Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Sayang, Aku ingin 'itu'


__ADS_3

Celine melambaikan tangannya ke arah Jino membuat pria tampan itu tersenyum manis. Dia merasa sangat senang istrinya mau memaafkan dirinya dan kembali padanya. Padahal dia sudah bersiap-siap bila Celine menggugat cerainya, walau Jino tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Aku ke kamar dulu ya, Mas! Besok pagi aku kemari lagi buat jenguk kamu. Pokoknya kamu yang semangat, ya! Biar cepat sembuh."


Celine memberikan semangat pada Jino agar pria itu mau menjalani hipnoterapi lagi. Jino menganggukkan kepalanya cepat,tak ada alasan untuk tidak berjuang keras melawan penyakitnya.


Dia harus sembuh karena saat ini ada istri dan calon buah hatinya.


"Kamu juga jaga diri! Kalau mau apa-apa telepon aku!" ujar Jino dengan nada tegas membuat Celine tersenyum manis.


Jino sudah mulai menerima kehadiran anaknya. Meski masih ada ketakutan dalam dirinya, namun Jino terus menepis pikiran jahatnya itu.


"He'um … pasti aku akan telepon kamu kalau anak kita mau apa-apa. Biar dia tidak ileran nanti waktu lahir," balas Celine membuat Jino tertawa kecil.


"Mitos itu, Sayang … udah ah! Lebih baik kamu masuk ke kamar. Istirahat yang cukup biar kamu sembuh total!" tegas Jino membuat Celine mengerucutkan bibirnya.


Wanita itu masih sangat merindukan suaminya, dia tak ingin berpisah dengan Jino. Sebab masih ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Jino.


"Apa kita tidak bisa tidur bersama, Mas? Bukannya kamu udah sembuh?" Celine sangat ingin tidur memeluk Jino, namun dokter Smith melarangnya. Sebab, Jino masih dalam pengawasan nya.


Jino menggelengkan kepalanya lemah, dia tersenyum manis ke arah sang istri. Bukan hanya Celine yang ingin tidur bersama, tetapi ia juga.


"Tidak boleh, Sayang. Aku takut penyakit ku kambuh! Tunggu beberapa hari lagi sampai dokter Smith mengizinkan ku untuk menjalani hari-hariku seperti biasa. Setelahnya aku janji akan ambil cuti kerja selama tiga hari agar kita bisa menghabiskan waktu bersama menggantikan hari ini!"


Jino berkata tegas memberikan harapan pada Celine membuat wanita cantik itu mengangguk patuh. Bagaimanapun sekarang dia tidak sendiri karena ada buah hatinya dalam perut, dia harus menjaga dengan baik.


Mungkin bila dulu Jino marah secara tiba-tiba dan menghukumnya tidak masalah, sebab dia sendiri. berbeda dengan sekarang.


"Baiklah." Celine yang tadinya berada di depan pintu ruang isolasi pun berlari masuk ke dalam ruangan dan menghadiahkan ciuman di bibir Jino.


Cup.


"I love you!" Celine berbalik, namun tangannya di tarik oleh Jino membuat wanita itu menoleh ke belakang dan Jino segera menahan tengkuk Celine dan mencium lembut bibir sang istri.


Celine membalas ciuman Jino tak kalah lembut.


Dokter Smith dan Junior yang melihat dari luar pun hanya bisa berbalik badan tak ingin menjadi penonton gratisan.

__ADS_1


"Ah …rasanya aku ingin pulang ke rumah kalau begini dan bercocok tanam dengan istriku," gumam Dokter Smith pelan merindukan kehangatan istrinya membuat junior memukul pundak pria paruh baya itu.


Plak.


"Jangan main pulang kau! Suruh puasa dulu si Ucup, nanti setelah anak ku sembuh. Silahkan pulang!" tegas Junior membuat Dokter Smith menggerutu kesal.


Junior pun segera melenggang pergi meninggalkan dokter Smith sendirian di sana. Pria paruh baya itu menggerutu kesal sebab temannya pergi tanpa pamit.


"Mau ke mana kau?", tanya dokter Smith.


"Cari istriku," balas Junior tanpa menoleh membuat Dokter Smith mengumpat kesal sebab Junior pasti akan melampiaskan hasratnya pada Margaret, sedangkan dirinya harus berpuasa. Sebab istrinya jauh.


*


*


Sebulan berlalu pasca pertemuan penuh haru Celine dan Jino. Sekarang pria itu sudah sembuh, meski bipolar nya tetap ada, namun Jino sudah bisa mengontrolnya agar tak lepas kendali. Hanya saja dokter Smith menyarankan agar keluarga beserta Celine, jangan sampai membuat Jino marah besar.


Sebab itu akan memicu penyakit bipolarnya kambuh. Jino dan Celine sudah kembali tidur bersama. Hanya saja Margaret dan Junior melarang mereka tinggal di kediaman sendiri, sebab takut terjadi apa-apa lagi dan mereka tidak mengetahui nya.


Mereka ingin menjaga Celine dan calon cucu mereka. Agar sewaktu-waktu Jino marah, ada mereka yang melindungi Celine.


Tangan Celine menjalar ke mana-mana membuat nafas Jino terasa berat. Pria tampan itu berusaha berperang menahan hasratnya.


"Celine, stop!" tegas Jino membuat Celine kesal bercampur sedih. Dia menarik tubuh Jino berbalik menghadapnya.


"Aku ingin, Mas! Sudah lama kita tidak melakukannya semenjak pertengkaran kita di bulan lalu?!" sentak Celine yang sedang berkabut hasratnya.


Dia sudah sangat menginginkan sentuhan Jino. Suaminya itu tak lagi memberikan nafkah batin, hanya sekedar ciuman dan pelukan saja yang Ia dapatkan selama ini.


"Apa kamu tidak mencintai ku lagi, Mas? Atau tubuh aku sudah jelek karena hamil dan kamu tidak tertarik lagi menyentuhku?" tanya Celine dengan suara serak bergetar menahan tangis.


Jino yang melihatnya pun merasa bersalah. Pria itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Celine.


"Aku tidak bisa, Cel," lirihnya pelan membuat Celine mengepalkan tangannya erat.


"Tidak bisa kenapa, Mas? Jawab? Beri aku alasannya apa?" tanya Celine dengan nada tegas membuat Jino terdiam.

__ADS_1


Wanita itu merasa kesal pun mengguncangkan tubuh sang suami karena marah tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Kenapa diam saja, Mas? JAWAB?!" bentak Celine dengan suara keras membuat Jino menatap tajam ke arahnya.


"Jawab, Mas?! Jawab?!" teriak Celine lagi.


"Aku takut, Cek?! Aku takut kepala anak kita kepentok kalau kita melakukan 'itu'," bentak Jino membuat Celine melongo mendengar nya.


Hah? Kepentok? Maksudnya?


Siapapun tolong jelaskan pada Celine karena wanita itu sedang berusaha mencerna jawaban suaminya.


"Maksud kamu, Mas?" tanya Celine dengan suara terbata-bata.


"Punya ku panjang dan besar, Cel. Aku takut kepala anak kita kepentok kalau kita melakukan 'itu'."


Oh My God?! Rasanya Celine ingin pingsan saja mendengar jawaban polos suaminya.


Kaki Celine terasa lemas seperti Okky jelly drink membuat Jino segera menahan tubuh istrinya yang seperti ingin pingsan.


"Eh, Sayang? Kamu pingsan?" tanya Jino panik membuat Celine mengangguk kepalanya.


"Iya, aku mau pingsan aja," jawab Celine lemah lalu menutup matanya membuat Jino kelabakan.


"Hey, Sayang … jangan pingsan, dong! Aduh … kok jadi pingsan sih!" ucap Jino panik.


*


*


Wkwkwkwk 🤣🤣 ngakak … BTW Jino memang polos bagian itu ya. Sebab dulu waktu Melisa hamil dia nggak pernah nyentuh istrinya sebab keadaan Melisa yang lemah.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰


Please jangan tumpuk bab nya yah. Sebab itu memperburuk performa karya author.

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰


__ADS_2