Aku Bukan Istri Bayaran

Aku Bukan Istri Bayaran
Menangis


__ADS_3

“Gimana kalau Vera tidak mau?”


“Ya dia harus membuat pilihan. Kalau mau menikah dengan aku maka harus menerima kamu juga. Kalau dia tidak mau menerima kamu, itu artinya dia harus mundur. Bagiku saat ini yang paling berharga itu hanya kamu. Walaupun di awal pernikahan kita, aku tidak menyukai kamu. Tapi seiring berjalannya waktu rasa suka itu hadir dan sekarang aku menginginkan kamu akan menjadi pendamping hidupku sampai akhir hayatku.”


Mendengar pengakuan suaminya Nayla merasa terharu dan tanpa terasa air matanya pun menetes. Reza yang melihatnya langsung menghapus air mata itu dengan ujung jarinya.


“Mulai saat ini aku berjanji tidak akan pernah membuat kamu menangis. Aku akan membina rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah dan bahagia selamanya sampai akhir hayat kita. Kamu harus yakin ya,” ucap Reza.


Reza kemudian memeluk kembali istrinya. Reza merasa sangat bahagia hari ini. Walaupun Nayla belum memeriksa tes kehamilannya tapi paling tidak Reza telah mengungkapkan isi perasaannya pada Nayla.


Setelah cukup puas memeluk istrinya kemudian Reza melepaskan pelukannya. Kembali Reza mencium pipi Nayla. Dipandangnya wajah Nayla sambil tersenyum. Keduanya saling bertatapan sehingga manik bola mata mereka saling beradu dan hembusan nafas Reza menerpah wajah Nayla. Reza yang merasa tidak tahan dengan gejolak di dalam jiwanya langsung mencium bibir Nayla lembut dan Nayla hanya pasrah.


Kemudian Reza merebahkan tubuh Nayla dan dia langsung membuka kancing baju Nayla bagian depan. Nayla terlihat malu ketika kedua bukit kembarnya hampir terlihat jelas. Dia kemudian menutupnya dengan kedua tangannya. Reza yang melihat Nayla malu langsung tersenyum.


“Kenapa kamu malu dengan suami sendiri.”


Nayla hanya diam saja tapi terlihat jelas kalau Nayla seperti merasa takut dan malu. Kemudian Reza berusaha membuat Nayla tidak takut dan malu lagi. Kedua tangan Nayla yang ada di atas dadanya perlahan dilepas oleh Reza dengan lembut membuat Nayla perlahan merasa pasrah.


“Mas, aku takut,” bisik Nayla.


“Takut kenapa?” Reza kemudian membelai lembut rambut istrinya supaya Nayla tidak takut.


“Aku takut karena sakit,” ucap Nayla pelan.


“Sakit itu hanya untuk pertama kali. Setelah itu udah nggak sakit lagi,” jelas Reza.


Di dalam hati Reza, dia merasa lucu dengan ucapan Nayla barusan. Nayla tampak masih sangat lugu sehingga Reza semakin bersemangat untuk melakukan aksinya. Reza yang pintar dalam merayu wanita akhirnya berusaha membuat Nayla tidak takut dan malu lagi. Kemudian rasa takut dan malu berangsur-angsur hilang sehingga keduanya dapat menikmati aktivitasnya.

__ADS_1


Setelah aktivitas berakhir keduanya langsung terkulai lemas di tempat tidur. Yang tinggal hanyalah deru nafas yang saling berkejar-kejaran. Reza langsung mencium pipi istrinya sambil tersenyum puas. Keduanya langsung tertidur setelah kelelahan dalam melakukan pergulatan yang hebat.


***


Begitu terdengar suara azan maghrib berkumandang di masjid, Nayla terbangun dan langsung bangkit dari tidurnya. Sedangkan Reza masih tampak tertidur pulas. Kemudian Nayla memungut baju dan pakaian dalam yang berserakan di lantai. Dia kemudian langsung masuk ke kamar mandi.


Begitu keluar dari kamar mandi dia langsung membangunkan Reza.


“Mas, bangun sudah magrib.”


Reza langsung membuka matanya. Begitu tersadar dan ternyata dia baru tertidur nyenyak di kamar Nayla. Reza langsung bangkit dari tidurnya. Kemudian dia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya. Saat akan keluar kamar Nayla, dia langsung mendekati Nayla dan mencium pipi Nayla. Setelah itu dia baru keluar dari kamar dan menuju ke kamarnya sendiri. Sampai di kamarnya dia langsung pergi mandi.


Selesai mandi Reza langsung keluar dari kamarnya. Reza melihat Nayla sedang di dapur memasak sayur asam yang tadi sore tidak jadi dimasak.


“Biar aku aja yang masak Nayla. Kamu duduk aja,” ucap Reza mendekati Nayla.


“Nggak usah Mas, aku bisa kok. Lagian perut aku udah nggak mual lagi.”


Reza langsung memeluk pinggang Nayla dari belakang.


“Kamu tau kenapa kamu nggak mual lagi?” tanya Reza mesra.


Nayla hanya menggelengkan kepalanya.


“Anak kita butuh kehangatan dari ayahnya, makanya setelah kamu mendapat kehangatan dari aku mual kamu langsung hilang,” bisik Reza.


“Mas ada-ada aja,” ucap Nayla sambil tersenyum.

__ADS_1


“Udah Mas, aku mau masukkan sayurnya,” ucap Nayla sambil berusaha melepaskan tangan Reza yang sedang memeluk pinggangnya.


“Ya udah kamu masukkan aja sayurnya. Aku masih Ingin memeluk kamu.”


Kemudian Nayla memasukkan sayur ke dalam panci yang berisi air yang sudah mendidih. Setelah itu dia mengaduknya. Sedangkan Reza masih memeluk pinggang Nayla sambil mengelus-ngelus perut Nayla. Sebenarnya Nayla merasa risih dan takut kalau nantinya akan dilihat oleh Vera. Kalau Vera mengetahui hal ini pasti dia akan marah besar. Syukurnya Vera belum pulang dari salon. Biasanya sebelum maghrib Vera sudah pulang ke rumah. Tapi tadi sore dia mengirim pesan pada Reza kalau pulangnya agak malam karena banyak pelanggan yang datang sehingga Reza dengan leluasa bisa bermesraan dengan Nayla.


Reza yang sedang kasmaran tidak melepaskan pelukannya walaupun Nayla beberapa kali berusaha untuk melepaskan tangan Reza tapi Reza semakin mempererat pelukannya. Keduanya pun ngobrol dengan posisi seperti semula. Sambil mengaduk sayur asam Nayla ngobrol dengan Reza. Reza sesekali mencium pipi istrinya. Tentu saja Nayla menggeliat kegelian ketika kumis Reza yang tipis menyentuh pipi Nayla. Nayla langsung tertawa karena tidak tahan geli.


Saat yang bersamaan tiba-tiba Vera muncul di dekat mereka dengan wajah yang merah padam menahan rasa marah.


“Ternyata seperti ini ya Mas kelakuan kamu di belakang aku.”


Reza dan Nayla sontak terkejut mendengar ucapan Vera. Nayla langsung melepaskan tangan Reza yang berada di perutnya.


“Memangnya kenapa Vera. Nayla ini istri aku,” ucap Reza merasa tidak bersalah.


“Aku tau Nayla itu istri kamu. Tapi kamu tidak bisa bersikap adil Reza. Padahal di awal pernikahan kamu sudah berjanji akan bersikap adil pada kami berdua. Nyatanya tidak. Kamu lebih memilih Nayla dari pada aku. Bahkan untuk melalui malam pertama pun kamu tidak mau.”


Reza langsung tersenyum sinis mendengar ucapan Vera.


“Kalau masalah itu, kamu tanya aja pada diri kamu sendiri kenapa aku lebih memilih Nayla dari pada kamu,” jelas Reza.


Vera yang mendengar pengakuan Reza langsung terpancing emosi. Dia langsung berjalan mendekati Nayla dan hendak menarik rambut Nayla tapi tangannya keburu ditarik oleh Reza.


“Lepaskan... Lepaskan Reza!” bentak Vera.


“Kalau kamu berani pada Nayla maka aku lawan kamu.”

__ADS_1


Mendengar perkataan Reza yang begitu menyakitkan Vera langsung masuk ke kamarnya. Perasanya sangat sedih karena tidak menyangka kalau pernikahannya akan seperti ini. Selama ini dia selalu membayangkan hidup dengan Reza akan bahagia ternyata sebaliknya. Di tempat tidurnya Vera meluapkan tangisnya.


__ADS_2