
Margaret tak mampu menahan keterkejutan nya ketika membaca surat tersebut. Tangannya bergetar, hatinya berdegup kencang. Bola matanya memerah menandakan dirinya sedang tak baik-baik saja.
"Apa maksudnya ini?" gumam Margaret pelan dengan suara bergetar menahan amarah.
Tangannya terkepal erat ingin menonjok seseorang. sontak saja dia meremas kertas tersebut lalu memasukkan nya ke dalam tas.
"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar Celine mengkhianati Jino? Ataukah ada orang usil yang ingin merusak rumah tangga mereka? Ck … kalau terbukti Celine selingkuh. Uh … akan ku santet dia biar wajahnya melepuh!"
Margaret merasa gerah dia segera menyedot air kelapa nya. Tak seberapa lama Celine kembali duduk bersamanya. Wanita hamil muda itu tersenyum cerah melihat makanan di hadapannya.
"Makanan di sini benar-benar enak ya, Ma! Aku sangat suka!" puji Celine seraya mencocol ikan bakar nya dengan sambal kecap.
Margaret menatap dingin wajah Celine, dia seolah mencoba menilai karakter Celine. Hatinya berbisik tak percaya dengan isi surat tersebut karena wanita di hadapannya sangatlah tulus dan baik.
Ya walaupun miskin.
"Mama kok lihatin aku begitu? Apa ada sesuatu di wajah ku?" tanya Celine merasa gugup di tatap intens oleh ibu mertuanya.
"Apa kamu punya mantan sebelum menikah dengan Jino?" tanya Margaret serius membuat Celine mengernyitkan dahinya heran.
Dia merasa bingung dengan ibu mertua nya yang tiba-tiba bertanya tentang mantan.
"Tidak, Ma. Bagaimana bisa aku pacaran kalau setiap harinya aku kerja! Bahkan untuk bermain saja aku tidak punya waktu!" jawab Celine jujur menatap polos ibu mertuanya.
__ADS_1
Sontak saja mendengar jawaban Celine membuat Margaret ingin tahu lebih mengenai kehidupan menantunya itu. Sebab selama ini dia lebih memilih tak acuh pada biografi Celine.
"Emang kamu kerja dari umur berapa? Kenapa tidak punya waktu untuk bermain?" tanya Margaret heran.
"Dari kecil … seingat ku dari TK kalau tidak salah. Karena waktu itu aku selalu bantu Ibu memulung!" jawab Celine polos mengenang masa kecilnya.
Uhuk uhuk.
Margaret terbatuk-batuk mendengar ucapan Celine. Wanita itu segera meneguk minuman nya.
"Oh my God … uhuk … aku tidak menyangka kalau kamu semiskin itu! memang dulu kamu tinggal di mana? Kolong jembatan kah? Huff … terus kamu mulung sampai kamu dewasa gitu?" tanya Margaret tak percaya membuat Celine mengumpat kesal ibu mertuanya karena sangat ceplas-ceplos bila berkata.
"Iya, kami tinggal di kolong jembatan! Sampai umur ku sepuluh tahun baru punya rumah kontrakan. Ibu ku meninggal saat umur ku 14 tahun, semenjak saat itu aku menggantikan peran nya. Aku harus bisa membagi waktu antara memasak, beres-beres rumah, sekolah dan bekerja. Untung aku rajin dan dapat beasiswa khusus untuk anak-anak miskin seperti ku. Itulah sebabnya aku bisa jadi sarjana!"
"Makanya aku bilang sama mama kalau aku tidak punya waktu untuk pacaran, karena jadwal hari-hari ku padat! Kalau yang deketin sih banyak karena aku cantik!" ujar Celine sedikit membanggakan tampang nya yang tidak jelek-jelek amat membuat Margaret memutar bola matanya malas.
"Tuhan itu Maha adil, Dia tahu betul kalau kamu miskin makanya di beri wajah cantik, coba aja kalau kamu miskin, jelek, prik, dekil lagi … otomatis setan bakal tertawa karena kamu lebih menyedihkan daripada mereka!" lanjut Margaret blak-blakan membuat nafsu makan Celine hilang seketika.
Wanita itu melongo, hatinya mengumpat kesal Margaret karena punya mulut tidak bisa di jaga. Asal ngomong tanpa memikirkan perasaan orang.
Ya walaupun memang benar.
"Loh, kok kamu tidak makan lagi?" tanya Margaret heran karena Celine sudah mengelap bibirnya menyudahi makan siang nya.
__ADS_1
"Udah kenyang dengar omongan Mama!" balas Celine kesal membuat Margaret memelototkan matanya.
"Sudah berani menjawab kamu ya?!" sentak Margaret kesal.
"Bukan aku yang berani, Ma. Tapi cucu Mama!" balas Celine tak kalah kesal seraya menunjuk perut buncitnya membuat Margaret yang tadinya marah langsung lemah bila sudah menyangkut hal cucu.
***
Jino baru saja keluar dari kantornya, dia harus pulang mengemudikan mobilnya sendiri karena Fang masih cuti karena belum pulih.
Saat tiba di area parkir dia melihat Nayla berdiri dengan bersandar di pintu mobilnya menatap hangat Jino dengan senyuman manisnya.
"Hai, Ji! Ap–,"
Akk.
*
*
Waduh apaan tuh? Btw si Margaret ada benernya kalau ngomong ya, Bun wkwkwkwk 🤣🤣
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏