
Bi Ijah
Pagi-pagi seperti biasa Nayla sudah bangun dari tidurnya. Dia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Kebetulan pembantu di rumah pak Mahendra yaitu bi Siti sedang pulang kampung karena suaminya mengalami kecelakaan. Bi Siti adalah pengganti bi Ijah yang baru seminggu bekerja di rumah pak Mahendra sehingga untuk saat ini belum ada pembantu di rumah pak Mahendra.
Nayla yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan cekatan membuat sarapan pagi. Setelah selesai kemudian masakan itu disajikan di meja makan dan selanjutnya Nayla membereskan rumah. Dia menyapu dan mengepel seluruh ruangan sampai bersih.
Bu Minar rencananya pagi ini mau membeli lontong sayur kesukaan Reza untuk sarapan pagi, tetapi begitu keluar kamar dilihat seluruh ruangan sudah bersih dan rapi. Saat bu Minar masuk ke ruang makan dia merasa terkejut karena menu sarapan pagi sudah terhidang di meja makan.
Terlihat Nayla sedang mencuci wajan bekas penggorengan. Melihat kemunculan ibu mertuanya di dapur Nayla langsung menyapanya.
“Udah bangun Mi?”
“Kamu lihat sendiri uda bangun atau belum?” ucap bu Minar ketus karena dia tidak menyukai menantunya.
“Jam berapa kamu bangun tadi?” tanya bu Minar ingin tahu.
“Jam setengah lima pagi Nayla sudah bangun Mi,” jawab Nayla.
Bu Minar yang tidak menyukai menantunya memandang hasil pekerjaan Nayla biasa saja. Sedikit pun dia tidak ada memuji hasil pekerjaan menantunya sementara Nayla sudah membuat sarapan dan bersih-bersih. Bu Minar seperti tidak menghargai pekerjaan menantunya.
***
Begitu pak Mahendra muncul di ruang makan dan melihat hidangan sarapan pagi yang begitu lezat langsung geleng-geleng kepala.
“Siapa yang masak sarapan ini?” tanya pak Mahendra.
“Menantu Papi-lah,” jawab bu Minar dengan nada tidak suka.
“Sepertinya makanannya lezat semua Mi. Papi jadi nggak sabar untuk menikmatinya.”
“Tampil cantik belum tentu rasanya enak loh Pi.”
__ADS_1
“Nggak mungkin Mi. Pasti masakannya enak.”
“Tapi kita tunggu dululah Reza dan Nayla,” ucap bu Minar yang melihat suaminya sudah tidak sabar ingin segera sarapan.
Tidak lama kemudian Reza dan Nayla muncul di meja makan. Begitu duduk Nayla langsung mengambilkan sarapan buat suaminya.
“Ternyata kamu pintar masak juga ya Nayla,” ucap pak Mahendra.
Nayla hanya tersenyum saja mendengar pujian dari papi mertuanya.
“Yang bereskan rumah juga kamu?” tanya pak Mahendra lagi.
Nayla tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya.
“Papa salut dengan kamu, Nayla. Kamu tidak hanya pintar masak tapi kamu juga cekatan dalam bekerja. Masih pagi kamu udah bisa membereskan rumah sekaligus menyiapkan sarapan pagi,” puji pak Mahendra.
Mendengar pak Mahendra memuji Nayla atas kepintarannya dalam memasak dan membereskan rumah membuat bu Minar semakin tidak suka. Sambil tersenyum sinis bu Minar langsung berkata pada suaminya.
“Mami ngomong apa sih?” ucap pak Mahendra.
“Mami ngomong apa adanya loh Pi. Apa yang mami katakan benarkan. Tapi kalau mami tapi suruh mengerjakan ini semua pasti nggak bisa karena sejak kecil mami nggak pernah mengerjakannya karena semuanya pembantu yang mengerjakannya,” jelas bu Minar seperti mengejek menantunya.
Pak Mahendra hanya diam saja tidak mau menanggapinya.
“Mungkin, mungkin kalau tidak menikah dengan Reza, Nayla juga kerja jadi pembantu Pi,” ucap bu Minar ketus membuat pak Mahendra langsung marah.
“Mami.... jaga ucapan Mami! Bentak pak Mahendra.
Mendengar bu Minar yang terlalu merendahkan Nayla, dada Nayla terasa sesak dan ingin rasanya menumpahkan air matanya.Ttapi Nayla berusaha untuk tetap kuat.
‘Kamu harus kuat Nayla. Kamu jangan pernah cingeng. Tunjukkan di depan mertuamu bahwa kamu wanita yang kuat. Wanita yang tangguh supaya mereka tidak bisa semena-mena pada kamu. Kalau kamu menangis di depan mereka, pasti mereka akan mentertawakanmu dan mereka akan semakin senang untuk membuat kamu kesal.’
__ADS_1
Akhirnya setelah mendengar bisikan hatinya, Nayla yang awalnya sedih berusaha untuk kuat. Dia langsung menegakkan tubuhnya dan membusungkan badannya supaya bisa lebih tegar lagi. Reza yang berada di samping Nayla hanya diam saja mendengar ucapan maminya. Sedikit pun dia tidak ada membela istrinya karena memang Reza tidak menginginkan Nayla menjadi istrinya.
Reza hanya tidak habis pikir kenapa Nayla terlihat biasa saja. Sedikit pun tidak ada reaksi marah ataupun sedih. ‘Sebenarnya hati Nayla terbuat dari apa sih. Apakah hatinya terbuat dari baja sehingga mendengar hinaan dari mami sedikit pun dia tidak marah atau pun sedih. Sikapnya biasa-biasa aja,’ batin Reza.
Begitu selesai sarapan pagi Nayla dengan cekatan membereskan meja makan, mencuci piring dan gelas yang kotor. Sedangkan bu Minar masih duduk di meja makan bersama suami dan putranya. Tidak lama kemudian pak Mahendra dan Reza langsung bangkit dari duduknya.
“Ayo Reza, kita ngobrol di teras depan. Mami bantuin Nayla. Oh ya Nayla, kalau udah siap mencuci piring ke teras ya biar kita ngobrol di sana karena ada yang mau papi sampaikan,” ucap pak Mahendra dan langsung bangkit dari duduknya.
“Baik Pi,” jawab Nayla.
Begitu pak Mahendra dan Reza ngobrol di teras, bu Minar bukan membantu menantunya membereskan dapur, tapi dia masih tetap duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya. Nayla yang sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga menganggap pekerjaan itu hanya hal biasa yang tidak terlalu menyita tenaganya.
Setelah Nayla selesai mengerjakan pekerjaan dapur dia langsung pergi ke teras untuk bergabung ngobrol dengan suami dan mertuanya. Terlihat bu Minar sudah duluan kesana.
“Duduk sini Nayla,” ucap pak Mahendra mempersilahkan Nayla duduk di depannya.
Begitu Nayla duduk tiba-tiba bu Minar membuka pembicaraan.
“Bi Siti kan pulang kampung dan nggak tau kapan kembali lagi ke mari,” ucap bu Minar.
“Memangnya kenapa Mi?” tanya pak Mahendra.
“Gimana kalau bi Ijah aja yang kemari lagi. Kalau bi Siti sudah kembali lagi kemari baru bi Ijah kembali ke rumah Reza,” pinta bu Minar.
“Kalau bi Ijah kemari berarti nggak ada donk yang membantu Nayla mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” jelas pak Mahendra.
“Tapi Nayla kan sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sementara mami kan nggak pernah Pi. Papi lihat sendiri aja. Begitu nggak ada bi Siti, rumah jadi berantakan karena mami nggak sanggup membersihkannya,” ucap bu Minar.
“Kalau memang seperti itu Mi, ya udah nggak apa-apa. Lagian Nayla masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah karena memang Nayla sudah biasa mengerjakannya,” jawab Nayla.
“Tapi papi nggak mau sampai kamu nanti kelelahan,” ucap pak Mahendra.
__ADS_1
Mendengar suaminya lebih membela menantunya bu Minar memilih tidur.