Aku Bukan Masa Lalu Mu

Aku Bukan Masa Lalu Mu
Pendarahan Lagi


__ADS_3

Bunga terkejut mendengar jawaban Margaret yang dengan jelas membela Celine. Tante yang selama ini sangat menyayanginya kini menampar dirinya demi membela Celine.


Hatinya merasa sangat panas. Tidak terima dengan kenyataan bahwa Tante nya telah memihak wanita miskin itu.


"Tante tega tampar aku karena tidak sengaja mendorong wanita gembel itu?" tanya Bunga dengan nada tak percaya membuat Jino yang sedang sakit pun mengepalkan tangannya erat.


Rasanya bila dia sehat sudah ia robek mulut Bunga karena menghina istri tercintanya.


Celine sudah di bantu duduk kembali atas kursi roda oleh Margaret. Wanita tua itu kembali menatapnya dengan tatapan tajam.


"Orang buta pun akan tahu kalau kamu sengaja mendorong Celine dari suaranya saja. Mana mungkin kamu bilang tidak sengaja, sedangkan Celine jatuh dalam keadaan tidak baik-baik saja dari kursi rodanya."


"Tante menyayangimu, Bunga. Bukan berarti Tante menutup mata dengan kesalahan yang kamu buat?!"


Margaret berkata dengan nada tegas membuat Bunga meneteskan air matanya. Dia merasa sakit hati karena Margaret yang sangat ia sayangi memarahi Dirinya.


"Tante jahat!" Bunga menangis lalu keluar dari ruangan Jino begitu saja tanpa meminta maaf pada Bunga.


Margaret menghela nafas berat, dia juga merasa tak enak hati pada Bunga juga iparnya.


"Nggak apa-apa, Mbak. Kami ngerti, kok. Maafin Bunga ya Celine! Nanti Tante coba bilangin sama dia agar bisa menghargai kamu sebagai kakak iparnya!"


Tante Mela berbicara lembut, dia keras sangat tidak enak hati sebab anak tirinya berlaku tak sopan pada Celine.


"Nggak apa-apa, Tante," jawab Celine pelan dengan wajah pucat.


Jino yang melihat istrinya tampak kesakitan pun merasa sangat khawatir. Mata elangnya tak sengaja melihat baju pasien Celine bagian perut berubah menjadi warna merah.

__ADS_1


Mata pria itu terbelalak ketika menyadari warna merah itu adalah darah.


"Sayang, perut kamu berdarah!" pekik Jino dengan suara lemah membuat semua orang langsung melihat ke arah perut Celine.


Celine yang sedari tadi menahan sakit pun tersenyum lemah, lalu kembali pingsan saat merasakan pandangannya gelap.


"Celine!"


"Ya Tuhan, bekas jahitan operasi Caesar nya pasti terbuka ini!"


Tante Mela dan Margaret menebak bahwa jahitan operasi Caesar Celine kembali terbuka. Wajar saja baru sebulan lalu Celine melahirkan, ditambah wanita itu baru hari ini sadar. Jahitannya belum tertutup rapat dan menghilang bekasnya.


"Panggilkan dokter, Ma?!" titah Jino panik.


Celine tidak merasakan apapun lagi. Dia hanya mendengar samar-samar suara Margaret dan yang lainnya berteriak panik.


'Dasar ipar laknat! Aku santet mati kau!' umpat Celine dalam hati.


***


Dua hari Celine tak sadarkan diri. Saat itu pula Jino selalu mendampingi nya, suaminya sudah belajar jalan walau meski masih tertatih-tatih karena tenaga nya belum pulih.


Jino menangis haru ketika melihat anaknya yang sangat cantik. Putrinya itu mirip sekali dengan Celine, bola matanya saja yang mirip dengan Jino.


Saat ini anaknya sedang di gendong oleh Margaret. Meski belum bisa melihat dengan jelas, sang anak sangat murah senyum. Seolah paham saat di ajak bicara oleh orang-orang dewasa.


"Cup cup cup cucu Oma, udah bangun ya, Sayang? Iya? Cucu Oma udah bangun? Uluh uluh … gemesin banget sih kamu, Sayang?!"

__ADS_1


Margaret berbicara dengan sang cucu dengan nada bahagia. Dia merasa sangat senang sebab sudah menjadi seorang nenek.


Jino tersenyum manis melihatnya. Dia masih tidak berani menggendong anaknya karena hatinya masih merasa bersalah sebab pernah berniat membunuh putri kecilnya. Bahkan, untuk menatap lama-lama saja Jino tak sanggup.


"Ji, anak kamu cantik banget, gimana cara buatnya sih? Uhh … mama gemes banget, pengen gigit!" ujar Margaret membuat Junior menyenggol lengan nya.


"Pembuatan nya sama seperti kita buat Jino dulu, Ma. Cuma beda cabang aja!" sahut Junior membuat Margaret tertawa cekikikan.


Celine yang sebenarnya sedari tadi pagi sudah sadar pun kini membuka matanya perlahan. Dia melihat ke arah tangannya ternyata Jino sedang mengelus lengannya.


"Mas, haus," ucap Celine pelan dengan nada serak membuat Jino dan yang lainnya menatap ke arahnya.


"Sayang!" pekik Jino terkejut dengan senyuman bahagia terbingkai di wajah tampannya.


"Apa?" tanya Celine membalas senyuman manis Jino.


"Rindu!" balas Jino dengan mata berkaca-kaca.


*


*


Maaf telat up hehe,


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2