Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Jangan Hina Istriku, Ma!


__ADS_3

"Eh, menantu miskin, sana buatin minum untuk kami semua! Jangan jadi patung aja, bisanya diam sambil sembunyi di belakang tubuh suami!" sentak Margaret dengan nada sarkas membuat wajah Celine merah padam. Wanita cantik itu tak berani menjawab perkataan Margaret.


"Baik, Ma!" jawab Celine pelan lalu berlari menuju ke dapur.


Wanita cantik itu menggerutu kesal. Dia teringat sang suami yang meminta tambah durasi pada jatah malam bila ingin di bantu agar tidak di hina oleh mertuanya.


"Dasar suami jahat! Tidak pernah ikhlas bantuin istri, dikit-dikit minta imbalan! Pengen ku jitak kepalanya, awas aja nanti. Ku patahkan batang adiknya!" gerutu Celine kesal.


Jino menghempaskan bokongnya di atas sofa, dia melihat orang tua, Tante dan adiknya. Merasa heran mengapa empat orang itu datang bertamu ke rumahnya.


"Apa kabar, Ma, Pa?" tanya Jino datar menatap wajah tua kedua orang tuanya.


"Seperti yang kamu lihat, kami masih bernafas dengan hidung! Bukan dengan tabung oksigen!" jawab Junior ayah Jino santai.


Jino memutar bola matanya malas karena perangai sang ayah yang selalu bercanda. Margaret mengerucutkan bibirnya, dia masih kesal dengan menantu miskinnya.


"Jino sayang, apa kamu tidak mau menceraikan istri miskin mu itu? Biar mama carikan pasangan yang lebih cantik dan sepadan dengan keluarga kita!" tawar Margaret membuat Jino menghela nafas berat. Sangat susah baginya untuk berbicara sopan bila sedang marah, walau itu dengan orang tuanya sendiri.


"Celine adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui, sama seperti Melisa. Kalau masalah harta, aku sendiri sudah kaya, jadi, untuk apa aku harus mencari istri kaya? Lagi pula yang memberi nafkah adalah aku, bukan istriku!" jawab Jino datar berusaha menahan rasa kesalnya karena sang ibu sedari tadi menghina istrinya.


Margaret memutar bola matanya malas, sangat susah menggoyahkan pendirian sang anak. Dia ingin yang terbaik untuk anaknya dengan cara mencarikan jodoh yang lebih pantas bersanding dengan Jino.


"Tapi, kamu malah dicecar banyak orang, Sayang. Asal kamu tahu, teman-teman sosialita mama semuanya sudah tahu kalau Celine itu berasal dari kasta bawah, rasanya hampir pecah gendang telinga mama saat mereka bergosip tentang kamu dan Celine!" omel Margaret panjang lebar membuat Jino menggaruk jidatnya yang tak gatal.


"Kalau Mama merasa terganggu dengan gosip murahan temen-temen mama itu, lain kali pakai headset, Ma, saat berkumpul dengan mereka! Atau lebih baik tidak usah berkumpul agar gendang telinga mama aman-aman aja!"


Jino memberikan solusi yang bagus untuk ibunya membuat hati Margaret panas. Wanita tua itu mengibaskan rambutnya ke belakang, dia mengipasi tubuhnya sendiri dengan tangan karena merasa gerah.


"Kakak ini gimana sih? Mama itu cuma mau yang terbaik untuk Kakak, lagian bukan mama aja yang malu. Aku juga! Banyak dari mereka mengejek ku karena punya kakak ipar gembel alias miskin!" sungut Siska yang sedari tadi diam saja membuat Jino menarik turunkan alisnya.


"Siapa nama temanmu itu, ayahnya kerja di mana? Punya perusahaan berapa, huh?! Biar ku ratakan perusahaan mereka agar jadi gembel mereka semua!" sentak Jino dengan suara dingin.


Gleg.


Siska menelan ludahnya kasar ketika melihat raut wajah sang kakak berubah menjadi dingin. Bukan hanya Celine yang takut bila Jino marah, Siska pun.


Pernah sekali Siska di banting ke lantai karena telat pulang gara-gara pergi ke bar untuk mabuk-mabukan oleh Jino. Tak hanya Siska yang kena, teman-teman yang mengajaknya pun terkena amukan sang kakak.


"Siapa nama ayahnya, Sis?" tanya Jino sekali lagi membuat Siska salah tingkah.

__ADS_1


"Ekhm … halo, iya sebentar! Aku ke sana sekarang!" Siska pura-pura menerima telepon dari temannya.


"Ma, aku harus pergi ke kafe depan rumah Kak Jino! Nanti kalau mau pulang, jemput aku di sana ya! Muachh … bye-bye!" Siska memilih lari sebelum Jino mengintrogasi nya lebih lama.


Margaret dan Junior hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anak bungsunya. Siska memang sangat takut bila Jino marah.


"Sayang, please ya! Kamu ceraikan saja di Celine. Ini demi mama, anggap saja kamu menyanggupi permintaan terakhir mama?" pinta Margaret penuh harap.


"Emang mama mau meninggal?" tanya Jino sarkas membuat Junior melempar bantal ke arah muka sang anak.


"Kurang ajar kamu!" umpat sang ayah membuat Jino memutar bola matanya malas.


Jino terdiam sesaat, pria tampan itu menatap serius wajah kedua orang tuanya. Dia sadar kalau mereka menyayangi nya, tetapi Jino juga menyayangi dan mencintai istrinya.


"Ma, Pa. Please! Bersikap baiklah pada Celine istriku. Dia rela meninggalkan keluarganya demi menikah dan tinggal bersamaku! Dia wanita yang aku cintai, tolong hargai dia. Jangan hina statusnya! Dia lahir dari keluarga miskin juga bukan kemauan nya, dan aku lahir dari keluarga kaya juga bukan pilihanku!"


"Aku mohon, jangan hina dia! Menyakiti nya sama saja menyakiti ku!" pinta Jino penuh harap membuat Margaret ingin menjawab, namun Junior sudah menggenggam tangan nya melarang sang istri.


Celine datang membawakan minuman, dia tersenyum paksa seraya meletakkan gelas minuman di atas meja.


"Silahkan di minum, Ma, Pa, Tante!" ujar Celine tersenyum paksa.


"Cih, tidak usah senyum begitu! Wajah mu tetap jelek!" ejek Margaret membuat senyuman Celine pudar.


Jino menarik tangan sang istri agar duduk di sebelahnya.


"Kamu cantik, Sayang!" puji Jino membuat pipi Celine merona.


Margaret yang mendengarnya pun berdecak kesal. Wanita tua itu merasa gerah dan memilih untuk minum.


Prueeehh.


Margaret menyemburkan minuman yang ia minum.


"Dasar menantu sialan! Kenapa jus nya asin?" bentak Margaret membuat Celine terkejut. Matanya berkaca-kaca ingin menangis.


"Ma?! Tak usah membentak istriku, dia tidak tuli!" bela Jino tegas.


Tante Mela yang sedari tadi diam pun bersuara.

__ADS_1


"Kok asin, Mbak? Jus ku manis kok, sini coba aku rasa punya, Mbak!" pinta Tante Mela heran lalu mengambil jus milik Margaret dan mencicipi nya.


"Manis kok, Mbak. Sama seperti punya ku!" ujar Tante Mela membuat Margaret mengernyitkan dahinya.


Dia tidak berbohong karena memang minumannya terasa asin.


"Ta-tapi …"


"Sudah cukup, Ma! Lebih baik kalian pergi sekarang! Lain kali kalau datang ke sini hanya untuk membuat keributan, lebih baik tak usah!" usir Jino dengan nada dingin membuat Junior mengajak istrinya pulang.


Margaret mengerucutkan bibirnya. Dia pun pulang dengan rasa kesalnya yang mendalam.


Tante Mela tertinggal di belakang. Wanita dewasa itu tersenyum lembut. Dia memeluk Celine lalu berbisik.


"Harusnya lebih asin lagi!" bisik Tante Mela membuat Celine menggigit bibirnya gugup.


"Jino, jaga istri kamu baik-baik! Tante pulang dulu."


***


Prolog.


Celine merasa kesal karena mertua perempuan nya sangat cerewet. Wanita cantik itu pun tersenyum jahil saat ide usil terlintas dalam benaknya.


"Aku kasih garam aja dalam minumannya, biar darah tingginya naik! Terus kepalanya sakit dan pulang deh ke rumahnya! Tapi, jangan banyak-banyak juga, takutnya dia malah pulang ke pangkuan Ilahi! Hihi!" tawa Celine cekikikan seraya mengaduk jus jeruk milik Margaret.


*


*


Wkwkwkwk 🤣 🤣 si Celine mah diam-diam menghanyutkan ya, Bun. Untung ada garam, coba kalau racun, udah teler tuh Margaret!


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5.


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰


Mampir juga ke novel temen author 🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2