
Jino samar-samar mendengar semua keluhan istrinya. Pria itu berusaha untuk bangun dari tidur panjangnya. Terlebih lagi saat lengannya basah karena air mata Celine membuat hatinya sakit.
Sekuat mungkin Jino berjuang agar bisa sadar kembali. Hingga perlahan matanya terbuka, pandangannya buram berusaha menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangannya.
"Aku mohon bangun, Mas!" tangis Celine pecah membuat Jino tersenyum lemah.
"Ja-jangan nangis, aku tidak suka." Jino berkata dengan terbata-bata membuat Celine terkejut.
Wanita itu segera duduk tegap, menatap sang suami yang kini sudah membuka matanya. Senyuman manis terpasang di wajah pucat Jino.
Bibir pria itu mengering dan pucat. Celine merasa sangat bahagia, suaminya telah sadar dari koma.
Tuhan telah mendengar doanya. Demi apapun Celine merasa sangat senang. Dia menangis sesegukan lalu mencium punggung tangan suaminya bertubi-tubi.
Kakinya masih lemah karena sebulan koma, Celine hanya bisa duduk di kursi rodanya. Tak mampu berdiri untuk memeluk tubuh suaminya.
"Alhamdulillah ya Allah … hiks … akhirnya kamu sadar juga! Aku sangat takut, Mas … takut sekali kalau kamu tidak bangun lagi!" ujar Celine di sela-sela tangisnya membuat Jino tersenyum lembut.
Celine menawarkan air untuk Jino. Wanita itu membantu suaminya untuk minum agar tenggorokan Jino tidak kering.
Jino ingin mengelus kepala istrinya, namun tubuhnya sama seperti Celine. Masih sangat lemah, belum mampu bergerak aktif seperti biasanya.
"Tadi kamu bilang mau cari suami baru kalau aku tidak bangun lagi. Terus kenapa sekarang takut hemm?" Jino menggoda Celine dengan suara parau dan terbata-bata membuat pipi wanita itu merona.
__ADS_1
"Tadi itu aku sengaja ancam kamu, biar kamu cepetan sadar! Eh tahu-tahunya kamu beneran sadar!" balas Celine dengan nada pelan membuat Jino tak bisa untuk tidak tertawa.
Pria tampan itu merasa sangat bahagia, sebab istrinya tetap setia mendampingi dirinya, di kala suka maupun duka.
Teringat kembali pada detik-detik terakhir dirinya pingsan. Istrinya mengalami pendarahan, Jino merasa sangat bersalah sebab tidak mampu menolong istrinya.
Senyumannya berganti dengan raut wajah sedih. Dia merasa marah pada dirinya sendiri sebab tidak berguna kala itu.
"Maafin aku ya, Sayang. Karena tidak bisa nolongin kamu waktu itu! Aku benar-benar suami tidak berguna," ujar Jino tiba-tiba membuat hati Celine merasa sangat sakit.
Dia segera menggenggam erat tangan suaminya. Berusaha menguatkan Jino.
"Semuanya baik-baik saja, Mas. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, karena kamu tidak salah apa-apa. Toh sekarang aku selamat, putri kita juga baik-baik saja. Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana caranya kamu dan aku kembali sehat seperti semula. Agar kita bisa cepat-cepat pulang dari rumah sakit dan menjaga putri kita bersama!"
Celine memberikan pengertian pada Jino membuat pria tampan itu menganggukkan kepalanya. Hati Jino merasa hangat mendengarkan perkataan Celine.
"Dasar penipu, kamu nikahin aku karena wajah aku mirip dengan Melisa," balas Celine dengan nada kesal membuat Jino tertawa.
Tiba-tiba pintu ruangan di buka dengan kasar. Bunga masuk ke dalam dengan raut wajah bahagia. Dia merasa sangat senang sepupunya itu sadar dari koma..
"Kakak!"
Saking bahagianya dia mendorong Celine hingga terjatuh dari kursi roda.
__ADS_1
Bugh.
"Sayang!"
"Celine!" teriak Margaret terkejut begitu dengan Junior ketika masuk ke dalam ruangan Jino.
"Upps … aku nggak sengaja!" ujar Bunga dengan tampang polosnya melihat Celine yang terjatuh ke lantai.
Margaret yang melihatnya pun merasa geram. Dia tidak terima menantunya disakiti.
Plak.
Margaret menghampiri Bunga dan langsung menampar pipi kanan Bunga dengan keras.
"Tante," gumam Bunga tak percaya menatap Margaret.
"Upps … Tante nggak sengaja!" balas Margaret dengan senyuman sinis.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏