
Sudah sebulan berlalu semenjak kejadian naas yang menimpa Celine dan Jino. Kedua sepasang kekasih itu dinyatakan koma. Sungguh membuat orang-orang sedih mendengarnya.
Di tambah bayi mungil prematur itu mengalami sesak nafas. Hampir saja nyawanya tidak tertolong kemarin. Bayi Jino dan Celine masih berada di inkubator. Tidak diizinkan pulang dulu karena masih butuh perawatan intensif.
Fang sudah berhasil menemukan laki-laki yang mencelakai Celine. Mereka terkejut saat mengetahui siapa dalang nya, ternyata tak lain adalah Nayla dan Randy. Mereka sengaja membiarkan Randy juga Nayla bebas untuk sementara waktu.
"Kita tunggu Jino sadar dari koma, karena dia yang paling berhak membalas perbuatan dua ular itu. Biarkan mereka menikmati kebebasan dulu. Setelah Jino sadar, jangan harap mereka bisa hidup bebas!" desis Junior seraya mengepalkan tangan nya erat.
Padahal dia sudah menganggap Randy anaknya sendiri, sebab telah bersahabat lama dengan Jino.
Randy adalah musuh dalam selimut. Benar kata orang, bahwa yang berkemungkinan menghancurkan kita adalah orang dalam. Karena mereka tahu semua tentang kita.
"Pantau terus pergerakan mereka!" lanjut Junior membuat Fang menganggukkan kepalanya.
"Baik, Pak."
***
Margaret masuk ke dalam ruang rawat Celine. Dia melihat Celine tidur nyenyak dengan wajah damainya. Banyak alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya.
Celine dinyatakan koma. Namun, dokter mengatakan tidak akan lama lagi Celine akan sadar. Walau mereka tidak bisa menebak kapan tepatnya.
"Nyenyak banget kamu tidur! Macam nggak punya beban apa-apa?"
"Padahal kami semua menunggu kamu sadar! Apa kamu nggak rindu sama kamu semua? Sama putri kamu?"
Margaret berbicara dengan Celine, dia yakin menantunya itu bisa mendengarnya dengan baik.
"Mama tahu kamu nggak budeg! Pasti denger semua yang mama katakan. Ayo bangun … udah cukup tidurnya, istirahat kamu terlalu lama. Tuh … anak kamu di ruang inkubator setiap hari rewel karena pengen minum ASI kamu!"
"Si Jino juga koma … ck, macam udah janjian aja kalian. Pake komanya barengan lagi!"
Margaret terus menggerutu meski air matanya sudah berlinang membasahi pipi. Dia merindukan sosok menantu bawel nya. Jujur saja meski dia pernah tidak menyukai Celine, tetapi sekarang dia sudah menerima Celine sebagai menantunya.
Bukan karena hamil, melainkan karena melihat ketulusan Celine yang mau memaafkan kesalahan anaknya dan mau menerima kekurangan Jino dalam bersikap.
Celine ikut meneteskan air matanya. Dia bisa mendengar semua bisikan dan perkataan orang-orang sekitarnya.
__ADS_1
Margaret menghapus air mata Celine dengan penuh kasih sayang.
"Bangunlah, mama kesepian nggak ada kamu. Rumah terasa sunyi, kalau ada kamu, Maka punya temen berantem!"
"Jino juga pasti ikutan sadar kalau kamu bangun, Cel. Apa kamu nggak kasian sama putri kamu? Dia pasti butuh mama dan papanya. Terlebih lagi anak kalian lahir prematur, dia butuh perhatian lebih dari kalian!"
Semakin banyak air mata keluar dari sudut mata Celine. Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benak Margaret.
"Nggak ada yang mau merawat putrimu, dia terlahir prematur. Daripada merawat putrimu, lebih baik mama ikut arisan lagi bareng temen sosialita, Mama. Biarin aja anak kamu di inkubator selamanya."
"Kamu tahu sendiri, 'kan. Kalau seorang anak yang dirawat oleh orang lain pasti tidak mendapatkan kasih sayang penuh. Nah … nanti putrimu juga akan begitu, palingan Mama cuma membiayai hidupnya aja."
"Selebihnya tidak mau. Biar dia gede sendiri tanpa kasih sayang orang tua! Mama juga akan menjelek-jelekkan kamu nanti di depan putrimu, agar dia membencimu karena tidak mau berjuang untuk sadar dari koma!" ancam Margaret membuat air mata Celine keluar semakin banyak.
Bahkan bibir wanita cantik itu bergetar. Bola matanya terlihat bergerak, seperti sedang berusaha untuk bangun.
Margaret tersenyum senang saat melihat jari-jari Celine bergerak. Diam-diam dia menekan tombol nurse.
"Kamu dengar, Celine. Mama akan buat kamu dibenci sama anakmu sendiri! Kalau kamu nggak mau bangun dari koma, maka mama akan menjelekkan kamu di depan putrimu."
"Putrimu juga belum diberi nama … Mama akan beri dia nama Juminten, biar waktu gede dia diejek sama teman-temannya sebab punya nama Juminten! Atau nggak mama kasih Iyem, sama seperti nama si Mbok dirumah. Biar dikira orang-orang kalau dia anaknya si Mbok. Bukan anak kamu!"
"Ayo bangun!" Margaret berteriak di telinga Celine dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.
Tubuh Celine mengalami kejang-kejang. Tak berselang lama dokter dan perawat masuk, mereka segera menyuruh Margaret keluar.
"Mohon tunggu di luar, Bu. Agar kamu fokus bekerja!" ujar perawat itu lalu menutup pintu.
Margaret tersenyum cerah, dia mengusap wajahnya kasar. Wanita itu mendongak seolah sedang berbicara dengan Tuhan.
"Tuhan, kalau menantu ku sadar … maka aku akan sangat bersyukur dan pasti akan memberikan donasi untuk anak-anak yatim juga fakir miskin!" Margaret berdoa dengan hati yang bergetar. Yakin bahwa kali ini Tuhan pasti menjawab doanya.
"Aamiin."
***
Jantung Celine sempat berhenti, dokter pun memakai defibrillator untuk memancing jantung Celine berdetak kembali.
__ADS_1
"150 Joule."
"Tambah lagi jadi 200 Joule."
Para dokter berubah tegang karena jantung Celine masih berhenti.
"300 Joule!" teriak dokter seraya meletakkan alat defibrillator atas dada Celine.
Bip BIP BIP.
Bunyi jantung Celine stabil. Mata Celine terbuka perlahan membuat perawat yang melihatnya pun terkejut.
"Dokter, pasiennya sadar!" ujar perawat itu membuat dokter segera menyenter mata Celine.
"Bu, apa Anda bisa mendengar saya?"
Samar-samar Celine mendengar suara dokter tersebut. Matanya belum bisa terbuka lebar, pandangannya masih buram.
"Anakku."
"Anakku."
Celine hanya mampu bergumam pelan lalu kembali pingsan.
*
*
*
Author up lagi nih … ayo komentar nya 100 🥰🥰🙏🙏🌹
Bantu vote yukk … mumpung hari Senin.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏