
Jino menatap sendu wajah pucat Celine. Hatinya sakit menerima penolakan, di otak hatinya Celine seperti ketakutan melihatnya. Dia sadar bahwa sudah keterlaluan, tetapi Jino menyesalinya.
"Sayang, maafin aku! Aku salah, aku udah kelewatan sama kamu, Yank!" Jino menggenggam tangan Celine lalu mengecupnya berulang kali. Tampang angkuhnya tak terpasang lagi, telah berganti dengan tampang memelas.
Jino sangat takut Celine pergi meninggalkan dirinya seperti mendiang mantan istrinya. Dia membenci rumah sakit, karena sang istri meninggal di sini.
Celine ikut menangis, dia teringat penghinaan Jino terhadap statusnya yang miskin.
"Kamu udah bener-bener kelewatan, Mas. Bukan hanya menyakiti fisikku tapi juga batin ku. Harga diriku sebagai istri kamu injak-injak! Aku tahu aku miskin, itulah sebabnya dulu aku menolak menikah denganmu."
"Tapi, kamu janji akan bahagiain aku tanpa memikirkan status ku … hiks … nyatanya kamu bohong, kemarin kamu baru saja menghina ku!" Celine berkata terbata-bata mengeluarkan semua isi hatinya.
Istri mana yang tidak sakit di hina oleh suami sendiri. Luka yang di torehkan oleh orang lain tak sebanding dengan luka yang di torehkan oleh suami sendiri.
Jino merasa bersalah, dia teringat lisannya kemarin menyakiti Celine. Dia mengumpat dalam hati karena selalu gagal mengontrol emosinya.
"Aku salah, Yank. Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi! Jadi, please … forgive me!" Jino menatap sendu wajah sembab sang istri.
Matanya memerah ingin menangis, melihat kondisi Jino yang sekarang membuat Celine semakin menangis. Antara cinta dan benci menjadi satu.
"Aku bingung, Mas. Bingung dengan sikap mu yang seperti memiliki dua kepribadian, kadang kamu baik seperti malaikat. Lalu tiba-tiba kamu berubah menjadi monster yang menyeramkan! Aku takut …"
"Aku takut dengan sikap mu yang berubah-ubah!" lanjut Celine dengan suara serak.
Wanita cantik itu menangis sesenggukan membuat hati Jino. Tak sanggup menahan diri untuk tidak memeluk sang istri, Jino pun naik ke atas brankar lalu memeluk tubuh istrinya dari samping.
Dia mencium pundak Celine yang bergetar karena menangis. Pria tampan itu amat menyesali perbuatannya. Dia berjanji akan berusaha mengendalikan emosinya agar tak meledak-ledak lagi.
"Aku salah, Sayang. Maafin aku! Jangan menangis lagi, aku janji akan berubah menjadi suami yang baik. Please, don't cry, Baby!"
Jino berbisik di telinga Celine. Pria tampan itu mengeratkan pelukannya membuat Celine nyaman. Merasa luluh pada permintaan sang suami membuat Celine berbalik lalu membalas pelukan suaminya.
"Hiks … janji padaku kalau kamu tidak akan lagi menyakiti ku saat marah. Tidak membentak ku dan menghukumku lagi seperti yang sudah-sudah!"
__ADS_1
Celine mendongak menatap wajah sang suami dengan mata merahnya. Jino menganggukkan kepalanya setuju.
Dia berjanji akan mengontrol emosinya agar tidak lagi menyakiti sang istri.
"Aku janji, Sayang."
"Ceritakan padaku siapa Melisa, Mas. Aku ingin tahu siapa dia! Apa dia mantan istri kamu?" Celine teringat pada sosok Melisa, dia ingin tahu siapa wanita yang telah menyebabkan badai dalam rumah tangganya.
Jino menghela nafas berat, sepertinya berkilah atau berbohong tak akan lagi mempan pada Celine.
"Melisa mantan istri aku, Sayang. Dia udah meninggal 2 tahun yang lalu!" lirih Jino membuat Celine merasa bersalah sebab sudah membuka luka lama suaminya.
"Maaf karena sudah buat kamu sedih."
"It's okay, i'm fine, Baby!" balas Jino tersenyum paksa seraya menghapus jejak air mata di wajah Celine.
"Tapi, kamu sudah move on, 'kan? Karena aku tidak mau jadi bayang-bayang masa lalumu. Aku dan dia berbeda walaupun wajah kami berdua mirip! Aku tidak ingin kamu mencintaiku karena wajahku yang mirip dengan Melisa, tapi aku ingin kamu mencintaiku because this is Celine, not Melisa!" jelas Celine panjang lebar membuat Jino bungkam.
Move on?
Nyatanya melupakan kesedihan karena kehilangan seseorang yang kita cintai tidak semudah itu.
Rela tak semudah kata.
Hanya orang-orang yang pernah merasakan kehilangan tahu dan paham bagaimana perasaan orang yang kehilangan.
Jino adalah pria yang tulus, bila sudah mencintai maka susah untuk menghilangkan rasa cinta itu.
Lalu apakah Jino mencintai Celine? Jawabannya iya, tetapi dia belum mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Apakah dia mencintai Celine karena mirip Melisa atau dia mencintai Celine karena kepribadian nya.
"Kenapa kamu diam, Mas? Apa kamu belum move on darinya?" Celine menatap serius wajah lelah Jino.
"Sayang, kalau boleh jujur dari hatiku yang paling dalam, aku masih mencintai mantan istri ku!" jawab Jino pelan membuat hati Celine sakit tak berdarah.
__ADS_1
"Melisa sosok wanita yang baik, semua orang mengakuinya baik. Jadi, sangat susah untuk aku move on darinya!"
"Lalu apa gunanya aku sebagai istrimu kalau ternyata kamu masih mencintai mantan istrimu, Mas?" tanya Celine serak kembali meneteskan air matanya.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Maafkan aku … tolong bantu aku untuk move on darinya agar aku bisa sepenuhnya mencintaimu sebagai Celine!" balas Jino cepat seraya mengeratkan pelukannya pada Celine.
Mendengar hal itu membuat Celine merasa tersentuh. Dia menganggukkan kepalanya berjanji akan berusaha mendapatkan hati sang suami seutuhnya.
Celine siap menanggung resiko menikahi dengan duda.
Orang bijak pernah mengatakan :
Bila kamu menikahi dengan pria kaya, maka kamu harus sanggup direndahkan karena kemiskinan mu.
Bila kamu menikahi dengan pria duda, maka kamu harus siap di bandingkan dengan masa lalunya.
Bila kamu menikah dengan pria muda, maka kamu harus siap menemani nya dari 0 hingga sukses.
"Aku janji akan berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku, Mas!" balas Celine semangat membuat hati Jino bersyukur karena sang istri tidak meninggalkan dirinya.
"Terima kasih!" Jino segera mencium bibir sang istri lembut meluapkan perasaan hangatnya.
*
*
*
Kalau bunda semua di posisi mana? Menikahi duda, pria kaya atau pria muda? Yuk jawab di kolom komentar.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️