Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Pembalasan Celine


__ADS_3

Celine ingin sekali menampar pipi sang suami karena telah mengumpatnya. Merasa geram tentulah Celine rasakan karena sang suami belum juga sadar akan kesalahannya.


"Aku mau kita pisah ranjang, Mas. Biar kamu bisa merenung apa kesalahan mu hari ini?! Kalau perlu kita pisah rumah sekalian?!" sentak Celine tak ingin di bantah membuat Jino membelalakkan matanya.


Pisah ranjang?


Pisah rumah?


Oh tentu saja tidak bisa, pisah ranjang berarti tak dapat jatah malam. Tak bisa bermanja-manja dengan istrinya, tak bisa mengobrol sebelum tidur.


Pisah rumah? Pisah ranjang saja Jino tak sanggup. Apalagi pisah rumah.


Tidak bisa!! Karena Jino adalah pihak yang paling di rugikan. Di mana-mana kalau pisah ranjang pasti laki-laki yang paling rugi.


"Apa? Pisah ranjang maksud kamu? Oho … jangan bercanda, Celine. Aku nggak mau!" tegas Jino tak terima membuat Celine mengepalkan tangannya erat.


"Terserah! Pokoknya aku mau kita pisah ranjang, Mas. Aku lagi marah dan kecewa sama kamu, kalau kita dekat-dekat rasanya aku pengen Jambak rambut kamu!" teriak Celine dengan air mata berlinang.


Dia menangis karena merasa sangat kesal dan marah pada sang suami. Tak bisa lelaki itu paham dan sadar akan kesalahannya. Minimal introspeksi diri sendiri tetapi Jino tak bisa melakukannya. Karena sebelum introspeksi dia sudah merasa sempurna.


"Okay, kalau begitu! Kita pisah ranjang tapi aku tidak akan kasih nafkah kamu selama kita pisah ranjang!" Jino tersenyum angkuh karena mengira rencana nya pasti akan berhasil.


Sontak saja Celine melebarkan matanya terkejut. Tak menyangka sang suami akan selicik itu tak mau memberikan nafkahnya karena persoalan pisah ranjang.


"Loh, kenapa begitu, Mas? Tidak bisa, yang namanya nafkah harus tetap kamu kasih karena itu kewajibanmu dan meminta nafkah adalah hak aku sebagai istri!" tolak Celine mentah-mentah membuat Jino tersenyum sinis.


Enak sekali istrinya mengatakan hal demikian.


"Terus bagaimana dengan nafkah batin ku? Bagaimana dengan hak ku sebagai suami kamu?" tanya Jino seraya melangkah mendekati Celine.


Membuat wanita cantik itu berjalan mundur tak berani menatap wajah sang suami karena takut dan gugup. Kali ini Jino menatapnya dalam penuh intimidasi.


"Ya sudah kalau begitu!"


Jino tersenyum lebar mengira Celine akan mengurungkan niatnya untuk pisah ranjang. Namun, senyuman itu langsung pudar saat Celine melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan minta nafkah sama kamu lagi. Toh, aku juga kerja sama kamu otomatis aku punya gaji setiap bulan! Jadi tidak masalah kalau kamu tidak mau nafkahin aku."


"Semoga saja uang kamu beranak banyak karena tidak mau nafkahin aku!" jawab Celine cemberut membuat Jino kesal.


Tak.


Jino menyentil kening Celine karena merasa geram dengan sang istri. Memang benar kata orang kalau persoalan nafkah batin, laki-laki paling tak tahan. Sedangkan wanita kalau sedang marah besar pada suaminya bisa setahun atau bahkan seumur hidup tanpa nafkah batin pun akan sanggup.


"Aduh … kamu nyakitin aku lagi? KDRT kamu, Mas! Aku laporin Komnas perempuan baru tahu rasa kamu!" ancam Celine dengan suara parau karena lelah menangis membuat sang suami tersenyum kecil.


Amarah Jino perlahan surut, entah apa yang terjadi hingga amarahnya yang tadi meletup-letup.


Grep.


Jino merangkul pinggang Celine mengikis jarak antara keduanya. Dia menggesekkan puncak hidungnya dengan puncak hidung minimalis Celine.


Aroma maskulin Jino tercium oleh Indera penciuman Celine. Wanita itu membuka bibirnya perlahan tanpa sadar.


"Kamu yakin sanggup menahan hasrat mu, Sayang? Bukankah setiap malam kamu begitu menikmati sentuhan ku hemm?"


Jino berbicara pelan seolah ingin mencium bibir Celine, namun tak jadi. Wanita itu mencengkram erat pundak Jino karena tubuhnya seolah tersengat listrik asmara.


"Damn it … tatapan mu membuat aku gila, Sayang! Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi!" desis Jino mengangkat tubuh Celine membawa masuk ke dalam kamar pribadinya.


Jino mencium rakus bibir Celine, sejenak wanita itu tak bisa berpikir jernih. Jiwa dan raganya seolah melayang ke cakrawala karena sentuhan nakal sang suami.


Jino merebahkan tubuh Celine ke atas ranjang. Dia menyentuh bagian favorit nya membuat bibir Celine ikut meracau.


Shhh


Jino tersenyum kecil mendengar suara lenguhan manja Celine. Pria itu merasa senang karena berhasil membuat sang wanita paruh di bawah kukungan nya.


"Kamu dan aku tidak bisa pisah ranjang, Sayang. Karena kita sama-sama membutuhkan ****!" bisik Jino membuat Celine tersadar kembali.


Dia membuka matanya lebar ketika Jino ingin memasukkan anaconda nya ke dalam goa milik Celine.

__ADS_1


Bugh.


Celine menendang Jino hingga terjungkal ke belakang. Wanita cantik itu menatap sang suami dengan tatapan dinginnya.


"Aku tidak butuh, Mas. Asal kamu tahu … wanita kalau sedang marah tidak akan berhasrat bercinta!" tegas Celine tajam membuat Jino menelan ludahnya kasar.


"Sayang, tapi adik kecil ku udah tegang! Please … marahnya nanti saja ya!" rengek Jino menarik tangan Celine memegang milik adik kecilnya.


Gleg.


Celine merinding memegang benda berurat milik Jino.


"Yes, Baby. Like that … faster!" Jino merem melek di buat Celine.


Senyuman usil terbit dari wajah Celine. Dia melakukannya dengan benar dan penuh semangat sehingga membuat Jino meracau tak jelas. Hingga Jino hampir sampai pada puncaknya.


"Sayang, aku mau kel–."


Jino membuka matanya melihat Celine berlari masuk ke dalam kamar mandi membuat Jino mengumpat kesal.


"SAYANG?!" teriak Jino kesal membuat Celine tertawa lepas di dalam kamar mandi.


"Rasakan!" ujar Celine tertawa lepas.


*


*


Bersambung.


Wkwkwkwk pening nggak tuh, pening lah 😂


BTW karakter Jino itu pemarah, penyayang dan dingin yah. Sedangkan di Celine itu, baik, cantik dan penakut.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰

__ADS_1


Bangu vote dong kak. Hari ini hari Senin hehe


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2