Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Maafkan Papa, Baby


__ADS_3

Junior – ayah Jino merasa terkejut saat mendengar suara jeritan menantunya. Dia menghubungi Jino karena ingin menanyakan perkembangan perusahaan mereka. Tetapi, dia malah di kejutkan dengan suara jeritan menantunya.


Perasaan pria paruh baya itu merasa tak enak. Entah apa yang terjadi pada rumah tangga anaknya, yang jelas dia paham betul tingkah laku anak nya yang bipolar.


"Kenapa, Pa? Kok, wajah Papa tegang begitu?" tanya Margaret penasaran melihat suaminya.


"Kita harus ke rumah Jino, sepertinya menantu kita sedang dalam bahaya!" ujar Junior cepat membuat Margaret terkejut.


"Apa yang terjadi, Pa? Kenapa bisa si gembel itu dalam bahaya? Bukannya ada Jino yang selalu jagain dia!" Margaret bertanya karena merasa aneh dengan perkataan sang suami.


"Papa tidak tahu, Ma. Yang jelas kita harus cepat-cepat ke sana jarena tadi papa mendengar Celine teriak minta tolong!" balas Junior cepat buru-buru melangkah keluar dari kamar.


Margaret tak bisa tenang, wanita itu merasa sangat khawatir. Meski dia tidak menyukai Celine, tetapi dia tetap khawatir dengan keadaan wanita itu.


"Semoga saja tuh gembel tidak kenapa-kenapa?" gumam Margaret berdoa.


***


Jino memeluk erat tubuh istrinya. Tubuh Celine bergetar ketakutan, dia tak mampu lagi mengeluarkan suaranya karena rasa takutnya pada Jino membuat lidahnya kelu.


"Kita minum obat sekarang ya, Sayang! Kamu tenang saja, dalam kurun waktu 4 jam janin nya akan segera keluarga dari rahim kamu! Obat yang aku beli ini mahal, kualitas nya terjamin dan sudah terbukti tidak membahayakan kesehatan juga nyawa!" ujar Jino pelan tersenyum lembut seraya menghapus air mata Celine.

__ADS_1


Biasanya Celine akan merasa klepek-klepek dan bahagia bila melihat Jino tersenyum. Namun, saat ini dia merasa ketakutan dan terancam melihat senyuman suaminya.


"Eng-gak mau … hiks …" Susah payah Celine mengeluarkan suaranya. Bergetar bibirnya saat berkata saling takutnya dia pada Jino.


"Cup cup cup … jangan takut, Sayang. Kamu tidak bakal merasa kesakitan! Tidak usah sedih juga karena tanpa anak aku juga akan tetap mencintaimu!" Jino tersenyum manis seraya terus menghapus jejak air mata istrinya.


Celine memejamkan matanya ketakutan. Dia menangkup kedua tangannya di atas dada bermohon pada Jino agar tak membunuh janin nya.


"Mas, aku mohon … hiks … jangan bunuh anak kita! Bagaimanapun dia darah daging kamu!" Celine membawa tangan Jino mengelus perutnya. Wanita cantik itu tersenyum dengan mata berair.


"Coba rasakan, Mas. Bukankah terasa hangat hatimu saat menyentuh perut ku! Tidak akan lama lagi perut ku akan membesar, dan janin nya akan berkembang. Nanti dia bisa mendengar dan merespon saat kita berbicara! Bukankah ini menyenangkan?"


"Jangan takut aku lemah! Hal bisa bagi ibu-ibu hamil mengalami gejala pusing dan mual-mual. Tapi, aku janji akan.mrnjaga pola makan ku, … aku juga akan minum susu ibu hamil, Mas."


Celine berbicara lembut walau suaranya bergetar. Dia berusaha meyakinkan sang suami bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Jino yang mendengarnya pun menangis. Dia berlutut di hadapan Celine lalu memeluk perutnya membuat hati Celine bergetar tak karuan.


Dia merasa sangat senang karena mengira suaminya luluh. Namun, kembali hancur hatinya di kala mendengar ucapan Jino.


"Hai, Baby! Maafkan Papa ya … papa harus bunuh kamu karena tidak ingin mama kamu kenapa-kenapa? Papa tidak ingin kamu bawa pergi mama lagi. Seperti kakak mu dulu membawa pergi mama Melisa untuk selama-lamanya!" 

__ADS_1


"Papa sayang kamu, Baby!" bisik Jino dengan suara serak membuat Celine menangis histeris.


"Mas, a-aku mohon … ah hiks …" Celine memukul bahu Jino keras. Pria tampan itu memeluk perut wanita itu dengan erat seolah mengucapkan perpisahan pada calon buah hati mereka.


Hancur hati Celine, dia begitu mengharapkan kehadiran anaknya selama ini. Namun, harapan nya di bunuh oleh suaminya sendiri.


"I love you, Baby. Nanti kalau kamu tiba di surga, kirim salam untuk kakakmu dan Mama Melisa!" lirih Jino pelan lalu mencium perut rata Celine.


Pria itu segera berdiri, tangan kanannya mencengkram tangan Celine agar tak lari. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengambil obat penggugur kandungan. Dia menggigit bungkusan nya.


"Lepasin, Mas … ahh … siapapun tolong aku?! Ya Allah … hiks." Celine berteriak meminta tolong berharap ada sosok pahlawan menolong dirinya dari kegilaan suaminya.


*


*


Kasihan dua-duanya menurut author, Celine kasihan karena ketakutan dan Jino kasihan karena trauma sehingga buta dalam melihat kebenaran.


bersambung.


jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰

__ADS_1


salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2