
“Oh ya Mbak, saya mau nanya. Nanti Mbak mau dimasakkan apa, karena saya mau belanja ke warung.”
“Terserah Bibi aja deh,” jawab Nayla.
“Bibi bingung kalau terserah bibi.”
“Ya udah Bi masak aja kesukaan mas Reza.”
“Kalau mbak Nayla nggak suka gimana?” tanya bi Ijah lagi.
“Saya pasti suka Bi. Apa yang Bibi masak pasti akan saya makan jadi Bibi jangan khawatir ya,” ucap Nayla sambil tertawa.
‘Mbak Nayla sangat baik dan ramah, tapi kenapa mas Reza tidak menyukainya,’ batin bi Ijah.
“Kalau gitu bibi belanja ke warung dulu ya Mbak.”
Seminggu sekali bi Ijah belanja ke pasar untuk membeli keperluan dapur yang kering-kering tetapi untuk keperluan dapur setiap harinya seperti sayur dan ikan bi Ijah belanjanya ke warung yang tidak jauh dari rumah Nayla.
***
Saat keluar dari pintu samping tiba-tiba ponsel bi Ijah berdering. Bi Ijah yang mendengar ponselnya berdering langsung masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil ponselnya. Terlihat panggilan masuk dari bu Minar yang merupakan mertua Nayla. Bi Ijah langsung keluar karena nggak enak kalau pembicaraannya akan didengar oleh Nayla yang sedang sarapan di ruang tengah.
Sampai di halaman rumahnya bi Ijah langsung mengangkat telepon itu. Ternyata bu Minar menanyakan apakah Reza dan Nayla sudah bangun. Kemudian bi Ijah menjelaskan pada bu Minar bahwa Reza baru saja berangkat kantor sedangkan Nayla masih sarapan.
Dari perkataan bu Minar terlihat kalau dia kurang menyukai menantunya Nayla. Bi Ijah dapat menilai sendiri bahwa yang dikatakan bu Minar terlihat kalau bu Minar sengaja mencari celah agar Reza bisa menceraikan Nayla sehingga Bu Minar mau tau hubungan antara Reza dengan istrinya.
Bi Ijah yang tidak suka dengan sikap bu Minar lalu berbohong dan mengatakan kalau hubungan Reza dan istrinya sangat mesra. Sengaja bi Ijah mengatakan hal itu untuk membuat bu Minar merasa kesal dan pastinya bu Minar akan mundur sendiri dan tidak akan mencampuri rumah tangga anaknya yang baru menikah.
__ADS_1
[“Kalau yang saya lihat Bu, mas Reza dan istrinya tampak mesra. Buktinya tadi saat mereka keluar dari kamar keduanya rambutnya basah. Itu artinya mereka baru menikmati malam pertama mereka.”]
[“Apa bi Ijal tidak salah?”]
[“Salah gimana Bu. Saya lihat sendiri keduanya keluar dari kamar sambil senyum-senyum dan rambut mereka basah.”]
Mendengar penjelasan bi Ijah, bu Minar merasa kesal dan dia langsung menutup ponselnya. Kelihatan sekali kalau bu Minar tidak menyukai kalau Reza menyayangi istrinya.
‘Kenapa bu Minar setegah itu. Dia lebih senang melihat rumah tangga anaknya hancur. Seharusnya sebagai orang tua berusaha untuk membuat rumah tangga anaknya bahagia. Apalagi pernikahan anaknya karena perjodohan. Tetapi bu Minar beda. Dia lebih senang kalau Reza tidak menyayangi istrinya dan kemudian menceraikannya. Setelah itu bu Minar akan menikahkan Reza dengan kekasih yang bernama Vera. Padahal aku tau sendiri kalau mbak Vera itu terlihat sangat sombong dan arogan. Baru sekali aku ketemu mbak Vera, tapi aku udah bisa menilainya. Kalau dibandingkan dengan mbak Nayla, mbak Vera tidak ada apa-apanya. Mbak Vera terlihat cantik karena banyak polesan, sedangkan mbak Nayla cantiknya alami. Kalau besok atau lusa bu Minar menelepon aku lagi, aku akan mengatakan bahwa mas Reza terlihat sudah mencintai mbak Nayla supaya bu Minar tidak berusaha memisahkan mas Reza dan mbak Nayla. Mas Reza juga terlihat sangat kasar pada mbak Nayla. Mungkin karena mas Reza ingin menikah dengan mbak Vera,” batin bi Ijah.
Sebenarnya bi Ijah merasa bingung sendiri. Dia ditugaskan di rumah Reza untuk membantu pekerjaan rumah tangga Nayla oleh Pak Mahendra dan Pak Mahendra terlihat sangat sayang pada Nayla. Sementara istrinya berusaha untuk memisahkan Reza dengan Nayla dan ingin menikahkan Reza dengan Vera yang merupakan kekasih Reza.
***
Begitu Reza sampai kantor semua perhatian pegawai tertuju pada dia. Apalagi Reza datang terlambat tidak seperti biasanya.
“Iya Pak, saya kurang istirahat semalam makanya tadi malam nyenyak sekali tidurnya sampai nggak terbangun. Begitu terbangun ternyata sudah siang.”
Pak Rizki langsung tersenyum dan berbisik di telinga Reza.
“Kelelahan menghadapi malam pertama Pak?” ucap pak Riki Sambil tertawa.
Reza yang tidak mau menanggapi candaan pak Rizki langsung berjalan dan menuju ke ruang kerjanya. Begitu melewati ruang pegawai semua pegawai yang melihatnya langsung tersenyum dan berbisik-bisik.
Reza yang memperhatikan pegawainya pada berbisik sambil melihat ke arahnya buru-buru masuk ke dalam. Dia langsung masuk ke ruang kerjanya.
Sampai di ruang kerjanya Reza tampak kesal dengan reaksi pegawainya yang berbisik saat melihat dia memasuki ruang kerjanya.
__ADS_1
“Tok, tok...” Terdengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Masuk....” ucap Reza.
“Ceklek...” Terlihat pak Deni masuk sambil membawa map berwarna biru.
“Ada yang harus Bapak teken,” ucap pak Deni sambil menyerahkan map berwarna biru ke tangan Reza.
Reza langsung membuka map itu dan membacanya. Setelah itu dia langsung menekannya.
“Pak Deni, tadi sewaktu saya masuk ruangan ini semua pegawai melihat ke arah saya dan mereka pada berbis-bisik. Memangnya apa ada yang salah dengan saya. Kenapa mereka berbisik-bisik semuanya. Saya merasa nggak nyaman jadinya,” jelas Reza.
Pak Deni langsung tersenyum sambil menutup mulutnya.
“Pak Deni kenapa ikut tersenyum, apa ada yang salah dengan saya?”
Kemudian pak Deni menjelaskan pada Reza.
“Maaf pak Reza sebelumnya. Tadi pegawai termasuk juga saya berbisik-bisik karena melihat Bapak datangnya terlambat tidak seperti biasanya.”
“Memangnya kalau saya terlambat kenapa Pak. Apa nggak boleh?” tanya Reza lagi.
“Bukan gitu pak Reza. Yang kami bayangkan Bapak datang terlambat karena tadi malam kan malam pertama Bapak.”
Pak Deni dengan lugunya menjelaskan pada Reza membuat Reza langsung terdiam. Kemudian pak Deni buru-buru pamit keluar ruangan sambil tersenyum sendiri.
‘Benar juga apa yang dikatakan pak Deni barusan. Mungkin mereka menganggap aku terlambat ke kantor karena menghadapi malam pertama tadi malam. Memang seharusnya tadi malam adalah malam pertamaku, tapi nggak mungkin aku menghabiskan malam pertama dengan Nayla. Walaupun Nayla telah menjadi istriku yang sah dan aku berhak atas dirinya tapi aku nggak mau mengecewakan Vera. Aku hanya mau menghabiskan malam pertamaku hanya dengan Vera, bukan dengan Nayla. Pernikahanku dengan Nayla hanya di atas selembar kertas. Hati dan jiwaku sudah kuhadiahkan pada Vera dan tidak mungkin berpindah ke Nayla walaupun dia telah menjadi istriku yang sah. Aku Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Kalau tiba waktunya aku akan menceraikan Nayla dan menikahi Vera sehingga kalau Nayla bercerai dari aku dia akan tetap gadis karena aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun. Aku harus menghargai perasaan Vera yang merelakan aku menikahi Nayla walaupun sebenarnya dia sangat berat menerima kenyataan ini. Aku akan selalu menghargai keputusan Vera yang merelakan aku menikahi Nayla. Aku juga harus selalu berhati-hati jangan sampai tergoda oleh Nayla,’ batin Reza.
__ADS_1