
“Kenapa sih Papi lebih mengutamakan Nayla dari pada mami yang merupakan istri Papi sendiri.”
“Maaf ya Pi sebelumnya. Menurut Reza, benar apa yang dikatakan mami dan Nayla. Lebih baik bi Ijah di sini aja karena Nayla kan masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara mami kan sudah tua, sudah gampang capek. Takutnya kalau mami kecapean nanti sakit loh,” jelas Reza.
“Benar itu Pi, apa yang dikatakan Reza. Coba Papi pikir-pikir sekali lagi. Mami kan udah tua dan udah nggak sanggup mengerjakan pekerjaan rumah. Mau mencari pembantu sementara sampai sekarang belum dapat karena sekarang susah mencari pembantu Pi. Adapun uang kita untuk menggajinya tapi yang mau kerja nggak ada,” jelas bu Minar lagi.
“Papi nggak ada membeda-bedakan antara istri dan menantu. Semuanya sama nggak ada yang lebih diutamakan. Adapun pertimbangan papi kenapa bi Ijah tetap di rumah Reza dari pada di sini karena papi nggak mau Nayla sampai capek,” jelas pak Mahendra.
“Papi nggak mau melihat Nayla capek tapi mau melihat mami capek kan?” Bu Minar tampak marah.
“Bukan begitu maksudnya Mi. Yang papi pikirkan kalau sampai Nayla capek dan kurang istirahat takutnya Nayla akan lama hamil, sementara papi udah pingin kali ngomong cucu,” ucap pak Mahendra.
Reza yang mendengarkan ucapan papiinya langsung terbatuk-batuk. Melihat suaminya terbatuk-batuk Nayla buru-buru mengambil air putih.
“Minum dulu Mas...” Nayla menyodorkan air putih ke bibir Reza.
Bu Minar yang mendengarkan alasan pak Mahendra yang tidak masuk akal merasa kesal.
“Papi seperti tidak yakin dengan kekuasaan Allah.”
“Maksud Mami apa?” tanya pak Mahendra.
“Masalah cucu kita serahkan sama Allah. Kalau Allah sudah mengizinkan Nayla hamil walaupun dengan kondisi capek setengah mati pasti Nayla hamil. Tapi kalau Allah tidak mengizinkan meskipun Nayla tidak capek, istirahat cukup Nayla tidak akan hamil. Semuanya tergantung Allah, Pi,” jelas bu Minar.
“Memang semuanya Allah yang mengatur tapi kita sebagai manusia kan wajib untuk berusaha. Kita berusaha gimana caranya supaya Nayla tidak capek dan segera hamil. Kalau akhirnya Nayla nggak hamil juga berarti memang belum dikasih sama Allah. Yang penting kita tetap berusaha,” jelas pak Mahendra tegas.
“Udahlah Pi dari pada mami sakit karena kecapean mengerjakan pekerjaan rumah, lebih baik bi Ijah di sini aja. Lagian rumah kami juga kan tidak terlalu besar seperti rumah Papi, jadi tidak terlalu capek bagi Nayla untuk membersihkannya,” ucap Reza.
__ADS_1
“Benar Pi apa yang dikatakan mas Reza. Biar ajalah bi Ijah yang di sini kami tidak pakai pembantu juga nggak apa-apa karena Nayla masih sanggup mengerjakan semuanya,” ucap Nayla.
Sebenarnya sengaja Reza menyuruh bi Ijah untuk tinggal di rumah orang tuanya supaya papinya tidak tau hubungan Reza dan istrinya karena Reza yakin bahwa bi Ijah sengaja dikerjakan di rumahnya untuk memantau kegiatan Reza. Dengan bi Ijah tinggal di rumah orang tuanya sehingga Reza bisa berbuat sesuka hatinya karena tidak ada lagi yang memantaunya.
Sejak awal pernikahannya Reza sudah berniat akan menikahi Vera dan menceraikan Nayla kalau semua harta kekayaan Papinya sudah jatuh ke tangannya. Setelah Reza menikah, pak Mahendra langsung memberikan perusahaannya pada Reza. Tetapi semua bukti fisik yaitu surat kepemilikan perusahaan masih berada di tangan pak Mahendra walaupun sudah di atas namakan atas namanya.
***
Setelah selesai berdandan Nayla keluar dari kamar menemui Reza dan mertuanya yang sudah menunggunya. Begitu Reza melihat istrinya yang sudah memakai gaun yang dibelinya kemarin, Reza menatapnya tidak berkedip. Tanpa sadar Reza menatap istrinya sangat lama membuat pak Mahendra langsung tersenyum dan menyenggol lengan istrinya.
“Mami... lihat Reza. Reza tidak berkedip menatap istrinya.” Mendengar ucapan suaminya bu Miner langsung melihat ke arah Reza dan ternyata apa yang dikatakan pak Mahendra benar.
Terlihat Reza menatap istrinya tidak berkedip membuat bu Minar semakin kesal. Rencananya untuk memisahkan Reza dan Nayla pasti tidak berhasil karena bu Minar melihat sendiri kalau Reza terlihat sudah mulai menyukai Nayla.
***
Begitu melihat kedatangan pak Mahendra, pak Raden langsung menyambutnya dengan perasaan senang. Dia langsung mempersilakan keluarga pak Mahendra untuk masuk ke dalam karena acara Ijab kabul akan segera dimulai.
“Menantunya pak Mahendra cantik sekali. Cantikannya sangat alami,” ucap salah seorang ibu yang duduknya tidak jauh dari Reza.
Setelah pak Mahendra dan keluarga duduk acara ijab kabul langsung dimulai. Selesai acara Ijab kabul dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan yang digelar sangat meriah. Pak Mahendra yang merupakan teman dekat pak Raden ikut menyambut tamu-tamu yang hadir. Apalagi sebagian besar tamu pak Raden kenal dekat dengan pak Mahendra.
Sedangkan Reza dan Nayla rencananya akan pulang lebih dahulu.
“Papi, kami nanti pulang duluan aja ya,” pinta Reza pada papinya.
“Iya nggak apa-apa Reza. Biar papi dan mami yang di sini sampai sore karena papi dan mami disuruh pak Raden untuk menemani Pak Raden dalam menyambut tamu-tamunya yang lumayan banyak. Lagian kalau lama kali kalian di sini kasihan Nayla nggak bisa istirahat dia,” ucap pak Mahendra.
__ADS_1
Mendengar ucapan papinya, Reza merasa heran. ‘Kenapa papi selalu memperdulikan Nayla. Papi nggak mau melihat Nayla capek karena papi ingin agar Nayla segera hamil. Tapi bagaimana caranya Nayla hamil, sementara kami aja tidak pernah tidur seranjang,’ batin Reza.
Saat Reza dan Nayla akan bangkit dari duduknya tiba-tiba seorang pria menyapa Nayla.
“Nayla... gimana kabar kamu?” ucap pria itu.
“Hai, Gibran. Alhamdulillah aku sehat. Kamu gimana kabarnya?” tanya Nayla sambil menyalam Gibran.
“Seperti yang kamu lihat,” jawab Gibran dengan ramah.
“Oh ya Gibran. Kenalkan ini suami aku,” ucap Nayla memperkenalkan pria yang bernama Gibran.
Gibran langsung menyalam Reza.
“Gibran...” ucap pria itu ramah.
Kemudian Nayla dan Gibran ngobrol. Keduanya tampak akrab. Sepertinya mereka sudah lama kenal membuat keduanya sangat akrab.
Reza hanya memperhatikan saja ketika keduanya asik ngobrol. Dari pembicaraan keduanya Reza bisa menangkap kalau keduanya adalah teman sekelas ketika SMA dan ternyata Gibran belum menikah. Dia sekarang bekerja di perusahaan swasta yang mempunyai jabatan lumayan tinggi di perusahaan itu.
“Kamu kenapa belum married juga Gibran?” tanya Nayla disela obrolannya.
Gibran hanya tertawa mendengar pertanyaan Nayla.
“Kenapa sih kamu tertawa bukannya menjawab pertanyaanku.”
“Aku yakin kamu tau jawabannya,” ucap Gibran sambil tersenyum.
__ADS_1
“Nggak, aku enggak tau,” jawab Nayla dengan polosnya.
Gibran langsung tersenyum. Dia ingin menjelaskan alasannya kenapa dia belum menikah juga sampai saat ini, tapi dia merasa nggak enak karena ada Reza di samping Nayla.