Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Pertemuan Celine dan Jino


__ADS_3

Celine pulang ke rumah besar orang tua Jino. Jantung wanita itu berdegup kencang tak sabaran ingin bertemu dengan suaminya. Sejujurnya dia masih marah pada Jino dan sedikit trauma. Namun, dia sadar bahwa saat ini Jino lebih sedang membutuhkan dukungan nya.


"Di mana ruang bawah tanah nya, Pa?" tanya Celine tak sabaran ingin bertemu dengan suami tercintanya.


"Kamu tidak ingin istirahat dulu, Celine?" Junior bertanya balik karena mengkhawatirkan keadaan menantu nya yang baru saja pulang dari rumah sakit.


"Aku baik-baik saja, Pa. Aku hanya ingin bertemu dengan Mas Jino!" ujar Celine cepat penuh harap membuat Junior menghela nafas berat.


"Baiklah, ayo ikut papa!" ajak junior berjalan menuju ruang bawah tanah rumahnya.


Rumah mertua Celine benar-benar megah bak rumah para selebriti Hollywood. Terdapat banyak kamar yang didekor megah.


***


Margaret celingukan mencari Celine. Dia yang tadinya pulang belakangan karena ingin membeli perlengkapan ibu hamil dan tak lupa dia membeli pakaian bayi yang lucu-lucu. Padahal kandungan Celine baru beberapa Minggu, namun wanita tua itu sudah bersemangat tak sabar menunggu kehadiran cucu pertama nya.


Tante Mela yang juga mampir di rumah kakak iparnya itu pun terkekeh kecil melihat kakak iparnya yang sudah menunjukkan kepedulian nya pada Celine.


"Itu apa, Mbak?" tanya Tante Mela membuat Margaret terkejut tak menyadari keberadaan adik iparnya.


"Omo … kamu ada di sini, Mel? Kapan kamu datang? Oh iya … coba lihat ini, cantik-cantik baju nya 'kan?" Margaret bertanya dengan penuh semangat pada Tante Mela membuat wanita dewasa itu tersenyum kecil.


"Jadi, ceritanya sekarang Mbak udah mau menerima kehadiran Celine? Bukannya dulu Mbak tidak suka sama Celine karena dia miskin? Hehe … benar 'kan, Mbak. Apa yang aku bilang dulu kalau Celine itu gadis baik dan tulus. Cocok menjadi pendamping Jino!" goda Tante Mela membuat Margaret merasa kesal, seolah menjilat ludahnya sendiri.


"Ekhm … siapa bilang aku sudah menerimanya? Tentu saja belum … mana mau aku punya menantu miskin seperti dia! Berhubung dia lagi hamil keturunan keluarga Eduardo, aku harus menjadi mertua yang baik agar si Missqueen itu tidak stress. Udah ah … nyesel aku ngomong sama kamu!" sungut Margaret merasa malu lalu memboyong barang-barangnya ke dalam kamar.

__ADS_1


Tante Mela yang melihatnya hanya.visa tertawa kecil.


"Dasar … sok jual mahal! Padahal murah," gumam Tante Mela terkekeh geli menatap punggung kakak iparnya.


*


*


Celine membuka pintu ruang isolasi membuat Juni dan dokter Smith menoleh ke arahnya. Mata Jino terbuka lebar ketika melihat sang istri kini berdiri di depan pintu menatapnya dengan mata yang bergetar menahan tangis.


Celine melihat penampilan Jino yang terlihat berantakan. Wajahnya di tumbuhi bulu halus dan pipinya semakin tirus menandakan sang suami tidak makan dengan teratur.


"Celine."


"Mas Jino."


Barulah Junior melepaskan tangan Celine, membuat wanita cantik itu segera berlari memeluk erat tubuh suaminya.


Wanita cantik itu menangis menumpahkan segala rasa sedih dan rindunya salam pelukan Jino. Tak hanya Celine yang menangis, pria tampan yang mengidap bipolar itu pun menangis.


Dia merasa sangat rindu dan bersalah karena telah melakukan hal yang menyakiti Celine. Dia di buatkan amarah dan rasa trauma nya. Bisikan setan terdengar tegas bak komando membuat Jino tega memaksa sang istri meneguk obat penggugur kandungan.


"Aku rindu kamu, Mas!" ujar Celine lirih dengan suara bergetar.


Dokter Smith dan Junior pun memilih keluar dan melihat melalui dari dinding kaca luar saja. Sebab tak ingin mengganggu pertemuan penuh kerinduan sepasang insan itu.

__ADS_1


"Aku juga, Sayang! Maafkan aku karena sudah jahat sama kamu!" Jino menangis sesenggukan. Sebenarnya dia merasa malu harus menangis di dalam pelukan istrinya.


Tetapi, rasa sesal dan bersalah dalam dadanya tak mampu ia tahan lagi. Ia ingin segera memohon meminta maaf pada sang istri.


Selama melakukan hipnoterapi, Jino sadar bahwa dia telah bersalah pada Celine. Tak seharusnya dia berniat membunuh anaknya.


"Aku masih belum bisa maafin kamu, Mas," ucap Celine parau membuat pelukan Jino melemah.


"Aku benci dan takut sama kamu, Mas," lanjut Celine membuat tubuh Jino menegang.


Degg.


Sakit??


Itulah yang Jino rasakan!!


*


*


Jadi, mellow gini … hiks … ayok bantu Vote dan komentar banyak biar author semangat. Dan kalau komentarnya tembus 100 author up lagi.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰


__ADS_2