
Seperti biasa sehabis ashar maka Nayla akan memasak makanan untuk makan malam. Dia pun sibuk meracik sayur dan bumbu. Rencananya dia hendak membuat sambalado ikan gembung. Ikan gembungnya sudah dibersihkan tadi pagi saat pulang dari warung. Biasanya kalau pagi-pagi Nayla belanja ke warung yang ada di dekat rumahnya. Kemudian ikan dibersihkan dan langsung dimasukkan ke dalam kulkas. Begitu juga dengan hari ini. Ketika sore akan memasak dia tidak perlu membersihkan lagi.
Tapi saat akan memasukkan ke penggorengan tiba-tiba dia merasa mual saat mencium bau amis dari ikan itu. Tapi dia tetap berusaha untuk menyelesaikan masakan itu walaupun dia harus menutup hidungnya dengan tangannya. Akhirnya selesai juga sambalado ikan gembung. Langkah berikutnya adalah memasak sayur asam. Tiba-tiba Nayla merasakan mual lagi dan sekarang kepalanya ikut pusing. Tapi Nayla tetap berusaha untuk menyelesaikan masakannya. Semua sayur sudah dicuci bersih dan bumbu sudah dibuat, tinggallah memasukkan ke panci yang berisi air. Tapi Nayla merasa sudah tidak tahan lagi. Akhirnya panci yang berisi air yang sudah diletakkan di atas kompor langsung dimatikan dan dia langsung pergi ke kamarnya. Dia kemudian rebahan di atas tempat tidurnya.
‘Kenapa aku bisa seperti ini padahal sejak tadi aku baik-baik aja. Apakah asam lambung ku lagi kambuh. Nanti kalau udah mendingan aku pergi ke apotek lah membeli obat asam lambung,’ batin Nayla.
Dia kemudian memejamkan matanya dan tidak lama kemudian dia pun tertidur karena kepalanya terasa sangat berat.
***
Saat jam kerja berakhir Reza buru-buru pulang ke rumah. Dia sudah ingin sekali bertemu dengan Nayla. Berapa hari ini Reza seperti sedang kasmaran. Dia ingin selalu bertemu dengan Nayla bahkan kalau siang hari saat jam istirahat dia selalu video call dengan Nayla hanya untuk melihat wajah Nayla. Ada aja yang dipertanyakan Reza supaya bisa ngobrol lama-lama dengan Nayla.
Reza mengurangi laju kendaraannya ketika melewati area pasar sore karena di jalanan orang ramai lalu lalang melewati jalanan itu sehingga Reza harus berhati-hati. Padahal perasaannya sudah menggebu-gebu ingin bertemu dengan Nayla.
***
Begitu sampai rumah, Reza langsung melangkahkan kakinya ke dapur karena biasanya saat Reza pulang kerja Nayla sedang memasak makanan buat makan malam. Dilihat Nayla tidak ada di dapur sementara sayur dan bumbu sudah ada di situ semua dan siap untuk dimasak. Reza pun merasa heran. ‘Ke mana Nayla.’ Reza kemudian memanggilnya.
“Nayla.... kamu di mana?” panggil Reza.
Tetapi tidak terdengar sahutan. ‘Mungkin Nayla sedang mengangkati jemuran.’ Akhirnya Reza berjalan mencari ke halaman belakang. Tapi di halaman belakang Reza juga tidak menemukan Nayla. ‘Atau jangan-jangan Nayla sedang di kamarnya. Tapi saat aku memanggil tadi kenapa dia tidak menyangkut. Kulihat aja deh di kamarnya.’
Akhirnya Reza masuk ke dalam rumahnya lagi. Setelah semua ruangan dilihatnya dan tidak menemukan Nayla, yang terakhir dia mendekati pintu kamarnya Nayla. Pintu itu langsung diketuknya.
“Tok... To. Nayla...” panggil Reza dari luar kamar.
Tidak terdengar sahutan dari luar akhirnya Reza memanggil lagi.
“Nayla....”
Saat panggilan ketiga baru mendapat sahutan dari dalam. Terdengar Nayla menjawab dengan suara berat. Reza yang khawatir dengan Nayla karena suaranya terdengar sangat berat yang berat Nayla sedang sakit. Kemudian Reza membuka pintu itu.
__ADS_1
“Ceklek...”
Reza langsung masuk dan terlihat Nayla sedang rebahan di tempat tidurnya dengan wajah pucat. Reza langsung terkejut melihat kondisi Nayla yang tampak lemas dan pucat. Dia kemudian duduk di samping Nayla. Tangan kanannya menggenggam tangan Nayla sedangkan tangan kirinya memegang kening Nayla.
“Kamu kenapa Nayla?” tanya Reza khawatir.
Dengan suara lemah Nayla langsung menjawab. “Nggak tau Mas. Kepalaku tiba-tiba pusing dan perutku juga mual,” jelas Nayla.
Mendengar penjelasan Nayla, Reza seperti tidak percaya.
“Apa?” ucap Reza.
“Kenapa Mas. Mas nggak percaya kalau aku sedang pusing dan mual?” tanya Nayla.
“Bukan seperti itu maksud aku, Nayla.”
Kemudian Reza terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu. ‘Atau jangan-jangan Nayla sedang hamil. Walaupun aku hanya sekali melakukan hubungan intim dengannya tapi bisa saja Nayla langsung hamil.’ Reza mulai merasa senang.
Nayla bingung dengan pertanyaan Reza.
“Maksud Mas gimana, aku nggak ngerti,” jawab Nayla bingung.
“Kamu sudah halangan bulan ini?”
Nayla langsung berpikir sesaat dan dia baru ingat. Seharusnya minggu ini dia sudah halangan tetapi sampai sekarang dia belum halangan juga. Tiba-tiba Nayla merasa takut. Dia takut kalau nantinya hamil. Nayla merasa bingung. Di satu sisi dia merasa senang karena akan mempunyai seorang anak tapi di sisi lain dia merasa sedih kalau mengingat ucapan Vera yang mengatakan kalau perusahaan pak Mahendra jatuh ke tangan Reza maka Reza dan Nayla akan bercerai.
“Gimana Nayla, apakah kamu sudah halangan,” tanya Reza tidak sabar.
Dengan lemas Nayla menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi dari Nayla, Reza langsung tersenyum bahagia.
“Kamu pasti hamil Nayla. Kita akan segera punya anak,” ucap Reza.
__ADS_1
Reza yang merasa senang langsung mencium kening dan pipi Nayla. Nayla hanya diam saja karena bingung. Dilihatnya tidak ada reaksi bahagia pada wajah Nayla, Reza langsung bertanya.
“Kenapa kamu diam aja. Apakah kamu nggak bahagia?”
“Mas jangan langsung bahagia seperti ini dulu karena aku kan belum mengeceknya hamil atau tidak?”
“Aku yakin kalau kamu hamil Nayla.” Reza sangat yakin kalau Nayla hamil anaknya.
“Tapi aku takut Mas....”
“Memangnya kamu takut apa?” tanya Reza heran.
“Aku belum siap untuk mempunyai anak Mas.”
Mendengar ucapan Nayla, Reza merasa heran.
“Kenapa kamu takut dan belum siap?”
“Aku belum siap untuk membesarkan anak ini sendiri Mas.”
“Maksud kamu apa?” Reza merasa bingung dengan ucapan Nayla.
“Seperti kata Vera bahwa kalau perusahaan sudah jatuh ke tangan mas Reza maka mas Reza akan menceraikan aku dan hidup bersama Vera.”
Mendengar penjelasan Nayla yang begitu menyedihkan Reza langsung menarik Nayla dalam pelukannya. Dipeluknya erat tubuh Nayla membuat Nayla susah bernafas. Kemudian Reza berbisik di telinga Nayla.
“Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan kamu, Nayla. Kita akan membesarkan anak ini bersama-sama kalau nantinya kamu benar-benar hamil.”
“Tapi gimana dengan Vera, Mas.”
Reza langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nayla. Dielusnya pipinya Nayla yang lembut. Reza langsung tersenyum untuk menguatkan istrinya.
__ADS_1
“Kamu jangan khawatir tentang Vera. Kamu sendiri kan sudah pernah mengatakan akan siap dimadu. Aku akan tetap menyayangi kamu dan anak kita nantinya.”