Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Foundation dan Color Corrector


__ADS_3

TANPA Gabriella, Agni pasti bakal kerepotan merawat Ishaan sembari mempersiapkan perjalanan menuju Milan. Gabriella dengan senang hati memasak dan membersihkan apartemen, sementara Agni merapikan pakaian dan barang-barang miliknya sekaligus Ishaan.


Luka dan memar perkelahian yang ditinggalkan para berandalan itu tak cukup parah, tetapi menciptakan bekas yang kentara terlihat. Ishaan juga kesulitan mengenakan pakaian sampai beberapa kali meminta bantuan Gabriella untuk mengancingkan kemeja.


“Kalian yakin mau pergi sekarang?” tanya Luca yang mampir ke apartemen buat mengantar Ishaan dan Agni ke stasiun.


“Justru kami sebaiknya tak menunda keberangkatan supaya bisa cepat istirahat di Milan,” ujar Ishaan. “Di sana ada kenalan yang membantu, jadi Agni juga tidak akan terlalu terbebani.”


Agni jadi penasaran, ada berapa orang ‘kenalan’ Ishaan yang tersebar di Eropa.


“Bekal buat kalian. Biar tidak repot memasak.” Gabrielle menyerahkan dua lunch box pada Agni. “Hati-hati di Milan. Kamu juga, Ishaan. Tumben kamu menghadapi berandalan sendirian. Bukannya kamu selalu ditemani bodyguard?”


Pertanyaan tadi memancing rasa penasaran Agni. Seeorang berkedudukan tinggi seperti Ishaan seharusnya ditemani bodyguard, apalagi untuk trip berbulan-bulan di luar negeri. Kenyataannya, mereka hanya berdua. Ishaan juga sepertinya bukan tipe petarung karena tak melakukan banyak perlawanan.


“Mereka mau bersikap macam-macam pada Agni. Masa aku hanya diam?” Ishaan meringis kala memasukkan tangan ke lengan jaket. “Terima kasih, Luca, Gabriella. Kami janji akan menjaga diri selama di Eropa.”


*


Untuk kunjungan bisnis di Eropa, Ishaan dan Agni menggunakan high speed train. Sebagian besar rutenya melewati kota-kota yang mereka datangi. Biaya yang dikeluarkan pun lebih terjangkau dibandingkan bepergian memakai pesawat.


“Durasi perjalanannya lebih lama, tapi kita bisa memanfaatkan waktu di kereta buat istirahat atau mengecek pekerjaan,” Ishaan menjelaskan kala Agni bertanya alasannya memilih transportasi darat. “Plus, pemandangannya menakjubkan. Kamu dijamin bakal terkesima melihatnya.”


Benar saja. Dari jendela, Agni mendapatkan suguhan pemandangan yang beragam. Dimulai dari bangunan-bangunan klasik khas Italia, lalu berubah menjadi padang rumput dan pepohonan rindang. Di hadapannya, Ishaan tengah tertidur sambil mendengarkan musik. Barangkali masih butuh waktu buat memulihkan luka.


Agni mengecek jam di layar ponsel. Pukul sebelas siang, berarti di Jakarta masih sekitar pukul enam pagi. Dia penasaran, apa Shia sudah bangun? Saat hendak mengirim pesan, Agni malah menerima notifikasi dari Micah.


Agni, sori ganggu. Ishaan sama lo, kan? tanya pria itu. Dari semalam gue telepon enggak diangkat. Apa ada masalah? Atau kalian lagi sibuk banget?


Waduh, apa yang harus Agni katakan? Meski Ishaan tak memintanya merahasiakan kejadian semalam, dia ragu buat menceritakannya.


Tuan Ishaan sibuk mempersiapkan bahan meeting bersama saya semalam. Kami sekarang ada di kereta menuju Milan. Agni berhenti sejenak sebelum melanjutkan, Apa Anda ingin menyampaikan sesuatu?


Minta dia telepon gue, ya, begitu kalian enggak sibuk. Thank you!


“Lagi chatting sama siapa?”

__ADS_1


Agni menengadah kala mendengar suara berat itu. Rupanya Ishaan sudah bangun. “Temanmu?”


“Bukan, ini Micah. Dia menanyakan kabar Tuan karena teleponnya tak diangkat.”


Keningnya mengernyit. “Kamu cerita soal ribut-ribut semalam?”


Agni menggeleng. “Saya hanya bilang Tuan sedang sibuk bekerja.”


“Good, thank you. Jangan sampai dia ikut cemas. Biar aku telepon dia dulu.” Kemudian, Ishaan mengambil ponsel dan beranjak dari kursi. “Istirahatlah, Agni. Aku tahu semalam kamu hanya tidur sebentar. Perjalanan kita masih dua jam lagi.”


Lagi, Agni enggan menolak. Maka saat Ishaan berlalu menuju gerbong restoran, dia mengatur kursinya agar melandai, lalu membungkus diri dengan selimut sampai akhirnya terlelap tidur.


**


Insiden yang menimpa Ishaan di Roma membuatnya agak parno keluar di malam hari. Apalagi di Milan dia hanya punya kenalan sebatas rekan kerja. Mana mungkin Ishaan menggantungkan keselamatannya pada Agni, sementara gadis itu yang lebih rentan mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan.


Selama dua hari, Ishaan memilih menyibukkan diri di apartemen sembari memeriksa pekerjaan dan menyiapkan bahan presentasi bersama Agni. Efek mimpi menggairahkan itu sudah melemah, tetapi dia tak mau menurunkan kewaspadaan. Sentuhan sesingkat apa pun bisa saja menimbulkan masalah yang lebih merepotkan.


Tibalah mereka pada hari pertemuan dengan klien. Di depan cermin, Ishaan memperhatikan setelan kerjanya. Sudah rapi dan bersih. Hanya saja, dia terganggu dengan bekas memar pada pelipis yang masih terlihat jelas.


Memang Ishaan bisa menjelaskan kalau klien bertanya atau barangkali mereka tak peduli. Namun, dia was-was bekas memar itu malah mengacaukan konsentrasinya saat menjelaskan prospek proyeknya.


Ishaan mengerjap. Ya, dia bisa memakai benda itu buat menyembunyikan bekas memarnya.


“Agni,” Ishaan mendekatinya, “kamu punya bedak?”


Lawan bicaranya mendongak. “Bedak untuk wajah? Saya punya—”


“Boleh aku minta sedikit buat menutupi bekas memar? Kalau habis, bakal aku gantikan.”


Alih-alih mengambil bedak yang dimaksud, Agni malah mencondongkan tubuh sebentar. Ishaan menahan napasnya; berusaha mengendalikan desakan-desakan tak pantas yang terus memberontak.


“Sebentar, saya ambilkan sesuatu. Tuan duduk dulu saja,” pinta Agni sebelum masuk ke kamar. Saat kembali, tangannya bukan hanya membawa dua tube mungil beda warna, tetapi juga cermin bulat.


“Tuan, bisa pegang cerminnya dan arahkan ke bagian yang kena memar?” Agni menginstruksikan sembari membuka tube berwarna kuning. “Kalau sakit, bilang, ya. Saya bakal oleskan pelan-pelan.”

__ADS_1


Ishaan meringis pelan kala Agni mulai mengaplikasikan krim berwarna kuning pada bagian kulit yang berwarna ungu. Dalam beberapa kali pulasan, krim tadi berhasil menyamarkan memarnya. Kemudian, Agni membuka tube kedua, lalu mengoleskan krim berwarna krem untuk menyempurnakan lapisan sebelumnya.


“Selesai,” gumam Agni. “Syukurnya skin tone Tuan tak jauh berbeda dari shade foundation saya. Color corrector-nya juga belum habis.”


Ishaan tak memahami celotehan Agni, terlalu terpukau dengan hasil kerja sang asisten yang begitu rapi. “Tetap bakal aku ganti. Nama produknya apa tadi?”


Agni malah menggeleng. “Tidak perlu, saya senang bisa membantu. Sebaiknya kita pergi sekarang. Klien hari ini bukannya kurang suka kalau ada yang terlambat?”


Keduanya lantas bergegas pergi menuju tempat pertemuan. Tanpa sepengetahuan Agni, Ishaan mengirimkan pesan pada Micah. Dia memerintahkan temannya untuk bertanya pada sahabat Agni tentang produk makeup yang dipakai gadis itu.


*


Pertemuan berjalan lancar. Klien terlihat puas sekaligus penasaran dengan presentasi Ishaan. Sementara Agni menyimak sambil mencatat poin-poin penting pada tablet. Sekitar tiga jam kemudian, Ishaan dan Agni berjalan mengitari jalanan Milan dengan senyum lega terukir di wajah.


“Omong-omong, riasannya bisa dibilas pembersih wajah biasa, kan?” Ishaan ingin memastikan karena dia tak mau merepotkan Agni.


“Bisa, Tuan. Kalau agak susah, saya bisa kasih makeup remover.”


Benar tebakannya, pasti Agni punya opsi lain buat mengangkat riasan itu. “Aku jadi penasaran, kamu belajar merias sampai dapat trik itu dari mana? Autodidak atau kursus?”


“Saya belajar merias sendiri, terus dibantu Shia, sahabat saya. Di jurusan saya, penampilan harus selalu dijaga, apalagi kalau pengin jadi sekretaris.”


“Sampai tahu cara menutupi bekas memar seperti ini?” Ishaan menunjuk pelipisnya.


“Kalau itu,” Agni berdeham, “saya tahu dari Shia yang sering… dapat ‘luka’ di lehernya sehabis kencan.”


Butuh dua detik bagi Ishaan buat memahami ‘luka’ yang dimaksud Agni.


“Memangnya sama, ya?” Ishaan tentu sering melihat jenis luka itu. Malah, dia kerap meninggalkannya pada beberapa tubuh Ayanna sampai perempuan itu kewalahan menutupinya. “Maksudku, dari warna dan aplikasi produk. Memarku lebih besar.”


“Agak beda, di ukuran dan kedalaman warna. Memar lebih besar, ‘luka’ yang itu—”


Agni melepas tawanya. Kalimat tadi dibiarkan menggantung. Namun, Ishaan tak terlalu menghiraukannya. Karena yang tengah dipikirkannya bukan perkara bekas memar, tetapi fakta bahwa Agni tahu cara menyamarkan jejak-jejak percintaan seandainya mereka—


Ponsel Ishaan berdering. Seseorang meneleponnya.

__ADS_1


Mbak Tanisha?


***


__ADS_2