
"Maaf … Jino koma!" ujar Dokter Smith pelan membuat Junior dan yang lainnya terkejut.
Bagai disambar petir siang bolong, seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantung mereka. Baru saja Celine pendarahan dan sekarang Jino koma.
Ya Tuhan … seberapa berat cobaan yang Engkau berikan pada sepasang kekasih yang saling mencintai itu.
"Bagaimana bisa koma? Perasaaan putraku tadi baik-baik saja?" tanya Junior dengan suara bergetar menahan air matanya agar tak jatuh.
"Jino mengalami Syok kardiogenik yang berarti kondisi gangguan jantung yang cukup parah dan terjadi secara mendadak. Kondisi ini bisa menyebabkan jantung tak mampu mencukupi pasokan darah yang dibutuhkan tubuh. Kondisi tersebut umumnya komplikasi dari serangan jantung."
"Setelah aku memeriksa nya, Jino sepertinya syok karena melihat Celine pendarahan. Seperti yang kita tahu bahwa Jino punya pengalaman buruk tentang pendarahan karena Melisa dulu meninggal karena pendarahan dan tepat di depan mata Jino sendiri."
"Akibat itulah membuat Jino mengalami syok kardiogenik!" jelas dokter Smith panjang lebar tanpa menggunakan bahasa formal karena Junior sahabatnya.
Tubuh Margaret terhuyung-huyung, Junior segera menangkap nya. Wanita tua itu meneteskan air matanya karena merasa sedih mendengar anaknya koma.
Semua orang berduka mendengar kabar Jino. Tidak menyangka bahwa kisah hidup Jino sangatlah menyedihkan.
Apa pria itu tidak layak bahagia, Tuhan?
Bukankah, dia pria yang baik?
Lalu mengapa dia Engkau uji dengan cobaan yang berturut-turut?
"Apa putraku bisa sadar?" tanya Junior lagi berusaha tegar meski hatinya hancur.
"Bisa … pasti bisa! Kita doakan saja yang terbaik untuk, Jino dan Celine. Yakin saja, kalau Celine sudah sadar, maka Jino pun akan sadar! Karena Celine adalah kebahagiaan, Jino."
__ADS_1
Dokter Smith memberikan semangat pada keluarga besar Jino. Dia paham betul bagaimana kisah hidup Jino yang sangat memilukan.
"Sabar, Bro. Tuhan tidak tidur! Dia tahu yang terbaik untuk hamba-Nya!" Dokter Smith menepuk pundak Junior memberikan semangat pada sahabatnya itu.
Junior mengangguk kepalanya pelan. Mereka semua hanya bisa berserah diri pada Tuhan agar semuanya berjalan baik seperti yang mereka harapkan.
Satu jam mereka duduk di ruang operasi. Tidak lama kemudian suara tangis bayi melengking membuat mereka semua tersentak kaget.
Bahkan Margaret, Junior dan Ja'far berdiri saling terkejut nya. Sejenak rasa sedih mereka sedikit terobati karena mendengar suara tangis cucu mereka terdengar, yang artinya cucu mereka selamat.
"Cucu kita sudah lahir, Pa!" ujar Margaret dengan nada berbinar.
Mereka semua tersenyum bahagia mendengar suara bayi menangis. Lima belas menit kemudian, perawat perempuan keluar membawa bayi mungil yang sudah bersih.
"Alhamdulillah bayinya selamat, kelamin perempuan memiliki berat 2,6 kilogram, dengan panjang 51 cm. Baginya sudah bisa di adzankan. Tetapi, setelahnya saya harus memasukkan bayinya ke inkubator. Berhubung bayi pasien lahir prematur, kami harus memantau terus perkembangan bayinya. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan!" jelas perawat itu panjang lebar membuat hati mereka senang bercampur sedih.
Hati Junior terasa sangat sakit melihat cucunya yang sudah lahir. Teringat putranya yang sedang koma, andai saja Jino baik-baik saja pasti saat ini Jino yang akan mengadzani putrinya.
"Ji, bangun, Nak. Kamu sudah menjadi seorang ayah … kamu harus kuat dan bangun. Agar bisa merawat putrimu … lihatlah, dia sangat cantik! Seperti istrimu."
Junior bergumam dalam hati. Margaret segera menggendong bayi mungil itu. Jangan tanya berapa banyak air matanya sudah keluar.
Wanita ber-lidah tajam itu juga menangis. Hatinya terasa sakit melihat kondisi cucunya.
"Bangunlah, Celine. Lihatlah putrimu cantik sama seperti mu. Mama janji tidak akan memanggilmu Missqueen lagi!"
Margaret bergumam dalam hati. Wanita itu berjanji bila menantunya selamat maka dia akan memperlakukan nya dengan baik.
__ADS_1
Jafar segera mengadzani cucunya. Kenapa tidak Junior? Karena pelafalan adzan Ja'far lebih baik dan benar. Sebab Junior adalah mualaf, sama seperti Margaret.
"Allahu Akbar … Allahu Akbar!"
Setelah melafalkan adzan. Bayi mungil itu segera di bawa oleh perawat. Siska dan Tante Mela bergerak mengikuti suster tersebut.
***
Sedangkan di sisi lain, Nayla dan Randy panik. Mereka sedang diburu oleh orang-orang Junior. Tidak menyangka kalau rencana mereka kan gagal total.
"Ah … bagaimana ini, Nay? Rencana kita gagal dan aku yakin sebentar lagi mereka akan tahu siapa dalangnya?" ujar Randy panik seraya mengacak rambutnya frustasi.
*
*
Author balik lagi. Bismillah yukk pecah 100 komentar, biar author semangat up lagi. Besok kalau pecah 100, author triple up insya Allah.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 i
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir Juga ke novel temen author yang enggak kalah seruynya
__ADS_1