
"Siapa yang telepon, Sayang?" tanya Jino penasaran melihat raut wajah tegang bercampur sedih dan marah Celine.
Wanita cantik itu segera menyodorkan ponselnya ke arah Jino.
"Wanita masa lalumu!" jawab Celine dengan suara bergetar menahan amarah dan tangisnya.
Degg.
Jino segera menerima telepon tersebut lalu mengumpat kesal karena sudah bisa menebak siapa yang menghubungi nya.
Belum sempat Nayla bersuara, Jino lebih dulu mengumpat wanita itu dengan kata-kata kasar.
"Dasar j*lang, Sialan. Berhenti menghubungi ku dan jangan coba-coba mengusik rumah tangga ku, bila tidak ingin aku mendatangimu untuk menggorok leher mu?!" bentak Jino murka lalu segera mematikan ponselnya.
Celine tak mampu menahan keterkejutan nya, dia yang tadinya ingin marah dan menangis juga menyalahkan Jino mendadak takut melihat raut wajah suaminya yang merah padam.
Nafas Jino naik turun, pria itu menghirup nafasnya dalam-dalam lalu menghembus nya secara kasar. Baru sebulan dia sembuh namun ujian lain kembali datang sehingga membuat dirinya merasa emosi.
Jino menatap lembut istrinya. Dia segera menarik Celine masuk ke dalam pelukannya. Memberikan kehangatan pada Celine yang kini menangis.
"Dia bukan siapa-siapa, Sayang. Kehadiran nya tidak mampu membuat rasa cinta ku padanya dulu hadir kembali. Bahkan, aku sangat membencinya! Percaya padaku … aku tidak selingkuh di belakang mu dan jangan percaya apa yang dia katakan atau orang lain katakan tentang ku, Sayang."
Jino berkata dengan suara bergetar menahan tangis. Dia sangat takut bila istrinya pergi meninggalkan dirinya. Sungguh Jino tak sanggup, pria itu sangat tulus. Bila sudah mencintai maka dia bisa menjadi budak untuk Celine.
Celine yang mendengarnya pun sedih. Ada rasa ragu dalam hatinya karena Jino sangatlah tampan, kaya dan perhatian. Walau menakutkan bila bipolar nya kambuh.
"Dia bilang apa tadi, Sayang? Jawab … cerita padaku!" desak Jino yang tak mendengar Celine berbicara. Dia benar-benar ketakutan bila Celine salah paham pada nya.
Demi apapun, Jino bukanlah pria peselingkuh. Dia tipikal pria setia pada satu wanita. Bila sudah cinta maka akan ia perjuangkan untuk mendapatkan wanita itu, bila sudah ia dapatkan maka dia akan menjaganya sepenuh hati agar wanitanya tak pergi.
"Dia bilang …"
20 menit yang lalu.
Celine mengangkat telepon Jino karena mengira ada hal penting yang ingin di katakan orang tersebut.
"Halo!" Nayla bersuara membuat si penelepon yang tak lain adalah Nayla tersenyum senang.
__ADS_1
"Oh halo … maaf ini siapa yah? Bukannya ini nomor ponselnya Jino?" tanya Nayla ramah membuat hati Celine berdenyut karena mendengar suara perempuan.
"Iya benar. Ini istrinya, Mbak ini siapa yah? Ada keperluan apa dengan suami saya?" tanya Celine dengan suara tak kalah ramah meski hatinya sudah berdebar tak karuan.
"Ah … aku baru tahu kalau Jino sudah menikah karena semalam saat dia tidak cerita sama aku. Tolong bilang sama Jino terima kasih semalam karena sudah membawa ku — Nayla pulang ke apartemen."
"Hubungan Mbak dengan suami saya apa yah? Rekan kerja atau —,"
"Mantan terindah!" balas Nayla santai membuat hati Celine sakit.
***
Jino yang mendengarnya pun bernafas lega, setidaknya Nayla tidak bercerita yang tidak-tidak pada Celine. Mungkin bila wanita itu mencari masalah dengannya, maka Jino benar-benar akan menggorok leher Nayla.
Jangan macam-macam dengan pengidap bipolar. Pilihannya hanya ada dua, Jino yang terluka atau Nayla yang mati.
"Kamu! Jangan pernah percaya apa yang orang katakan tentang ku. Bila sewaktu-waktu ada orang yang memfitnah ku, kamu harus bertanya kebenarannya padaku, jangan asal tuduh menuduh!" tegas Jino pada Celine membuat wanita itu menganggukkan kepalanya.
***
Margaret tersenyum cerah, dia baru saja memesan box bayi dari merk ternama. Wanita tua itu tak sabar menjadi nenek, dia sangat menantikan hari itu. Bahkan, semenjak tahu Celine hamil dia tak lagi berkumpul dengan geng sosialita nya.
"Pasti nanti cucuku sangat cantik dan ganteng. Secara Grandma dan grandpa nya saja cantik dan ganteng! Ah … aku tidak sabar menunggu hari itu!" pekik Margaret kencang seraya mencium guling bayi milik Jino dulu.
Di tengah-tengah kesenangan nya itu, suara ketukan pintu kamar membuat Margaret segera memasang raut wajah angkuh nya, dia pun beranjak untuk membuka pintu kamar.
Tampak Celine yang sudah cantik dan gemoy dengan perut buncitnya. Bobot tubuh Celine naik drastis karena dia banyak makan.
"Ada apa kamu kemari? Cucu ku mau apa lagi dia?" tanya Margaret dengan senyuman angkuh nya menatap hangat perut buncit Celine.
"He he … tadi sebenarnya aku mau mageran, Ma. Tapi, tiba-tiba dedeknya minta makan ikan bakar dari tempatnya langsung! Bolehkah, Ma?" tanya Celine penuh harap.
Margaret yang mendengarnya pun bersorak riang dalam hati. Merasa terharu dan bahagia karena Celine selalu mencarinya saat mengidam. Dia sangat mendalami peran nya sebagai calon nenek.
"Ekhm … baiklah, mumpung aku juga ingin makan ikan bakar, jadi ku datang di waktu yang tepat. Aku akan membawa mu ke restoran dekat pantai langganan ku. Pastikan lidah mu tidak kaget karena makan makanan orang kaya! Aku takut kamu muntaber!" ujar Margaret angkuh membuat Celine berdecih sinis.
'Di kiranya aku nggak pernah makan ikan kali ya,' batin Celine kesal.
__ADS_1
Keduanya pun segera meluncur ke tempat langganan Margaret. Sungguh Celine di buat kagum dengan restoran yang di pilih oleh Margaret. Aroma ikan panggang membuat perut Celine lapar.
"Selamat datang, Nyonya Margaret! Senang melihat Anda mengunjungi restoran kami kembali!" sambut menager restoran dengan ramah.
"Iya, ada menu apa saja hari ini?" tanya Margaret santai.
"Menu hari ini lengkap karena restoran ikan yang kami pesan dari luar negeri baru saja tiba! Termasuk dengan menu kesukaan Anda yaitu sushi! Apa kali ini Anda juga akan memesan sushi?" tanya Manager restoran membuat Margaret langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku kemari ingin pesan ikan bakar porsi jumbo saja. Tapi, bumbunya yang banyak yah … jangan terlalu pedas!" pesan Margaret membuat manager tersebut pun segera beranjak pergi.
Di saat sedang asik makam, Celine meminta izin ke toilet. Tinggallah Margaret seorang diri.
"Maaf, Nyonya. Ini ada kiriman surat dari pria tampan tadi untuk Nona yang makan dengan Nyonya!" ujar seorang pelayan membuat Margaret terkejut.
"Pria mana?" tanya Margaret dingin dengan wajah merah padam.
Pelayan itu pun menoleh ke arah pria yang menyuruhnya tadi.
"Tadi, pria itu ada di sana! Apa mungkin dia sudah pergi ya?" gumam pelayan itu pelan membuat Margaret segera menyuruh wanita itu pergi.
Tanpa berpikir panjang dia segera membuka surat yang di tujukan untuk Celine. Ada rasa marah dalam hati dan rasa curiga bila Celine main api di belakang Jino.
"Siapa pria laknat itu? Bagaimana bisa dia mengirim surat untuk istri anakku?" omel Margaret kesal seraya membuka surat tersebut.
Degg
"A-apa maksudnya ini?" gumam nya bergetar membaca isi surat itu.
*
*
Sekarang masuk pebinor yah wkwkwkwk 🤣🤣
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏