Aku Bukan Istri Bayaran

Aku Bukan Istri Bayaran
Permintaan vera


__ADS_3

Mendapat perlakuan yang cukup kasar dari suaminya Nayla hanya terdiam dan berusaha untuk tetap tersenyum.


“Hati-hati Mas...” ucap Nayla sambil melambaikan tangannya.


Begitu mobil yang dikendarai Reza keluar dari halaman rumahnya, Reza berpikir keras.


‘Aku heran melihat sikap Nayla yang tidak pernah marah atau pun kesal dengan perlakuanku. Bahkan aku sudah beberapa kali bersikap kasar padanya, tapi dia tidak pernah menunjukkan rasa marahnya. Bahkan dia selalu tersenyum. Sebenarnya terbuat dari apa sih hatinya Nayla. Kenapa dia bisa sebaik itu. Aku tidak pernah melihat Nayla bersedih atau marah ketika aku berbicara kasar padanya. Berbeda jauh dengan Vera. Vera selalu ngambek dan selalu banyak menuntut. Sikap mereka bertolak belakang. Nayla terlihat sangat tegar dan mandiri, sedangkan Vera terlalu manja dan suka ngambek. Tapi Vera tidak kalah gaya dibandingkan Nayla. Walaupun Nayla cantik tapi masih kampungan,’ batin Reza.


Kemudian Reza melajukan kendaraannya dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya karena dia sudah terlambat untuk sampai ke kantor. Tadi malam dia pulang larut malam sehabis menemui Vera karena telah terjadi perdebatan panas antara dirinya dengan Vera. Reza sempat ribut dengan Vera karena Vera minta agar segera dinikahi dalam waktu dekat sementara Reza belum siap karena perusahaan yang dikelolanya belum sepenuhnya jatuh ke tangannya. Sehingga Reza minta waktu sampai perusahaan itu sepenuhnya jatuh ke tangannya, baru Reza bisa menikahi Vera. Tapi Vera marah dan ngambek.


“Pokoknya aku nggak mau tau Reza. Kamu harus menikahi aku dalam bulan ini juga,” ucap Vera marah.


“Kenapa harus buru-buru Sayang. Apa nggak bisa diundur sampai perusahaan sepenuhnya milik aku?” tanya Reza.


“Aku udah nggak sabar Za kalau menunggu perusahaan itu sepenuhnya milik kamu, nanti aku keburu sudah tua.”


“Kenapa kamu berbicara seperti itu Sayang. Tidak lebih dari setahun pasti aku sudah menikahi kamu.”


“Berarti kamu masih tetap tinggal dengan istri kamu itu kan?”


“Memang iya Sayang. Kan nggak mungkin istri aku, aku usir dari rumah itu.”


“Tapi aku nggak mau kamu masih tinggal dengan istri kamu karena aku nggak yakin kamu bisa menjaga diri,” ucap Vera yang sangat khawatir pada Reza.


“Kenapa kamu nggak percaya sama aku, Sayang. Buktinya sampai saat ini aku tidak pernah menyentuhnya.”


“Tapi kan kita nggak tau untuk ke depannya Reza. Godaan itu pasti selalu ada. Ya saat ini kamu bisa melalui godaan itu tapi nggak tau untuk ke depannya. Apalagi dalam waktu satu tahun aku harus menunggumu, rasanya aku nggak sanggup.”


“Kamu harus sabar dan percaya Sayang...” bujuk Reza.


“Kalau memang kamu nggak sanggup menuruti kemauan aku, ya udah nggak apa-apa aku yang mengalah. Mulai saat ini kamu harus bisa menentukan pilihan. Pilih aku atau dia,” ucap Vera penuh penekanan.


“Maksud kamu apa Sayang?” ucap Reza dengan lembut.

__ADS_1


“Kalau kamu tidak mau menikahi aku dalam bulan ini juga, itu artinya kita putus.”


“Sayang... kamu jangan seperti itu.”


“Jadi mau gimana lagi Reza.”


“Tapi gimana kalau papi sampai tau kita menikah. Pasti dia akan membatalkan kepemilikkan perusahaan itu Sayang.”


“Aku nggak mau tau karena itu urusan kamu.”


“Sayang, tolong kasih kesempatan untuk aku berpikir ya.”


“Aku udah capek terus menunggu Reza.”


Reza berpikir sesaat dan kemudian dia memutuskan walaupun masih ada keraguan di dalam hatinya.


“Baiklah kalau itu kemuan kamu, aku akan turuti. Kita harus merahasiakan hal ini dan kita menikah diam-diam.”


“Tapi gimana dengan Nayla?”


“Dia tetap istri kamu di atas kertas. Aku akan tinggal di rumah kamu bersama dengan wanita itu.”


“Maksud kamu kita tinggal serumah bersama Nayla juga?” tanya Reza tidak percaya.


Vera langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat senyum Vera mengembang di bibirnya membuat Reza tidak mampu berbuat apa-apa lagi.


“Aku akan tinggal bersama kamu dan kita satu rumah dengan istri kamu, supaya aku bisa tetap mengawasi kamu sehingga kamu tidak bisa macam-macam sama aku,” ancam Vera.


Akhirnya walaupun berat, Reza menyetujui permintaan Vera yang akan tinggal bersamanya setelah menikah nanti. Walaupun Reza telah menyetujuinya tetapi dia merasa bimbang dan ragu karena Reza takut kalau nanti papinya akan mengetahuinya. Karena yang namanya bangkai lama kelamaan pasti akan tercium juga. Hal inilah yang membuat Reza tidak tenang sehingga tadi malam setelah mengantarkan Vera pulang, Reza pergi ke diskotik untuk menenangkan pikirannya. Ada perasaan menyesal dalam pikirannya karena telah menyetujui keinginan Vera untuk dinikahi dalam bulan ini.


Setelah cukup lama duduk di cafe akhirnya Reza pun kembali pulang ke rumahnya. Sampai di rumah ternyata sudah pukul dua dini hari sehingga keesokan harinya Reza bangun kesiangan.


***

__ADS_1


Begitu sampai kantor Reza langsung disambut oleh papinya.


“Gimana kamu mau jadi seorang pemimpin kalau tidak bisa memberikan contoh yang baik buat anggota kamu,” ucap pak Mahendra dengan nada marah.


“Maaf Pi, Reza tadi bangun kesiangan.”


“Mulai besok kamu harus bisa lebih disiplin lagi. Beri contoh yang baik pada anggota kamu. Kalau kamu sendiri suka terlambat gimana dengan anggota kamu. Karena seorang pemimpin itu harus bisa menjadi teladan bagi bawahannya.”


***


Begitu Reza masuk ke ruang kerjanya papinya muncul lagi di hadapannya membuat Reza merasa takut.


‘Apalagi yang mau dikatakan papi. Pasti papi marah lagi nih sama aku,’ batin Reza takut.


Sambil tersenyum pak Mahendra langsung bertanya. “Sudah sebulan pernikahan kamu, gimana dengan Nayla?”


Reza langsung menatap wajah papinya heran. “Maksud Papi apa, Reza nggak mengerti.”


“Maksud papi, apa Nayla sudah hamil?” tanya papinya.


Reza sedikit terkejut dan bingung. Dia bingung harus menjawab apa karena sejak menikah sampai sekarang dia belum pernah menyentuh Nayla sekali pun.


“Nayla belum hamil Pi,” jawab Reza singkat.


“Oh, iya...” ucap pak Mahendra sedikit kecewa.


“Mungkin Allah belum memberikan kesempatan pada kami untuk mempunyai anak Pi.”


Pak Hendra langsung menepuk pundak putranya. “Kamu yang sabar ya dan selalu banyak berdoa. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kamu diberi momongan,” ucap pak Mahendra sambil berlalu pergi.


Begitu pak Mahendra keluar dari ruangan kerjanya Reza langsung terdiam dan merenungkan ucapan papinya barusan.


‘Gimana Nayla mau hamil, aku sendiri belum pernah menyentuhnya. Tapi papi nggak perlu khawatir karena aku akan memberikan papi seorang cucu dan cucu itu pastinya dari Vera, bukan dari Nayla. Karena setelah tujuanku tercapai, aku akan menceraikan Nayla. Aku akan menikahi Vera dan kami akan hidup bahagia dengan anak-anak kami nantinya. Pasti papi dan mami juga ikut bahagia.’

__ADS_1


__ADS_2