
Jino tak sanggup lama-lama berhadapan dengan dua anak manusia yang telah mencelakai istrinya. Dia menyuruh anak buahnya untuk melepaskan mereka dan menjebloskan keduanya ke dalam jeruji besi.
"Kenapa tidak kamu siksa mereka, Ji?" tanya Junior heran pada anak kandungnya yang memiliki temperamen buruk. Biasanya Jino akan menghajar orang-orang yang mencelakai nya.
Jino terdiam sejenak, dia menoleh ke luar jendela mobil. Pria itu menghela nafas berat, mengingat kembali bagaimana perubahan nya setelah menikah dengan Celine.
"Entahlah, Pa. Aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik saja. Kalau aku membalas perbuatan mereka, maka apa bedanya aku dengan mereka? Sama-sama jahat dan pastinya mereka akan dendam padaku."
"Dan Celine juga pasti marah kalau tahu aku memukul mereka. Bisa di bilang aku begini, karena Celine. Aku sudah janji padanya untuk berubah menjadi lebih baik!" jelas Jino tanpa menoleh ke arah Junior.
Bahkan, pria itu merasa beban yang dipikulnya terangkat begitu saja. Ternyata memaafkan dan mengikhlaskan itu tidak buruk karena hati Jino terasa lebih lega.
Junior tersenyum kecil mendengarnya. Dia bersyukur karena Celine membawa perubahan baik untuk putranya. Memang benar apa kata orang kalau menikah dengan orang baik pasti akan membuat diri kita menjadi baik juga.
Begitupun sebaliknya, walau semuanya butuh proses lama untuk menjadi lebih baik.
"Good boy!" Junior menepuk pundak putranya bangga.
*
*
Saat tiba di rumah, Jino segera masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari keberadaan istrinya di ruang tamu, namun tak menemukan nya.
"Istriku di mana, Bi?" tanya Junior pada pelayan yang sedang mengelap meja.
"Sepertinya nona muda sedang berada di dalam kamar, Den!" balas pelayan itu membuat Jino segera bergegas menuju kamar.
__ADS_1
Dia membuka pintu kamar perlahan, kebiasaan nya semenjak punya anak karena takut sewaktu-waktu dia masuk kamar anaknya sedang tidur.
Jino tersenyum hangat ketika melihat putrinya sedang memainkan mainan lonceng dengan tangannya di atas ranjang besar mereka.
Tidak ada Celine di sana, sepertinya sang istri sedang berada dalam kamar mandi.
Duarr.
Tiba-tiba suara petir di sore hari terdengar memekakkan telinga. Membuat Jino terkejut tak terkecuali putrinya yang langsung menangis tanpa suara saking terkejut dan takutnya.
"Sayang!" Jino berlari menghampiri putri kecilnya lalu tanpa pikir panjang dia menggendong putri kecilnya karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya.
Huwaa.
Baby Syakira yang tadinya menangis tanpa suara pun malah menangis sesenggukan dengan suara melengking kencang membuat Jino khawatir.
"Suttt, Sayang sayang … ada papa di sini, jangan takut yah … tidak akan ada yang jahatin kamu karena ada papa!" Suara Jino terdengar lembut meski suaranya serak-serak basah.
Dia meniru apa yang dilakukan oleh Celine ketika putrinya menangis yaitu menimang seraya menepuk bokongnya.
bonus Visual
*
*
__ADS_1
Duarr.
Celine yang sedang buang air besar pun terkejut mendengar suara petir. Segera dia sudahi aktivitas nya itu, setelah mencuci tangannya Celine berlari keluar kamar mandi.
Degg.
Jantungnya berdegup kencang, matanya mengembun melihat Jino menggendong putrinya untuk pertama kali. Tak jarang pria itu mencium puncak kepala putrinya sesekali.
"Indahnya," gumam Celine pelan beriringan dengan butiran kristal membasahi pipi Celine.
Dia mengambil ponselnya lalu memotret Jino dan Baby Syakira tanpa di sadari oleh sang suami.
Segera dia melangkah mendekati suaminya lalu memeluk Jino dari samping, membuat pria tampan itu terkejut, namun wajahnya berubah manis ketika melirik istrinya.
"I love you, Papa!" bisik Celine serak membuat Jino tersenyum kecil.
"I love you too, Mama." Jino melabuhkan ciumannya di kening Celine.
*
*
*
Cie cie yang bacanya senyum-senyum 🤭🤭
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰