Aku Bukan Istri Bayaran

Aku Bukan Istri Bayaran
Hinaan


__ADS_3

‘Kasihan sekali mbak Nayla. Karena orang susah dianggap sebelah mata oleh bu Minar. Tapi syukurnya pak Mahendra sayang pada mbak Nayla,’ batin bi Ijah dalam hati.


[“Jadi mulai sekarang tugas Bibi akan saya tambah.”]


[“Maksud Ibu gimana?”] tanya bi Ijah tidak mengerti.


Kemudian bu Minar menjelaskan tugas tambahan bi Ijah.


[“Ini cukup kita berdua yang tau dan bibi jangan pernah ngomong sama suami saya.”]


[“Iya Bu, saya janji nggak akan cerita sama siapa pun.”]


[“Bagus kalau begitu. Begini bi Ijah, saya minta setiap hari Bibi pantau terus hubungan Reza dengan istrinya. Kalau memang nantinya mereka tidak harmonis atau sering cekcok dalam rumah tangganya maka ini akan menjadi pertimbangan bagi Reza untuk mengakhiri rumah tangganya karena saya tau sendiri bahwa Reza tidak mencintai Nayla,”] jelas bu Minar penuh semangat.


[“Tapi Bu, kalau benar mas Reza tidak mencintai Nayla kenapa sudah siang seperti ini mereka masih belum keluar dari kamar. Berarti mereka masih menghabiskan malam pertama mereka Bu.”]


Mendengar ucapan bi Ijah, bu Minar jadi khawatir. ‘Bener juga apa yang dikatakan bi Ijah barusan. Gimana kalau nanti Nayla hamil, pasti mereka tidak akan jadi bercerai. Tapiaku tidak menginginkan anak dari Nayla. Aku menginginkan cucu yang bibit bobotnya bagus dan berasal dari keluarga yang berada, bukan dari Nayla yang berasal dari keluarga miskin,’ batin bu Minar.


Bu Minar sudah merencanakan kalau Reza belum bisa juga menerima Nayla sebagai istrinya maka bu Minar menginginkan mereka bercerai dan bu Minar ingin menikahkan Reza dengan Vera yang merupakan kekasih Reza.


Tapi mendengar penjelasan bi Ija bahwa sampai saat ini mereka belum keluar dari kamar, Bu Minar merasa khawatir kalau nantinya Nayla akan hamil. Kalau Nayla hamil maka rencana bu Minar pasti gagal.


***


Nayla baru terbangun ketika mendengar suara kendaraan di depan rumahnya. Begitu membuka matanya terlihat cahaya mentari pagi menembus jalusi di atas kamarnya sehingga dia bisa mengintip dari dalam kamar kalau di luar sudah sangat terang.


Nayla langsung turun dari tempat tidur dan saat melirik ke sofa ternyata Reza sudah tidak ada tetapi dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


‘Pasti mas Reza sudah bangun dan sedang mandi. Kenapa aku bisa bangun kesiangan seperti ini. Apa karena aku tadi malam tidur larut malam.’


Buru-buru Nayla membuka jendela di kamarnya. Setelah itu dia mengambil baju kerja suaminya dari dalam lemari dan tidak lama kemudian Reza keluar dari kamar mandi tetapi sudah memakai pakaian kerja lengkap. Nayla merasa bersalah karena terlambat bangun dan Reza mengambil pakaian kerjanya sendiri.


“Enak ya seperti tuan putri,” ucap Reza begitu keluar dari kamar mandi.


“Maaf Mas, aku tidak terbangun dan aku udah menyiapkan pakaian kerjamu di tempat tidur,” jawab Nayla.


“Nggak perlu, aku sudah ngambilnya sendiri tadi di lemari,” ucap Reza dengan nada marah.


Nayla yang merasa bersalah langsung masuk kamar mandi. Pikirannya tidak tenang apalagi mendengar ucapan Reza yang sangat menyakitkan perasaannya.


***


Begitu keluar dari kamar, Nayla hendak ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat suaminya. Tapi ternyata sarapan sudah disiapkan bi Ijah di meja makan dan terlihat Reza sedang menikmati sarapan pagi sendiri.


Melihat hal ini Nayla semakin merasa bersalah ketika melihat suaminya sedang sarapan di meja makan sendiri. Nayla langsung duduk di depan suaminya dan ikut sarapan tetapi begitu Nayla duduk Reza langsung bangkit dari duduknya sementara sarapannya belum dihabiskan. Nayla yang merasa bersalah langsung berkata pada suaminya.


“Nafsu makanku tiba-tiba hilang,” jawab Reza cuek.


Mendengar ucapan suaminya, Nayla merasa sedih. Saat itu bi Ijah berada tidak jauh dari Nayla. Mendengar ucapan Reza yang begitu menyakitkan bi Ijah merasa heran. Dia tidak menyangka Reza yang selama ini dikenalnya sangat sopan dan sabar kenapa tiba-tiba bisa berubah setelah menikah dengan Nayla. Bi Ijah sangat kasihan dengan Nayla yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya.


‘Ternyata mas Reza tidak mencintai istrinya. Ucapannya terhadap mbak Nayla juga sangat kasar. Tapi kenapa mereka bangun kesiangan?’ batin bi Ijah bingung sendiri.


Melihat Reza pergi dari ruang makan Nayla membatalkan untuk sarapan. Dia langsung berjalan mengikuti suaminya. Diambilnya tas kerja yang ada di atas meja kerjanya dan akan memberikannya pada Reza yang sedang memakai kaos kaki di ruang tamu.


Selesai memakai kaos kaki Nayla langsung memberikan tas kerja itu ke tangan suaminya.

__ADS_1


“Ini Mas tasnya,” ucap Nayla sambil tersenyum pada Reza.


Reza yang mendapat perlakuan lembut dari istrinya hanya meliriknya dengan pandangan sinis. Diambilnya tas itu dari tangan Nayla dengan sangat kasar. Nayla hanya bisa mengelus dada. Tetapi dia tetap berusaha untuk tenang walaupun hatinya sangat sakit. Dia tidak mau menunjukkan kekesalannya di depan suaminya.


“Hati-hati di jalan ya Mas,” ucap Nayla sambil tersenyum.


Reza tidak menjawab sepatah kata pun. Dia langsung pergi meninggalkan Nayla yang berdiri di depan pintu dan Reza langsung naik ke dalam mobilnya. Dalam hitungan detik dia sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya tanpa melirik sedikit pun ke arah Nayla. Sementara Nayla melambaikan tangan pada suaminya.


Bi Ijah yang sejak tadi memperhatikan dari dalam rumah merasa sangat sedih melihat perlakuan Reza pada istrinya.


‘Kenapa mas Reza bisa sekasar itu pada istrinya, sementara mbak Nayla terlihat sangat sabar menghadapi mas Reza bahkan walaupun perlakuan Mas Reza sangat cuek pada Mbak Nayla tapi mbak Nayla terlihat tenang saja. Sedikitpun tidak menunjukkan rasa kecewanya sementara aku yang melihat sendiri merasa sangat sedih dan sakit ketika membayangkan mbak Nayla itu adalah aku.’ Batin bi Ijah.


***


Begitu keluar dari halaman rumahnya Reza langsung melajukan kendaraannya menembus jalanan yang begitu ramai karena saat ini waktu orang berangkat kerja membuat jalanan tampak ramai oleh pengguna jalan. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat kerja, Reza merasa heran dengan sikap Nayla yang tidak pernah menunjukkan perasaan kesal ataupun marah. Sementara Reza sudah bersikap kasar padanya.


***


Begitu Reza berangkat kerja Nayla kembali ke meja makan untuk sarapan pagi yang sempat terhenti saat suaminya berangkat kerja tadi.


“Bibi udah sarapan, ayo sarapan bareng,” ajak Nayla.


“Mbak Nayla sarapan aja duluan, Bibi sebentar lagi,”jawab bi Ijah.


“Bibi sarapan nunggu apa lagi, jangan ditunda-tunda Bi. Entar Bibi sakit loh.” Nasehat Nayla.


“Bibi biasa sarapannya agak siangan sedikit Mbak,” jelas bi Ijah.

__ADS_1


“Kalau gitu saya sarapan duluan ya Bi,” ucap Nayla.


“Iya Mbak silakan.”


__ADS_2