalanya semakin pusing mendengar permintaan Vera yang jelas-jelas tidak mungkin diturutinya.
__ADS_1