
Lima tahun kemudian.
Suasana di rumah mewah Jino amatlah ramai. Banyak anak-anak kecil tertawa dan bernyanyi, ada yang sibuk dengan makanan mereka. Ada pula yang asik memainkan mainan nya.
Hari ini merupakan ulang tahun Syakira yang ke lima. Jino dan Celine mengadakan pesta syukuran bersama dengan anak yatim. Juga mereka mengundang kerabat terdekat. Banyak sepupu Jino hadir membawa anak-anak mereka.
Senyum bahagia terpasang di wajah Celine dan Jino. Keduanya merasa sangat senang dengan pernikahan mereka. Banyak tawa dan air mata di dalamnya tak menyurutkan semangat mereka untuk memperjuangkan pernikahan mereka.
"Haduh, Syasya sayang. Jangan makan coklat! Nanti gigimu busuk." Siska menjauhkan cake coklat dari jangkauan keponakan nya.
Dia paling tidak suka bila Syakira makan coklat. Dirinya teramat overprotektif menjaga keponakan nya. Tak jarang dia menculik Syakira membawa pulang ke rumah orang tuanya karena merindukan bocah balita itu.
Jino dan Celine hanya bisa pasrah dengan kelakuan Siska yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Syakira daripada mereka.
Antara senang dan sedih karena punya adik seperti Siska.
"No, aunty. Syasya suka coklat! Aunty jangan ganggu Syasya … ahh … aunty bikin Syasya kesel, deh!" sungut Syakira kesal seraya memukul kaki jenjang tantenya itu karena telah mengambil cake coklat milik nya.
"Nggak boleh, nanti gigi kamu busuk, Sayang. Sudah cukup badan kamu yang gede, jangan tambah gigi kamu busuk. Nanti kamu di bully kalau udah gede! Aunty tuh sayang sama kamu, ngerti nggak sih!" bujuk Siska lembut membuat Syasya mengerucutkan bibirnya.
"Nggak!" balas Syakira dengan suara nyaring membuat semua tamu memandang ke arah mereka.
Dia memberontak saat Siska menggendong tubuh mungil dan berisi nya. Celine tak bisa berbuat banyak karena sedang hamil besar anak kembar.
Jino dan Celine memutuskan untuk ikut program hamil lagi karena kesepian sering di tinggal oleh Syakira sebab di bawa kabur oleh Siska atau Margaret.
Maklum saja cucu pertama dan keponakan pertama membuat Margaret juga Siska merasa sangat menyukai dan menyayangi Syakira.
Jino dan Celine pun tidak bisa berbuat banyak, karena Margaret dan Siska sangat pandai merayu putri kecil mereka agar mau tinggal di rumah Margaret dan Junior.
__ADS_1
Alhasil rumah Jino dan Celine terasa sepi tanpa suara tawa anak-anak. Mereka pun memutuskan untuk menambah anak lagi, tentunya Jino sangat ekstra menjaga Celine dan calon bayi mereka.
Tidak ingin kesalahan di masa lalu terulang kembali.
"Biarin aja dia makan coklat, Sis. Lagian dia masih anak-anak! Wajar kalau suka makan yang manis-manis."
Margaret datang membuat Syakira langsung merengek minta di gendong oleh Oma nya itu. Di banding dengan Siska, Syakira lebih senang dengan Margaret yang selalu memanjakan nya.
Berbeda dengan Siska yang galak bila melihatnya makan coklat dan asik makan.
"Oma! Hiks … aunty jahat, Oma." Syakira mengadu pada Margaret dengan suara imutnya membuat wanita tua itu gemas dengan keimutan cucu pertamanya itu.
"Uluh uluh, Sayang. Cucu, Oma! Udah, sini sama Oma. Kita berdua makan cake besar yang ada di sebelah sana!" ajak Margaret dengan suara lembut menggendong tubuh gempal Syakira.
Siska mendengus kesal. Dia hanya ingin yang terbaik untuk keponakan nya. Siska telah melihat bagaimana kejamnya body shaming. Karena dulu dia pernah membully teman sekolahnya yang gemuk dan jelek.
Hingga kini umurnya sudah 23 tahun dan menjadi mahasiswa jurusan psikolog, dia ingin menjadi psikiater demi menebus dosanya saat masa sekolah dulu. Dengan cara menjadi penyemangat dan pendengar bagi orang-orang yang di bully.
"Tenang saja, tidak ada yang akan membully Syasya sampai kapanpun. Karena ada mama yang akan melindungi Syasya!" tegas Margaret yang paham dengan kekhawatiran Siska.
Siska pun menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri yang dihantui dosa masa lalu.
*
*
"Sayang, aku pengen minum Boba!" rengek Celine pada Jino yang sedang asik mengobrol dengan kolega bisnisnya.
Jino tersenyum canggung pada rekan bisnisnya seolah meminta maaf karena sang istri tiba-tiba menarik-narik lengan nya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak Jino. Kami paham karena istri kami juga begitu, kalau ngidam nggak tahu kapan dan di mana!" canda rekan bisnis Jino membuat mereka tertawa.
"Terima kasih atas pengertian nya, Pak." Jino tersenyum tulus seraya merangkul pinggang Celine.
Siska yang tidak sengaja lewat, mendengar rengekan kakak iparnya itu pun segera menghentikan langkahnya.
"Biar aku aja yang beli, Kak. Kebetulan aku juga mau keluar karena ada hal yang harus aku beli!" tawar Siska membuat wajah Celine berbinar dan Jino bernafas lega.
"Oke, Sis. Tolong beli yang rasa Taro dan Red Velvet yah! Boba nya di banyakin, susunya juga!" pinta Celine semangat hampir saja meneteskan air liurnya.
Siska hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kakak iparnya yang hobinya makan semenjak hamil anak kembar.
"Baik, Kak."
Siska pun melangkah keluar rumah, tak sadar dirinya di ikuti dari belakang.
*
*
Kisah ini hampir tamat ya, guyss. Dan author rencananya mau lanjut kisah Siska yang tak kalah menarik juga.
Tapi, tamatnya bukan sekarang, karena author bakal kasih ekstra part nya juga.
🥰🥰🥰
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰