
Matahari terbit dari timur, cahaya keemasan nya memasuki celah-celah jendela kamar milik sepasang kekasih yang sedang berpelukan. Celine membuka matanya perlahan, dia merasa sesak karena sang suami memeluknya erat.
"Mas, bangun! Aku tidak bisa bernafas!" pinta Celine dengan suara serak khas bangun tidur. Wanita cantik itu mendorong tubuh suaminya berharap Jino melepaskan nya.
"Hemm." Jino bergumam pelan, dia melonggarkan pelukannya. Namun, tak ada tanda-tanda dia melepaskan pelukan tersebut.
"Mas, bangun! Ini udah pagi, loh!" ucap Celine berusaha membangunkan sang suami.
"Nanti saja bangunnya, Sayang. Hari ini 'kan libur kerja. Aku mau tidur seharian penuh! Capek mikirin kerja terus!" balas Jino serak seraya menyembunyikan wajahnya ke dalam ceruk leher Celine mencari kenyamanan dalam pelukan sang istri.
Celine tersenyum kecil karena nada bicara Jino tersirat nada manja. Dia penasaran bagaimana bisa Jino berubah menjadi monster sangat menyeramkan bila sedang marah.
"Giliran baik-baik banget, giliran jahat, jahatnya pun kebangetan," gumam Celine pelan seraya memainkan rambut sang suami.
"Siapa?" tanya Jino parau membuat Celine ingin mengetuk kepala sang suami dengan palu karena merasa geram.
"Ya siapa lagi kalau bukan kamu, Mas!" ketus Celine dengan nada kesal seraya menjewer telinga sang suami karena gemas.
Berani sekali Celine menjewer telinga Jino? Tentu saja berani kalau Jino dalam keadaan manja dan baik. Tapi, jangan coba-coba bila sedang marah. Untuk menatap mata Jino saja Celine tak berani karena pria itu benar-benar seperti kerasukan iblis bila sedang marah.
"Ah … sakit, Babe. Ini telinga, bukan mainan!" Jino membuka matanya lebar lalu menarik tangan sang istri menggigit jari Celine.
"Ah … sakit, Mas. Ini jari loh bukan makanan!" sungut Celine menarik tangannya membuat Jino terkekeh kecil.
"Tapi halal kan kalau aku masukin ke dalam mulut?" Jino tersenyum mesum membuat pipi Celine merona. Wanita cantik itu menghadiahkan pukulan ke bahu sang suami.
Plak.
"Jangan macam-macam, rambut aku masih basah! Pinggang ku masih sakit karena main nya di lantai kamar mandi kemarin!"
Celine memelototkan matanya ke arah Jino, teringat jelas bagaimana percintaan panas mereka kemarin sore di dalam kamar mandi. Saking tak tahannya mereka tak sanggup lagi pindah posisi ke atas ranjang.
Jino tertawa lepas melihat wajah sang istri seperti angry bird karena pipinya merah merona.
"Tapi sakitnya sakit nikmat, 'kan sayang! Buktinya kamu bilang mas enak mas enak!" ejek Jino membuat Celine mu, wanita cantik itu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Mas, lebih dalem lagi!" Jino merengek meniru Celine yang menangis kenikmatan tempo lalu membuat Celine kesal dan memukuli suaminya.
"Mas?!" teriak Celine geram seraya menghadiahkan pukulan pada tubuh suaminya bertubi-tubi.
__ADS_1
Tawa Jino pecah karena merasa gembira bisa menggoda sang istri. Celine mengambil bantal memukul tubuh suaminya membuat Jino terus tertawa.
"Kamu ya! Sukanya bikin aku kesel!" Celine terus memukul sang suami dengan pukulan keras namun tak berarti apa-apa bagi Jino karena tubuh pria itu lebih keras dan gagah daripada bantal.
Jino menghindari Celine, dia bangkit dari atas ranjang berlari dan Celine pun mengejarnya dari belakang. Kedua insan itu main kejar-kejaran seperti Tom and Jerry.
Celine dan Jino tertawa bersama menikmati kebersamaan mereka. Hal biasa yang mereka lakukan bila sedang baikan adalah bercanda, bercinta dan bermanja-manja.
Namun, bila marah? Jangan harap bisa bermanja-manja. Bisa-bisa Celine di telan bulat-bulat oleh Jino.
"Mas, jangan lari kamu!" teriak Celine mengejar suaminya keluar kamar.
"Mana ada aku lari! Ini aku lagi jalan, kaki kamu aja yang kependekan tidak bisa mengikuti langkahku!" balas Jino tertawa membuat Celine kesal.
Hap.
Celine memeluk Jino dari belakang berhasil menangkap suaminya.
"Yee … aku tangkap kamu!" pekik Celine senang.
Ekhm.
Gleg.
Celine menelan ludahnya kasar, dia merasa sangat malu sekaligus takut setiap bertemu dengan keluarga Jino.
"Cih, apa-apaan sih main kejar-kejaran! Kalian kira masih kecil apa?" dengus Margaret ibu Jino menatap sinis Celine yang bersembunyi di balik tubuh kekar Jino.
"Namanya aja pengantin muda, Mbak. Jelas lah mereka masih suka main kejar-kejaran, nanti juga kalau udah punya anak mana bisa lagi mereka main beginian!" jawab Tante Mela lembut membuat Celine tersenyum kecil.
Hanya Tante Mela ibu tiri Bunga sepupu Jino yang tampak tulus dan menerima kehadirannya. Tante Mela juga dulunya orang miskin, hanya pengasuh Bunga saja. Namun, siapa tahu ayah Bunga jatuh cinta pada ketulusan Tante Mela dan mereka pun menikah.
"Punya anak? Ck … udah berapa bulan mereka menikah tapi belum juga tuh Missqueen hamil. Aku dulu menikah sama papanya Jino baru tiga Minggu langsung hamil!" sungut Margaret menatap sinis Celine.
"Mandul kali, Ma!" seloroh Siska membuat hati Celine.
Wanita cantik itu mengeratkan pelukannya pada Jino. Bersembunyi di belakang tubuh sang suami tanpa berani membalas kata-kata tajam mertua dan iparnya.
Katakanlah Celine penakut? Karena kenyataannya memang seperti itu. Jino mengepalkan tangannya erat, dia berusaha menahan gemuruh dalam dadanya.
__ADS_1
"Cukup?! Kalau kalian datang ke sini hanya ingin menghina istriku, silahkan pergi! Kalau kalian ingin melihat keadaan kami seperti apa? Maka jawabannya kami baik-baik saja, hidup bahagia tanpa ada kekurangan harta atau makanan. Jadi, kalian bisa pergi dari sini!" tegas Jino lantang dengan suara pelan penuh penekanan.
Celine tersenyum senang dalam hati karena sang suami membela nya.
'Rasakan, emang enak di usir anak sendiri? Kalian sih … datang-datang tanpa undangan macan jelangkung aja. Sekali datang kalau ngomong, nyelekit nya minta ampun,' batin Celine tertawa cekikikan.
Dasar Celine? Beraninya mengomel dalam hati. Kalau depanan mana berani dia.
"Nah, 'kan, makin kurang ajar memang kamu, Jino. Semenjak menikah dengan si kampret itu! Udah Missqueen, bervirus juga dia. Bisa-bisanya Jino ku yang dulunya patuh dan baik, berubah jadi kasar begini sama mamanya sendiri!" omel Margaret tanpa memperdulikan Jino, dia langsung menghempaskan bokongnya ke atas sofa.
Celine mengepalkan tangannya erat, dia mencubit pinggang suaminya seolah mengadu pada Jino. Pria tampan itu berusaha menahan senyumnya antara kesal dan senang.
Kesal karena Celine benar-benar penakut, mungkin kalau dia berada di posisi Celine, sudah ia Jambak rambut ibunya.
Senang karena Celine amatlah bergantung padanya. Dia merasa berguna menjadi seorang suami.
Jino sengaja tak menolong Celine. Dia hanya diam saja, Margaret terus mengomel menghina Celine. Wanita cantik itu pun terus mencubit pinggang suaminya.
"Mas, bantuin dong! Jangan jadi patung saat istri sendiri di hina," gumam Celine pelan merajuk membuat Jino menarik tangan Celine, membawa wanita itu berdiri di sampingnya lalu berbisik pelan.
"Tambahkan durasi jatah malam aku, baru aku bela kamu? Gimana? Oke, nggak?" bisik Jino pelan membuat Celine membelalakkan matanya.
*
*
*
Wkkw 🤣🤣 emang kaum Adam itu kalau membantu kaum hawa pasti Adamaunya. nggak mau bantu secara cuma-cuma 🤭🤭
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰
Mampir juga ke novel temen author 😍😍
__ADS_1