
Setelah berbicara cukup panjang bahkan telah melibatkan pak Mahendra, Reza tidak dapat menceraikan Nayla. Hal ini membuat Vera semakin kesal dan marah.
Begitu pak Mahendra pamit pulang, Vera juga langsung pergi ke kamar. Dia sebenarnya merasa malu pada Reza karena hubungannya dengan Rendy telah diketahui pak Mahendra. Pak Mahendra tadi sempat bercerita kalau dia pernah melihat Vera berdua dengan seorang pria di sebuah cafe.
***
Setelah pak Mahendra pulang Reza langsung menginterogasi Vera untuk memastikan apa yang diucapkan papinya benar. Reza langsung memanggil Vera yang sudah masuk ke kamarnya.
“Vera...., Vera...” panggil Reza dari ruang tengah yang kebetulan berdekatan dengan kamar Vera.
“Ada apa Reza?” Vera keluar dari kamarnya.
“Kamu duduk sini dulu,” pinta Reza.
Vera kembali duduk bersama Reza dan Nayla di sofa yang berada di ruang tengah.
“Vera, sekarang kamu jelaskan apa benar yang dikatakan papi tadi?”
Vera masih diam sambil menundukkan kepalanya, sedangkan Nayla yang merasa tidak terlibat dalam hal itu langsung pergi ke kamarnya. Dia sengaja tidak mau mencampuri urusan mereka berdua.
“Vera, sekarang kamu jelaskan. Apa benar yang dikatakan Papi!” Vera yang tadi merasa bingung harus menjawab apa akhirnya memberanikan diri untuk menjawab meskipun dia telah menutupi semuanya.
“Memang benar apa yang dikatakan papi. Baru-baru ini aku pernah berdua nongkrong di cafe dengan teman SMA aku, tapi kami hanya sekedar ngobrol biasa dan kami tidak ada hubungan apa-apa,” ucap Vera.
“Kalau tidak ada hubungan apa-apa, kenapa kalian tampak mesra?”
Vera yang sengaja menutupi kebohongannya pura-pura marah.
__ADS_1
“Namanya ketemu teman lama ya wajar aja kami ngobrolnya sambil tertawa. Apakah itu dikatakan mesra. Mungkin kalau kamu berada di posisi aku pasti seperti itu juga,” ucap Vera dengan nada marah.
Reza yang malas berdebat dengan Vera akhirnya diam saja. Dia malas untuk memperpanjang hal itu.
“Sekarang kamu sudah dengarkan apa keputusanku. Jadi kamu harus menghargai keputusanku. Kamu harus mau tinggal di rumah ini bersama Nayla.”
“Memangnya nggak ada pilihan lain, Reza.”
“Pilihan lain gimana maksud kamu.”
“Maksud aku, papi kamu kan sudah tau tentang pernikahan kita dan tidak ada yang perlu kita tutup-tutupi lagi. Gimana kalau kami tidak tinggal satu rumah. Kamu kontrakkan aku rumah sendiri. Jadi setiap hari kamu gantian mendatangi kami,” jelas Vera.
Reza yang memang sudah malas dengan Vera sengaja tidak mau menuruti kemauannya. Sebenarnya Reza memang menginginkan perceraian tapi dia nggak tegah untuk mengungkapkannya. Mungkin dengan kehidupan seperti ini dia mengharapkan suatu saat Vera akan mundur sendiri karena Reza sudah nggak sanggup memperbaiki sifat Vera yag selalu keras kepala ditambah lagi sikap tante Lisa yang selalu menyalahkan dirinya. Lama kelamaan Reza semakin muak dengan Vera.
Saat mengetahui Vera sedang nongkrong di cafe dengan seorang lelaki sebenanrnya Reza tidak cemburu hanya saja Reza merasa tidak dihargai makanya Reza minta Vera agar berkata jujur.
“Kan udah aku katakan kita tinggal satu rumah. Tapi kalau kamu tidak mau juga ya terserah kamu. Aku nggak bisa menuruti kemauan kamu terus Vera.”
‘Kamu lihat saja nanti Reza, kamu pasti akan menyesal karena aku akan kembali dengan Rendy. Aku akan membuktikan pada kamu bahwa lelaki di dunia ini tidak hanya kamu seorang. Masih ada lelaki di luar sana yang mau sama aku. Jadi aku nggak perlu mengemis cintamu lagi. Dalam waktu dekat ini akan aku tunjukkan pada kamu kalau aku akan mencapatkan Rendy kembali.’
***
“Papi.... sarapan pagi udah selesai. Ayo kita sarapan sekarang,” ajak bu Minar pada suaminya.
Pagi ini wajah pak Mahendra tampak murung tidak seperti biasanya. Sejak tadi dia banyak diam. Biasanya kalau hari Minggu pak Mahendra selalu mengajak istrinya untuk jalan santai keliling komplek perumahannya. Tapi pagi ini pak Mahendra malas untuk keluar rumah.
Sejak pagi dia sudah bangun tapi pak Mahendra menghabiskan waktunya hanya untuk membaca koran. Bu Minar yang baru selesai menyiapkan sarapan pagi langsung mengajak suaminya agar segera sarapan bersama. Tanpa menolak pak Mahendra langsung pergi ke ruang tengah untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Begitu sampai meja makan bu Minar langsung mengambilkan nasi beserta sayur dan lauk untuk suaminya.
“Papi mau tempe gorengnya?” tanya bu Minar dan hendak mengambilkan tempe goreng yang ada di dalam mangkuk kaca.
“Nggak Mi, papi nggak mau,” jawab pak Mahendra.
Kemudian pak Mahendra menyantap sarapan pagi itu. Setelah merasa kenyang pak Mahendra langsung mengakhiri sedangkan di piring masih tersisa. Melihat hal ini bu Minar langsung bertanya. “Kenapa sarapannya nggak dihabiskan Papi?”
“Papi lagi nggak nafsu makan Mi,” jawab Pak Mahendra.
“Papi jangan terlalu memikirkan Reza donk. Reza kan udah besar pasti dia dapat mengatasi semua masalahnya,’ jelas bu Minar.
“Tapi papi kesal dengan kelakuannya,” ucap pak Mahendra dengan nada emosi.
“Semuanya sudah terjadi jadi jangan pernah disesali.” Bu Minar berusaha meredahkan emosi suaminya.
“Gimana nggak kesal dengan kelakuannya yang berusaha merebut perusahaan. Padahal papi sudah susah payah membangun perusahaan itu hingga sekarang menjadi besar. Sekarang sudah besar dia enak aja mau mendapatkannya. Yang enak pasti nantinya si Vera itu yang gila harga. Pokoknya papi nggak akan memberikan perusahaan itu pada Reza kalau Reza masih hidup bersama Vera. Nanti kalau Reza sudah bercerai dengan Vera baru papi akan memberikannya.”
“Papi harus bersabar...”
“Semua ini salah Mami yang selalu memanjakan Reza.”
“Loh, Papi kenapa menyalahkan mami.”
“Karena dari awal Mami menykai Vera makanya Reza tidak takut ketika menikahi Vera karena dekingnya pasti Mami,” jelas pak Mahendra marah.
Bu Minar yang sudah mengenal sifat suaminya hanya bisa mengalah dan berusaha menenangkannya. Walaupun sebenanrnya dia kesal dengan ucapan suaminya yang menyalahkannya tapi demi kebaikan bersama bu Minar tidak memperpanjangnya. Dia hanya mengalah walaupun sudah disalahkan.
__ADS_1
“Papi harus istighfar... Papi nggak boleh mengatakan hal itu. Walaupun Papi tidak menyukai Vera tapi sekarang kan Vera sudah menjadi istrinya Reza. Kalau nantinya dia hamil berarti akan melahirkan cucu kita juga kan?”
Mendengar ucapan istrinya pak Mahendra semakin takut. ‘Apa yang dikatakan mami benar. Pasti nantinya Reza juga akan memiliki anak dari Vera karena Vera juga istrinya. Jadi apa yang harus aku lakukan kalau nantinya Vera mengandung anaknya Reza. Mudah-mudahan saja dalam waktu dekat Reza bercerai dari Vera karena aku tau sendiri kalau Vera sudah mempunyai kekasih yang aku temui di cafa saat itu,’ batin pak Mahendra.