
Reza yang sudah tertidur tiba-tiba terbangun dan merasa lapar. Dia langsung menuju ke dapur karena biasanya sehabis magrib dia sudah makan malam tapi karena tadi bertengkar dengan Vera, Reza langsung masuk ke kamarnya dan rebahan di tempat tidurnya untuk menghilangkan kepala yang sedang pusing. Ternyata Reza tertidur nyenyak dan saat tengah malam perutnya terasa lapar dan dia terbangun.
Begitu sampai di dapur pecahan gelas kaca yang berserakan di lantai masih belum dibersihkan dan makanan yang sudah dimasak oleh Nayla terlihat masih belum berkurang.
‘Pasti Nayla dan Vera belum makan juga,’ batin Reza saat melihat di meja makan hidangan masih banyak.
Reza yang takut pecahan kaca yang berserakan di lantai akan terkena kakinya, akhirnya dia membersihkannya. Setelah itu dia teringat akan Nayla. ‘Berarti Nayla juga belum makan. Aku harus memanggilnya dan menyuruhnya makan karena dia sedang hamil.’
Kemudian Reza mendatangi kamar Nayla. Diketuknya beberapa kali pintu kamar Nayla dan Nayla pun terbangun.
“Ada apa Mas?” tanya Nayla saat membuka pintunya.
“Ayo kita makan malam,” ajak Reza.
“Aku nggak lapar Mas.”
“Lapar atau nggak lapar, kamu harus makan ya.”
“Aku ngantuk Mas, malas makan. Mas aja ya yang makan biar aku temani.”
“Kasihan dedek bayi kalau kamu nggak makan,” ucap Reza sambil mengelus perut Nayla.
Akhirnya Nayla menuruti ucapan suaminya. Keduanya langsung berjalan menuju meja makan.
“Karena kamu sedang hamil jadi biar aku yang mengambilkan makan kamu ya.”
“Mas ini ngomong apa sih, aku kan belum positif hamil Mas. Belum juga di periksa.”
“Pokoknya aku yakin kamu pasti hamil. Besok pagi bangun tidur kamu periksa ya.”
“Tapi aku belum membeli tespeknya Mas.”
“Kamu jangan khawatir karena tadi aku udah membelinya.”
Nayla pun tersenyum. Dia tidak menyangka ternyata Reza sangat memperdulikannya. Bahkan untuk memeriksa tes kehamilan saja suaminya yang membeli alatnya.
__ADS_1
“Sekarang kamu makan yang banyak ya demi anak kita,” ucap Reza sambil menyodorkan piring yang telah berisi lauk dan sayur.
“Oh ya Mas, Vera Kenapa nggak dipanggil juga?”
“Biar aja nanti dia makan sendiri.”
“Mas nggak boleh seperti itu donk. Mas harus bersikap adil sama kami berdua.”
“Aku takut kalau nanti dia makan bersama kita, pasti dia akan membuat keributan lagi.”
“Tapi kan nggak bisa seperti itu Mas. Dia juga istri Mas.”
“Nanti aja kalau emosinya sudah reda baru kita makan bersama lagi.”
“Tapi aku nggak enak Mas sama dia. Nanti dikira dia, aku mempengaruhi Mas.”
“Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan dia ya.”
Akhirnya Nayla pun terdiam karena apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga. Kalau mereka makan bertiga saat ini, sementara Vera sedang emosi pasti ujung-ujungnya mereka akan bertengkar lagi dan masalahnya akan bertambah lebar. Jadi untuk sementara waktu lebih baik Nayla tidak bertemu dulu dengan Vera.
***
“Kamu duduk aja ya biar aku yang membereskannya.” Reza langsung mengambil piring dan gelas kotor dan di bawahnya ke wastafel cucian piring.
“Mas, biar aku aja yang mencuci piring,” ucap Nayla sambil membersihkan meja makan.
“Nggak usah Nayla. Kamu duduk aja temani aku, biar aku yang mencucinya.”
Akhirnya Nayla menurut saja. Dia tetap duduk di meja makan sambil menunggu suaminya mencuci piring. Sebenarnya Nayla merasa kasihan juga melihat Reza yang mencuci piring padahal selama ini Reza tidak pernah mencuci piring baik setelah menikah atau pun sebelum menikah.
Setelah selesai mencuci piring Reza langsung mengajak Nayla duduk di ruang tengah untuk menonton tv.
“Kita ke ruang tengah dulu ya nonton tv jangan langsung tidur.”
Keduanya duduk di sofa.
__ADS_1
“Mas, Vera bangunkan suruh dia makan,” pinta Nayla.
“Kalau dia lapar pasti dia makan sendiri. Lagian dia kan sudah dewasa jadi nggak perlu disuruh-suruh,” jelas Reza.
Akhirnya Nayla diam saja. Apa yang dikatakan Reza benar juga karena Vera sudah dewasa pasti kalau dia lapar, dia akan mencari makanan.
Kemudian keduanya pun asik menonton siaran di tv sampai selesai acara yang mereka tonton.
Saat Nayla akan masuk ke kamarnya Reza juga ikut masuk. Tentu Nayla merasa heran karena tidak biasanya Reza masuk ke kamarnya malam-malam seperti ini. Apalagi Reza langsung mengunci pintu kamar itu. Nayla yang merasa heran langsung bertanya pada suaminya.
“Kenapa ditutup Mas, apa Mas mau tidur di sini?” tanya Nayla
Reza tidak menjawab, dia hanya berjalan mendekati Nayla yang masih berdiri di samping tempat tidurnya. Kemudian Reza berdiri menghadap Nayla membuat jantung Nayla berdetak sangat kencang. Reza langsung memegang pundak Nayla dan memandang wajah istrinya sambil tersenyum.
Kemudian Reza mencium bibir Nayla dan Nayla hanya diam saja penuh kepasrahan. Reza yang sudah tidak tahan menahan gejolak di dalam jiwanya langsung membopong Nayla ke atas tempat tidur. Dia kembali mencium bibir Nayla dan langsung turun ke leher. Semakin lama ciuman itu semakin panas dan terjadilah adegan ranjang di tengah malam yang sudah sunyi senyap. Tidak terdengar suara apa pun kecuali deru nafas keduanya yang sedang menggebu-gebu.
Tidak perlu waktu lama aktivitas itu pun berakhir. Terpancar senyum kepuasan pada wajah Reza dan Nayla. Keduanya pun langsung tertidur nyenyak sampai pagi.
***
Terdengar suara ayam berkokok pertanda malam berakhir dan berganti pagi. Dengan perasaan malas Nayla membuka matanya. Saat matanya terbuka terlihat Reza sedang tertidur pulas di sampingnya. Sambil tersenyum Nayla langsung mengelus pipi suaminya. Rasanya Nayla tidak ingin berpisah sedetik pun dari suaminya. Nayla semakin berharap kalau Reza tidak akan menceraikannya. Nayla sudah ikhlas kalau harus berbagi suami dengan Vera, yang penting dia tidak mau berpisah dengan Reza. Padahal sebelumnya Nayla sudah siap kalau nantinya Reza akan menceraikannya.
Tetapi melihat perlakuan Reza yang begitu baik padanya belakangan ini, Nayla semakin mencintainya. Bahkan rasanya dia tidak sanggup kalau kehilangan Reza.
Tiba-tiba Nayla tersadar ketika Reza membuka matanya. Nayla langsung gugup dan wajahnya langsung merah padam karena malu. Sedangkan Reza hanya tersenyum melihat kelucuan dari Nayla yang begitu lugu. Reza kemudian menarik tubuh Nayla dalam pelukannya.
“Mas, sudah siang aku mau bangun.”
“Sebentar lagi ya aku masih kangen sama kamu.”
“Tapi Mas, gimana kalau Vera sampai tau kamu tidur di sini. Pasti dia akan marah besar. Lebih baik kamu cepat keluar sana dari pada nanti dia melihat kamu,” pinta Nayla.
Akhirnya Reza pun keluar dari kamar Nayla karena dia tidak mau terjadi keributan lagi. Saat Reza akan keluar pintu dia kembali menoleh pada istrinya.
“Jangan lupa periksa air seni. Tespeknya udah aku letakkan di kamar mandi,” ucap Reza sambil berlalu pergi.
__ADS_1
“Iya Mas...” jawab Nayla sambil tersenyum.