
"Dokter Smith!" gumam Jino terkejut melihat sosok pria paruh baya berpakaian dokter di hadapannya.
"Apa kabar, Jino?" tanya pria paruh baya itu santai membuat Jino mengepalkan tangannya erat.
"Aku baik-baik saja, lepaskan aku sekarang! Aku ingin bertemu dengan istriku!" tegas Jino penuh penekanan menatap tajam dokter Smith. Pria paruh baya itu menghela nafas berat karena merasa kasihan dengan Jino.
"Istrimu baik-baik saja, sekarang dia sedang di rumah sakit!" jelas Dokter Smith membuat Jino merasa lega.
"Di-dia … bagaimana keadaan nya? Apa dia sudah pergi?" tanya Jino pelan teringat sang anak yang ia coba bunuh. Hatinya teramat sakit mengingat mimpi nya tadi di mana istri dan anaknya meneriaki dirinya PEMBUNUH.
"Untuk apa kamu bertanya keadaan nya? Bukankah kamu tidak peduli padanya?" Dokter Smith menatap lekat wajah lesu Jino.
Terlihat mata pria itu memerah dan berair setelah mendengar pertanyaan dokter Smith. Sungguh hati Jino terasa sesak dan nafasnya tercekat.
Jino adalah pria yang bertanggung jawab, dia juga normal seperti pria lain yang menginginkan keturunan. Dia tipikal penyayang anak-anak, tetapi karena penyakitnya dan trauma pada masa lalu membuat Jino bertindak jahat pada calon anaknya.
Jino merasa tersiksa. Penyakitnya itu menggerogoti kewarasan pikiran Jino sehingga pria itu tidak dapat berpikir jernih. Di tambah penyakitnya yang darah tinggi. Sangat sulit mengontrol emosi nya karena kepalanya akan terasa sakit bila amarahnya tidak ia luapkan.
Dokter Smith menghela nafas berat melihat Jino yang tidak menjawab pertanyaan nya. Sebagai seorang dokter dia paham betul bagaimana perasaan Jino.
Mungkin bagi orang awam Jino adalah monster. Tetapi, di kata seorang dokter psikologis Jino adalah sosok anak kecil yang rapuh.
"Mulai hari ini kamu akan berada dalam pengawasan saya, Jino. Papa mu sudah berpesan pada saya agar membantu mu sembuh dari bipolar, jikalau kamu memberontak dan tidak ingin menjalani perawatan, maka Papa mu akan memisahkan mu dan istrimu!" tegas Dokter Smith penuh penekanan.
Junior tidak ingin Jino macam-macam dan memberontak tak ingin menjalani perawatan. Itulah sebabnya dia mengancam Jino.
Rahang Jino mengeras ketika mendengar perkataan dokter Smith. Sampai kapanpun dia tidak akan mau di pisahkan dengan sang istri.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Celine jauh dariku." Jino berteriak keras tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Makanya kamu harus sembuh Jino! Jangan khawatir, kamu pasti bisa sembuh total karena saya sudah banyak membantu pengidap bipolar disorder sembuh!" Dokter Smith berusaha memberikan pengertian pada Jino membuat pria itu murka menendang meja nakas yang berada di dekat ranjangnya.
Brak.
Andai saja tangannya tidak terikat maka dia akan menyerang dokter Smith saat itu juga.
"Aku tidak sakit! Aku tidak gila! Aku tidak butuh dokter! Aku tidak butuh obat! Yang aku butuhkan saat ini adalah istriku, Celine?!" bentak Jino murka membuat dokter Smith segera menyuntikkan cairan penenang ke leher Jino.
Sontak saja tubuh Jino terasa lemas, dia ambruk ke atas ranjang. Pandangan nya perlahan buram, air matanya tak berhenti keluar.
Sungguh penampilan Jino saat ini seperti orang yang sedang putus asa dalam hidup.
"A-aku hanya butuh istriku."
"Celine, jangan tinggalkan aku, Sayang," racun Jino pelan hingga matanya tertutup rapat.
Dokter Smith segera menyelimuti tubuh Jino. Pria paruh baya itu menetap sendu wajah letih Jino.
"Kenapa bisa pria baik seperti mu mengidap penyakit bipolar? Huff … malangnya nasib mu, Nak," gumam dokter Smith pelan.
Dia segera menghubungi Junior – ayah Jino. Memberi kabar pada sahabatnya itu tentang keadaan Jino.
Dr. Smith : Halo.
Junior : Halo, bagaimana keadaan putraku?
__ADS_1
Dr. Smith : Penyakit nya semakin parah. Dia sudah berada di tahap kalau bukan menyakiti orang lain, maka dia akan menyakiti dirinya sendiri. Mulai sekarang kita harus pisahkan Jino dengan istrinya. Takutnya kalau dia bertemu dengan menantu mu, trauma nya kambuh karena tahu istrinya tidak keguguran, sehingga membuat penyakit bipolar nya semakin parah.
Junior : Lakukan yang terbaik untuk putraku, aku sangat ingin dia kembali ceria dan melupakan trauma masa lalunya. Kita semua tahu bagaimana keadaan Melisa dulu menjelang kematian, sangat mengenaskan. Parahnya Jino menyaksikan kejadian naas itu di depan matanya.
Dr. Smith : iya, aku tahu. Sekarang aku akan bawa dia ke ruang isolasi bawah tanah kediaman mu. Agar nanti bila keadaan menantu mu membaik, dia bisa menjenguk Jino sesekali. Guna memberikan semangat untuk Jino.
Junior : Baiklah, aku mohon jaga puteraku, bantu dia sembuh. Dia adalah anak yang baik dan aku tidak ingin kehilangannya.
Dokter Smith pun mengakhiri panggilan tersebut. Pria paruh baya itu segera memerintahkan para bodyguard menyiapkan mobil guna mengurus kepindahan Jino ke rumah besar Junior.
Celine juga akan pulang ke sana nantinya bila sembuh.
*
*
Jangankan bipolar, orang-orang yang punya darah tinggi saja kalau lagi marah, pasti yang keluar dari mulutnya isinya kebun binatang semua.
Author punya temen yang punya darah tinggi. Dia kalau marah nggak bisa nahan lisan nya untuk mengumpat atau berkata kasar. Tapi, setelah emosinya stabil, dia menyesal karena sudah berkata kasar.
Jadi, author harap kakak semua dapat mengambil pesan moral dari cerita ini. Bahwa penyakit bipolar itu ada dan sangat susah di sembuhkan. Tapi, bukan berarti tidak bisa sembuh.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️
__ADS_1