
Jino membuka matanya perlahan, pandangan nya buram karena baru saja bangun tidur pagi. Seulas senyuman manis terpasang di wajah tampan nya, dia merasa sangat bahagia sebab sang istri tidur nyenyak dalam pelukannya.
Jino meringis pelan karena lengan kanan nya terasa kebas, entah apa yang terjadi sampai Celine tidur berbantal lengan kanan nya. Terkadang Jino merasa lengan nya keram dan kebas seharian penuh karena Celine tidur di lengan nya semalaman.
Namun, dia tak pernah mempermasalahkan nya karena merasa bahagia, setidaknya Celine suka bermanja-manja dan tidur dalam pelukannya.
"Sayang, bangun! Udah pagi …" Jino membangunkan Celine dengan suara seraknya membuat ibu hamil itu langsung terjaga.
Perbedaan Celine dan Jino jauh berbeda bila menyangkut jam tidur. Celine sangat gampang di bangunkan bila sedang tidur, berbeda dengan Jino yang susah bangun tidur.
Hanya saja selama hamil mood Celine suka berubah-ubah. Bukan belum bangun tidur, melainkan ingin bermalas-malasan di atas ranjang.
"Iya,Mas … aku boleh libur jadi istri nggak hari ini? Rasanya aku malas banget bangun hari ini. Aku pengen mageran, Mas!" rengek Celine manja membuat Jino tertawa lepas. Dia merasa lucu mendengar permintaan istrinya.
Celine berniat membatalkan jadwal ke kantor kandungan karena hari ini dia benar-benar ingin tidur sepanjang hari. Mungkin karena semalam dia merawat Jino agar tak sakit membuat nya ingin beristirahat di siang hari.
Libur jadi istri? Mana bisa? Tetapi, Jino paham apa maksud Celine yaitu tidak ingin melayani kebutuhan nya hari ini.
Lagian semalam Celine sudah mengusap perutnya dengan minyak kayu putih. Jadi, tak masalah istrinya beristirahat.
"Ya sudah, kamu istirahat aja … aku akan menyiapkan baju ku sendiri! Semuanya sendiri aku lakukan khusus hari ini. Tapi, besok kamu tidak boleh mageran lagi … karena tidak baik untuk kesehatan, bisa-bisa jantung kamu membengkak karena terlalu banyak tidur. Tidak baik juga untuk perkembangan dedek bayi nya!" tegas Jino penuh perhatian seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Celine.
Wanita cantik itu menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum manis merasa bahagia karena Jino begitu perhatian padanya. Meski dia belum sepenuhnya menerima kehadiran buah hati mereka, Jino tetap memperlakukan Celine dan calon anaknya dengan baik.
"Oke, Papa!" balas Celine menirukan suara anak kecil membuat Jino menahan senyumnya.
__ADS_1
Ada rasa hangat dalam hatinya ketika Celine menyebut dirinya papa. Namun, rasa bersalah nya karena pernah ingin membunuh anaknya dulu membuat Jino sedih.
Cup.
"Morning kiss." Jino mengecup bibir Celine membuat wanita itu tersenyum malu.
'Ck … bagaimana bisa selera ku berubah setelah bersuami. Kalau dulu waktu jomblo ngebayangin ciuman di pagi hari sebelum sikat gigi aja aku bisa muntah karena bau jigong. Tapi, setelah menikah jangankan jigong Mas Jino, keringat Mas Jino aja harum banget seperti minyak kasturi.' batin Celine bergumam.
Jino pun segera bangkit beranjak dari kasurnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Meski ada rasa hampa karena Celine tak melayani nya hari ini, Jino segera menepis rasa itu.
"Biarin saja dia beristirahat, dia begitu juga gara-gara aku buat dia hamil," gumam Jino pelan seraya mengguyur tubuhnya di bawah air shower.
Celine yang sedang menonton kartun Spongebob pun merasa terusik mendengar suara dering telepon Jino. Suaminya belum selesai di kamar mandi membuat Celine memberanikan diri untuk mengangkat telpon masuk dari nomor tidak di kenal.
"Aku angkat aja, deh! Siapa tahu penting," gumam Celine pelan.
Belum sempat Celine memberi salam, si penelepon lebih dulu bersuara membuat tubuh Celine membeku.
Jino keluar dari kamar mandi terkejut melihat Celine mengangkat teleponnya. Raut wajah istrinya tegang dan bola katanya memerah. Seperti mendengar kabar buruk dari seseorang.
"Sayang! Siapa yang telepon?" tanya Jino heran membuat Celine menoleh ke arahnya.
Tes
__ADS_1
Celine meneteskan air matanya merasa sesak dan percaya pada apa yang didengarnya. Jino merasa khawatir dan panik melihat istrinya menangis pun segera menghampiri Celine.
"Hey, Baby. What happen?" tanya Jino khawatir membuat Celine langsung menyodorkan ponsel ke arah Jino.
"Nih, wanita masa lalu mu menelpon!" ujar Celine datar dengan suara bergetar membuat Jino terkejut.
What?
Wanita masa lalu?
Siapa?
*
*
Maaf author telat up ya kak … percaya Ama author, ceritanya beda dari yang lain. Yang jadi pembaca setia author pasti tahu kalau pelakor dan pebinor di novel author pasti punya takdir berbeda.
Seperti novel Hanna dan Reza dulu.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1