Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Keadaan Celine


__ADS_3

Suasana di rumah sakit berubah menjadi sangat tegang, Margaret dan Junior tak henti-hentinya berdoa dalam hati agar kondisi anak juga menantunya baik-baik saja, terlebih lagi mereka berharap semoga cucu mereka juga selamat. Jino si tangani oleh dokter Smith sedangkan Celine di tangani oleh dokter bedah.


Junior menghubungi Fang menyuruh anak buahnya itu untuk memeriksa CCTV. Dia mencurigai bahwa ada orang jahat yang mencelakai menantunya. Karena setahunya Celine wanita yang baik tidak punya musuh.


"Fang, cari siapa dalang nya! Kalau sudah dapat langsung bawa ke markas, jangan sampai polisi yang menemukannya terlebih dahulu. Karena aku ingin menyiksa bajingan itu dulu, setelahnya baru kita arahkan ke polisi. Cari sampai ke akarnya?! Mengerti?!" tegas Junior berbicara melalui telepon dengan Fang.


"Baik, Pak!"


Junior segera menutup teleponnya. Dia mengepalkan tangannya erat karena geram dan murka terhadap orang yang mencelakai menantunya.


Apalagi putranya kini juga harus di tangani oleh dokter karena traumanya kambuh. Masih teringat jelas bagaimana histerisnya Jino setelah kematian Melisa, sebab anaknya itu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Melisa pendarahan di hadapannya dan meninggal di tempat.


Margaret menangis sesegukan karena takut sesuatu yang buruk terjadi.


"Pa, mama takut kalau Celine dan cucu kita kenapa-kenapa! Hiks … pasti Jino nantinya akan seperti dulu lagi! Mama takut kalau Jino sampai bunuh diri, Pa!" tangis Margaret pecah dalam pelukan suaminya.


Mental anaknya pasti akan kembali down. Bila sampai Celine berakhir seperti Melisa.


"Sabar, Ma. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendoakan yang terbaik untuk mereka bertiga!" ujar Junior lembut seraya menepuk punggung Margaret yang bergetar.


Tak seberapa lama Siska, Tante Mela, Bunga juga sanak keluarga besar mereka datang. Siska menangis lalu bergabung memeluk ibu dan ayahnya.


Bagaimanapun dia sangat menyayangi sang kakak.

__ADS_1


"Mama, Papa!" Siska menangis ketakutan. Dia adalah saksi mata bagaimana gilanya sang kakak dulu setelah kematian Melisa.


Pintu ruang UGD pun terbuka. Dokter wanita yang menangani Celine pun keluar dengan raut wajah serius.


"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Jafar ayah Celine dengan raut wajah khawatir.


"Kondisi nya sangat parah, Pak. Pasien mengalami pendarahan hebat, untung saja kami punya stok darah banyak. kami juga harus melakukan operasi Caesar sekarang juga demi menyelamatkan bayinya."


"Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya, Dok!" ujar Ja'far penuh harap.


"Baik, Pak. Kalau begitu silahkan urus biaya administrasi nya terlebih dahulu!" balas sang dokter membuat Junior mengepalkan tangannya erat.


"Tidak perlu takut, kami punya banyak uang untuk membayar biaya nya. Bila perlu rumah sakit ini kita beli!" tukas Junior kesal dengan prosedur rumah sakit di Indonesia.


Gila bukan? Untung saja Junior punya uang banyak jadi tidak ada kendala untuk melakukan pembayaran nya dan menantunya bisa di tangani dengan cepat.


Lalu bagaimana orang-orang miskin yang bermodalkan BPJS?


Tak usah menjawab, karena semua orang miskin tahu jawaban.


Margaret yang ikutan kesal pun berkata sarkas membuat sang dokter menelan ludahnya kasar.


"Tanpa kalian ingatkan tentang biaya, kami sudah dulu memikirkan nya, Goblok! Kamu kira tampang kami orang miskin, huh?! Jangankan biaya administrasi, harga dirimu pun sanggup kami beli!" sentak Margaret tajam dengan suara tercekat sebab menangis.

__ADS_1


"Bukan begitu, Buk. Kami—," belum sempat dokter itu berbicara Siska lebih dulu memotong nya.


"Nggak usah banyak alasan! Buruan selamatkan kakak ipar dan keponakan gue?!" bentak Siska kesal membuat dokter itu pun langsung masuk ke dalam ruangan.


Brankar Celine di dorong menuju ruang operasi. Mereka semua merasa sangat khawatir melihat raut wajah Celine yang pucat pasi dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.


Mereka semua mengikuti Celine ke ruang operasi yang bersebelahan dengan ruangan Jino. Tepat pintu ruangan operasi Celine tertutup, dokter yang menangani Jino keluar.


"Smith, bagaimana keadaan putraku?" tanya Junior khawatir.


"Maaf," Dokter Smith menundukkan kepalanya.


*


*


Maaf baru up, author lagi sakit, darah rendah 70, lambung sakit, dan demam.


Yukk komentar yang banyak, tembus 100 biar author semangat up.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


__ADS_2