
Tak berselang lama dokter keluar dari ruangan Celine. Wajah mereka tampak cerah bersemangat seperti memiliki kabar baik. Margaret pun tak kalah bahagia sebab yakin kali ini menantunya itu akan sadar dari koma.
"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Margaret semangat.
"Alhamdulillah, menantu Anda baik-baik saja, Buk. Tadi, sempat tubuhnya mengalami kejang-kejang dan jantungnya berhenti berdetak. Tetapi, keajaiban Allah datang, menantu Anda punya semangat juang besar untuk bangun dari koma nya. Alhasil pasien berhasil melewati masa kritisnya, mungkin besok pasien akan sadar!"
Dokter tersebut menjelaskan dengan cara terperinci membuat Margaret tidak bisa menahan senyumnya.
"Ternyata ide ku memang berlian, bisa membuat orang koma langsung sadar," gumam Margaret pelan masih terdengar oleh dokter tersebut, membuatnya penasaran pada ide berlian Margaret.
"Boleh saya tahu apa ide berliannya, Bu?" tanya dokter penasaran.
Dengan raut wajah angkuh dan dagu terangkat ke atas, Margaret berkata lantang dengan penuh percaya diri.
"Sebenarnya ide saya ini rahasia, tapi karena Anda penasaran, saya akan memberitahukan nya. Biar Anda tidak mati penasaran … ide berliannya adalah saya mengatakan pada menantu saya kalau dia tidak sadar dari koma nya, anaknya akan saya beri nama Juminten! You see … menantu saya langsung melewati masa kritis nya!" jawab Margaret panjang lebar membuat dokter tersebut tak tahu harus tertawa atau menangis.
"Pantas menantunya tadi memanggil 'anakku-anakku', rupa-rupanya takut di kasih nama Juminten," gumam dokter itu pelan seraya menggelengkan kepalanya.
Margaret segera memberi kabar bahagia ini pada Junior yang sedang bekerja menggantikan Jino di perusahaan. Juga besannya — ayah dan adik Celine untuk ke rumah sakit.
Mereka semua sangat bahagia sebab anak mereka kembali sadar setelah sekian lama koma.
***
__ADS_1
Matahari terbit dari timur, cahaya keemasan nya masuk ke dalam celah-celah jendela kamar rumah sakit. Suasana ruangan itu diliputi kebahagiaan karena Celine telah sadar dari komanya.
"Alhamdulillah, Cel. Ayah bahagia kamu sudah sadar!" Ja'far memeluk lembut anaknya. Pria tua itu meneteskan air matanya karena merasa sangat bahagia.
"Celine harus sadar, Yah. Kalau enggak siapa yang akan menjaga putri Celine!" ujar Celine pelan membuat Margaret gugup sedangkan keluarga yang lainnya merasa tersinggung.
"Tentu ada kami, Nak. Kami semua dengan senang hati menjaga putrimu. Selama dirumah sakit, kamu menjaganya bergantian. Agar dia tidak di tukar atau di culik seperti di sinetron!" ujar Junior dengan nada tegas membuat Celine mengerucutkan bibirnya.
"Tapi, kata mama kemarin, nggak ada yang mau jagain anakku, Pa. Huwaa!" Celine menangis membuat Ja'far memeluknya erat.
Sedangkan Junior dan lainnya langsung menatap tajam ke arah Margaret seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup. Margaret pun tertawa cengengesan seraya mengangkat dua jarinya ke atas kepala.
"Hehe … aku sengaja mengancam Celine, agar dia punya semangat juang untuk sadar. See … sekarang Celine sadar, berarti rencana ku berhasil!"
Bahkan, selama ini Margaret lah yang sangat sering menjaga bayi mungil itu. Dia yang paling setia di rumah sakit, karena Margaret tidak mau pulang ke rumah. Setiap malam dia tidur hanya 4 jam, tak jarang dia menjenguk ruangan Jino tengah malam.
"Entah aku harus bangga atau tidak, Ma!" gumam Junior pelan membuat mereka semua terkekeh kecil.
"Ma, bayi ku mana?" tanya Celine tak sabar ingin bertemu dengan putrinya.
"Anak kamu masih tidur, tadi mama mau bawa dia kemari tapi kasihan. Kita tunggu dua jam lagi saat dia sadar, baru nanti mama bawa dia ke sini!" balas Margaret cepat membuat Celine mengangguk kepalanya lemah.
Dia melihat ke segala penjuru ruangan, tak menemukan kehadiran Jino. Celine tersentak kaget, bayangan saat Jino luruh ketika melihatnya pendarahan terlintas begitu saja dalam benaknya.
__ADS_1
Apa yang terjadi pada suaminya saat itu?
Lalu di mana suaminya sekarang?
Siapa yang menyakitinya saat itu?
Berbagai tanda tanya timbul dalam benaknya. Membuat Celine gelisah.
"Kamu kenapa, Mak?" tanya Jafar ketika melihat raut wajah gelisah putrinya.
"Mas Jino di mana, Yah? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Celine cepat membuat wajah mereka semua tegang.
"Jino koma," balas Margaret hati-hati membuat Celine melebarkan matanya.
*
*
Author up lagi nih … kalau komentarnya tembus 100, author bakal triple up. Buat yang baca, please masukkin dalam rak buku yah — favorit.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰
__ADS_1
Zal Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰