
[“Gimana dengan pernikahan kamu, Reza?”] tanya Vera.
[“Pernikahan aku sukses. Tadi siang baru saja dilaksanakan. Ada apa Sayang, kenapa menghubungi aku malam-malam.”] tanya Reza.
[“Aku nggak bisa tidur Reza memikirkan kamu terus.”]
[“Apa yang kamu pikirkan Sayang...”]
[“Aku sangat khawatir Reza. Aku khawatir kamu tidak bisa menepati janji-janji kamu.”]
[“Kamu jangan khawatir Sayang. Apa yang pernah aku ucapkan, apa yang pernah aku janjikan sama kamu pasti akan aku turuti.”]
Dada Nayla terasa sesak mendengar pembicaraan suaminya dengan kekasihnya yang bernama Vera. Nayla berusaha menutup telinganya supaya tidak mendengar pembicaraan suaminya, tapi rasa ingin taunya semakin besar sehingga samar-samar dia dapat mendengar pembicaraan Reza dengan kekasihnya itu.
[“Tapi aku khawatir Reza, malam ini pasti kamu tidur dengan istri kamu kan?”]
[“Iya Sayang, tapi kami tidak tidur satu ranjang. Yang penting kamu jangan khawatir. Kamu harus percaya sama aku ya Sayang...”]
Mendengar ucapan Reza yang begitu lembut perlahan rasa khawatir Vera menghilang. Reza berusaha untuk meyakinkan Vera agar jangan terlalu khawatir terhadap dirinya. Reza sengaja tidak mau berlama-lama berbicara dengan Vera karena dia juga masih menghargai Nayla yang telah menjadi istrinya.
Dalam hati kecilnya sebenarnya Reza tidak sampai hati menyakiti perasaan Nayla. Tapi Reza yang telah membuat kesepakatan dengan Nayla dan mengatakan walaupun mereka sudah menikah tetapi pernikahan hanya di atas selembar kertas dan keduanya tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Itulah kesepakatan yang telah dibuat Nayla bersama Reza.
Sebenarnya Reva merasa heran dengan sikap Nayla yang sepertinya tidak menunjukkan rasa cemburu ataupun sakit hati walaupun mereka telah sah menjadi suami istri. Melihat sikap Nayla yang begitu cuek membuat Reza semakin penasaran.
Nayla yang pintar menyembunyikan perasaannya bahwa sebenarnya dia merasa sakit hati ketika mendengar pembicaraan suaminya yang begitu mesra dengan kekasihnya, tetapi dia berusaha untuk tetap tegar karena Nayla mempunyai keyakinan suatu saat suaminya pasti akan mencintainya dengan sepenuh hati. Dan Nayla juga berjanji dalam hatinya bahwa dia akan menjadi istri yang baik walaupun suaminya tidak mencintainya.
Tidak lama kemudian Reza sudah tertidur pulas di sofa sedangkan Nayla belum dapat memejamkan matanya. Mata dan pikirannya masih tertuju pada Vera karena dia tidak menyangka bahwa pernikahan yang diharapkannya akan bahagia ternyata tidak seperti harapannya. Nayla membayangkan akan membina rumah tangga yang bahagia bersama Reza dan dia tidak menyangka kalau Reza sebenarnya sudah mempunyai kekasih.
__ADS_1
Nayla juga memahami bahwa pernikahan yang dilaksanakan ini adalah bukan kemauan Reza tapi kemauan papinya Reza. Awalnya Nayla sempat ragu saat pak Mahendra memintanya untuk menjadi menantunya, tapi Nayla tidak sanggup menolaknya mengingat pak Mahendra terlalu baik pada keluarganya. Bahkan pak Mahendra setiap bulan selalu mengirim biaya hidup Nayla dan ibunya.
Nayla sendiri masih ragu dan dia tidak yakin kalau Reza akan menerimanya sementara Nayla tau sendiri bahwa Reza seorang sarjana bahkan lulusan S2 dari luar negeri, sedangkan Nayla sendiri hanya tamat SMA. Dia pun tamat berkat bantuan pak Mahendra.
Wlaupun di awal pernikahan ini sudah tampak jelas bahwa Reza tidak mencintainya bahkan di depan Nayla, Reza sanggup berbicara mesra dengan kekasihnya tetapi Nayla punya keyakinan bahwa suatu saat Reza akan jatuh dalam pelukannya selama Nayla bersikap baik dan patuh pada suaminya.
Hampir menjelang pukul dua dini hari Nayla baru dapat tertidur dengan nyeyak.
***
Waktu malam telah berakhir dan berganti dengan waktu pagi. Nayla yang tidur larut malam sehingga masih merasa ngantuk ketika mendengar adzan subuh. Perlahan dibuka matanya dan berniat untuk bangun tetapi karena rasa ngantuknya sangat berat akhirnya tanpa sadar Nayla tertidur lagi. Sedangkan Reza masih tertidur pulas di sofanya.
Bi Ijah yang telah selesai menyiapkan sarapan pagi sejak tadi menunggu majikannya bangun. Dia merasa tidak tenang sebelum melihat majikannya keluar dari kamar karena bi Ijah akan pergi belanja ke warung. Sebelum ke warung bi Ijah akan menanyakan dulu kepada tuan rumahnya mau masak apa hari ini. Tapi sejak tadi majikannya belum juga bangun membuat bi Ijah harus menunggu dulu sampai Nayla keluar dari kamarnya.
Tiba-tiba ponsel bi Ijah berdering dan bi Ijah langsung meraih ponselnya yang ada di atas kulkas.
[“Lagi ngapain bi Ijah?”] tanya Bu minar,
[“Saya mau belanja ke warung Bu, tapi masih nunggu mbak Nayla bangun karena mbak Nayla belum bangun. Saya mau menanyakan mau di masakan apa, biar saya tahu belanjanya.”] jelas bi Ijah.
[“udah siang seperti ini belum bangun juga, Bi?”] tanya bu Minar heran.
[“Benar Bu. Maklumlah namanya pengantin baru Bu,”] jelas bi Ijah sambil tersenyum.
[“Kalau Reza gimana, udah bangun?”] tanya bu Minar lagi.
[“Mas Reza juga belum bangun Bu.”]
__ADS_1
[“Udah jam delapan belum bangun juga, memangnya Reza nggak kerja?”]
[“Saya nggak tau Bu. Saya nggak berani bangunkannya Bu.”] jawab bi Ijah lagi.
[“Ya udah, kalau sampai jam sembilan belum bangun juga Bibi cepat kabari saya ya, biar saya yang bangunkan mereka. Seperti tuan putri aja jam segini belum bangun.”]
Mendengar ucapan bu Minar yang merupakan mertua Nayla, bi Ijah merasa kasihan pada Nayla.
‘Bu Minar sepertinya tidak menyukai mbak Nayla. Dari semalam aku lihat ucapan bu Minar terlihat sangat pedas pada mbak Nayla. Kasihan kali mbak Nayla mempunyai ibu mertua seperti bu Minar. Padahal pak Mahendra tampak sayang pada mbak Nayla. Bertolak belakang dengan istrinya. Kalau mas Reza gimana ya, sayang apa nggak sama mbak Nayla,’ batin bi Ijah sambil bertanya-tanya.
[“Oh ya Bu, sebenarnya ada apa Ibu menghubungi saya?”] tanya bi Ijah.
[“Saya hanya mau nanya aja Bi, bagaimana sikap Reza pada istrinya,”] jelas bu Minar.
[“Maksud Ibu gimana, saya nggak paham?”] tanya bi Ijah bingung.
[“Kan Bibi tau sendiri bahwa pernikahan Reza dan Nayla karena perjodohan. Awalnya Reza tidak mau dijodohkan dengan Nayla.”]
[“Kenapa nggak mau Bu. Bukankah mbak Nayla cantik.”]
[“Cantik kan tidak jadi ukuran Bi karena Reza kan sudah punya kekasih yang lebih cantik dan lebih berpendidikan dibandingkan Nayla. Saya sebenarnya juga nggak setuju Bi, Reza menikah dengan Nayla.”] Bu minar sedikit curhat pada bi Ijah membuat bi Ijah merasa kasihan sendiri pada Nayla.
[“Kenapa Ibu nggak suka dengan Nayla, bukankah mbak Nayla cantik dan baik.”] jelas bi Ijah memuji Nayla.
[“Tapi dia tidak sepadan dengan Reza. Reza sarjana sementara Nayla hanya tamatan SMA. Nayla memang cantik Bi, tapi dia kampungan tidak bergaya. Bisa dikatakan tidak selevel dengan Reza. Tadi papinya Reza sangat menyukai Nayla makanya saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bibi kan tau sendiri kalau papinya Reza sudah marah dan kemauannya juga sangat keras.”] ucap bu Minar.
Mendengar penjelasan bu Minar, bi Ijah hanya terdiam. Perasaannya sangat sedih mengingat nasib Nayla yang dari latar belakang keluarga susah sama seperti dirinya.
__ADS_1