Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Cinta Tanpa Syarat


__ADS_3

"Aku masih belum bisa maafin kamu, Mas!" ujar Celine dengan suara parau membuat tubuh Jino menegang.


"Aku benci dan takut sama kamu, Mas." Celine menambahkan membuat pelukan hangat penuh kerinduan itu lepas.


Pria tampan itu menatap nanar wajah sembab Celine. Dia membuang wajahnya ke sembarang arah. Sejenak suasana hening hanya terdengar suara Isak tangis keduanya.


Sakit? Tentu saja Jino rasakan. Bukan hanya Celine yang membenci Jino, tetapi dia juga membenci dirinya sendiri.


Mengapa harus dia yang mengidap bipolar? Mengapa dia tak bisa menjaga emosinya dan berpikir jernih kala itu?


Mengapa dia tak bisa melupakan trauma nya dan percaya pada Celine, bahwa dia bukan Melisa — mendiang istrinya. Mereka berdua berbeda dan takdir mereka pun begitu.


"Hemm …bukan hanya kamu yang benci! Tapi, aku juga, Cel. Aku benci diri aku sendiri."


Jino berucap pelan dengan suara bergetar. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya, tetapi dia berusaha tegar dan mengontrol dirinya agar tak histeris.


"Bukan kemauan ku begini! Andai aku bisa memilih aku juga ingin hidup normal tanpa penyakit sial ini! Aku lelah, Cel … lelah."


Jino berbalik membelakangi Celine. Pria itu tak ingin menunjukkan wajah sendunya. Dia tak ingin tampak lemah di depan wanita yang ia cintai.


"Aku bisa apa kalau kamu benci sama aku, Cel?" Jino bertanya lirih dengan suara yang nyaris hilang.


Wanita cantik itu pun merasa sangat sedih mendengar perkataan sang suami. Dia segera memeluk erat tubuh Jino dari belakang.


"Aku benci dan marah sama kamu karena kamu menutupi penyakit mu dari aku! Berbagai tanda tanya timbul begitu saja dalam benakku. Apa kamu tidak menganggapku sebagai orang penting dalam hidup kamu, sampai-sampai penyakitmu itu kamu rahasiakan?"


Jino yang mendengarnya pun ingin berbalik memeluk Celine, namun wanita cantik itu mengeratkan pelukannya tak ingin Jino balik.


"Awalnya aku benci dan ingin pisah dari kamu!" ujar Celine parau membuat tubuh Jino terasa lemas. Bak ditusuk ribuan jarum dadanya terasa sangat sakit.


Pisah? Cerai?


Membayangkan nya saja tak pernah. Jino tidak bisa membayangkan bila dia berpisah dengan Celine.


"Tapi, setelah aku tahu bagaimana keadaan mu sebenarnya, rasa benci dan niat berpisah denganmu menghilang dengan sendirinya, seolah tak pernah terbersit dalam benak ku untuk berpisah denganmu."

__ADS_1


Celine mengeratkan pelukannya mengecup punggung Jino berulang kali. Tak sedikit air mata yang turun membasahi pipinya.


Tubuh Jino dan Celine sama-sama bergetar. Bukan karena hasrat, tetapi karena rasa sedih, berusaha menahan tangis agar tak pecah membuat tubuh mereka berdua bergetar.


"Kenapa? Apa karena kamu kasihan pada pria bipolar seperti ku? Atau kamu takut bila pisah, monster seperti ku mengusik kehidupanmu?" tanya Jino dengan suara berat nya.


Pria itu tak mampu menahan air matanya agar tak jatuh.


Celine menggelengkan kepalanya cepat. Terdengar suara Isak tangisnya yang semakin menjadi. Hatinya terasa sakit mendengar Jino menyebut dirinya MONSTER. Teringat malam itu dia memakai Jino dengan sebutan Monster.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan pria yang aku cintai dalam keadaan lemah dan terpuruk seperti ini?"


"Bagaimana bisa aku bahagia sedangkan kamu hidup dalam gelap nya trauma masa lalu mu?"


"Tahukah kamu, Mas. Kalau aku mencintaimu bukan karena harta dan tahta? Sumpah demi apapun, aku mencintaimu tulus karena jiwa mulia mu."


"Aku mencintaimu tanpa syarat, tanpa cacat dan tanpa cela. Tidak peduli separah apa penyakitmu, aku tetap berada di samping mu."


"Aku akan terus merawatmu, menyediakan bahuku untuk sandaranmu, berjanji akan menjadi pendengar setia mu seumur hidup."


"Aku tidak akan meninggalkan mu, terkecuali kamu sendiri yang mengusirku dalam hidupmu, Mas!"


Deggg.


Jantung Jino berdetak dengan kencang. Hatinya berdebar-debar tak karuan seolah ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.


Beban yang dipikulnya selama ini menghilang, seolah telah di angkat. Tak lagi berada di punggungnya. Ada rasa lega yang tak mampu dijabarkan dengan kata-kata.


"Aku cinta sama kamu, Mas. Benar-benar cinta sama kamu?!" teriak Celine dengan suara parau nya membuat Jino berbalik lalu membalas pelukannya.


Pria tampan itu menangis dalam sesegukan. Keduanya saling mengucapkan kata cinta, mengungkapkan isi hatinya.


"Aku juga cinta sama kamu, Sayang."


Celine memilih mempertahankan pernikahan nya dan Jino. Bagaimana bisa terjadi? Bukankah seharusnya Celine marah karena Jino sudah berbuat jahat padanya? Berniat melenyapkan sang buah hati dalam perutnya.

__ADS_1


Jawabannya adalah Celine mencintai Jino tulus dari hati yang paling dalam.


Cinta yang tulus pasti akan menerima kekurangan dan bersyukur atas kelebihan yang di miliki oleh pasangan.


Konon katanya seorang istri layaknya sebuah pakaian. Berguna menutupi tubuh sang suami, menghangatkan bila hujan turun dan meneduhkan bila cuaca terik.


Begitu pula dengan Celine. Dia menerima semua kebaikan dan keburukan Jino. Dia percaya bahwa sang suami kelak akan berubah.


***


Seorang wanita menangis sesenggukan. Sangat banyak tisu berceceran di lantai karena tangisnya yang tak kunjung reda setelah menyaksikan pertemuan haru antara anak dan menantunya melalui CCTV dalam kamarnya.


Tadinya ia iseng ingin melihat keadaan putranya melalui CCTV yang terhubung dengan televisi kamarnya. Dia melihat sang anak dan menantu melepas kerinduan nya.


"Hiks … siapa yang tabur bawang di sini? Kenapa si Missqueen itu tulus begitu? Hiks … ahh … mana tisunya habis lagi!" gumam Margaret sesegukan.


"Iyem?!! Bawa tisu kemari?!" teriak Margaret memanggil pembantunya sebab pintu kamarnya tak ia tutup, jadi suaranya terdengar jelas keluar.


"Baik, Nya!" balas Iyem.


"Jangan lama-lama … telat 1 menit, ku potong setengah gaji mu!" teriak Margaret kesal membuat pembantunya menggerutu kesal.


"Potong … potong … di kira gaji ku bebek angsa kali ya, dikit-dikit di potong!" gumam Iyem kesal buru-buru lari ke kamar Margaret seraya membawa satu kotak tisu.


*


*


*


Wkwkwkwk 😂😂😂 si Margaret memang sombongnya minta ampun ya, Bun.


Karakter Margaret author ambil dari kehidupan sekitar. Ada banyak mertua yang mulutnya asal bunyi, tapi hatinya baik. Kadang juga kalau siang berantem dengan menantu, malam nya langsung baikan.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2