
“SUDAH blokir akses ponselmu lewat aplikasi?”
“Sudah.”
“Data-datanya?”
“Saya back-up sebagian ke tablet.”
“Bagaimana dengan kontak-kontak penting?”
“Ada di cloud storage. Bisa saya akses lewat email.”
Barcelona, berdasarkan sejumlah data, adalah salah satu kota dengan kasus copet paling tinggi di dunia. Fakta yang sebenarnya Ishaan ingat baik-baik saat dia mampir untuk kepentingan bisnis maupun liburan. Siapa duga dia bakal kecolongan saat ingin melewatkan waktu berdua bersama Agni.
Barangkali gara-gara itu pula kewaspadaan Ishaan turun. Dia terlalu bersemangat ingin menunjukkan hal-hal yang diminatinya pada Agni. Sekarang, satu jam setelah peristiwa pencopetan berlalu, mereka memutuskan pulang ke apartemen dan menunda pertemuan terakhir. Untungnya, klien mereka memaklumi musibah yang sedang dihadapi.
Ishaan pun tak menduga Agni cepat menguasai dirinya. Gadis itu sempat panik saat menyadari ponselnya hilang, tetapi setelah tenang, dia segera mengambil tablet dan mengikuti instruksi Ishaan untuk memblokir akses gawai tersebut.
Mereka sempat melacak ponsel lewat aplikasi, tetapi di tengah pencarian, lokasinya mendadak hilang. Ada kemungkinan ponsel lowbat atau dimatikan secara paksa oleh pelaku.
“Maaf saya teledor,” gumam Agni dengan kepala tertunduk. “Itu—ponsel itu belum sampai tiga bulan saya pegang dan sudah hilang.”
Ishaan menyodorkan segelas air. Ingin sekali dia menenangkannya, tetapi cemas kata-katanya malah semakin menyakiti hati Agni. “Jangan terlalu dipikirkan, nanti jadi beban buatmu. Sisa gaji yang kukirim selepas trip bisa kamu belikan ponsel baru di Jakarta.”
“Mungkin buat Tuan membeli ponsel semahal itu bukan perkara sulit,” Agni meneruskan. “Buat saya, untuk mengumpulkan uangnya saja perlu menyisihkan gaji sampai tiga atau empat bulan.”
“Agni—”
“Saya permisi ke kamar dulu.”
Ishaan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kadang, dia lupa status sosialnya dan Agni berada di level berbeda. Betul kata gadis itu, kehilangan ponsel bukan sesuatu yang bakal bikin Ishaan senewen siang-malam. Tinggal gesek kartu kredit, dia akan mendapatkan yang baru, bahkan dengan versi lebih bagus.
Sementara Agni harus banting tulang sekian bulan buat membelinya.
__ADS_1
Apa yang harus Ishaan lakukan untuk memperbaiki suasana hati Agni?
Ishaan bangkit dari kursi, lalu menghubungi Micah. Di saat-saat genting seperti ini, dia berharap punya koneksi ke kelompok preman bak tokoh-tokoh di film aksi. Namun, Ishaan belum punya pengaruh sebesar itu. Satu-satunya hal yang dapat dia lakukan sekarang adalah minta pendapat sahabatnya.
**
Agni membaringkan tubuh di kasur. Selama dua jam terakhir, dia menyibukakn diri mengubah password email dan aplikasi. Kemudian, dia mengontak bank dan platform pembayaran lewat media sosial untuk menahan transaksi tak diharapkan. Tidak lupa, dia mengabari Shia untuk mengontaknya lewat aplikasi chatting alternatif yang aksesnya tak memerlukan nomor telepon.
Sesekali, Agni juga mencoba melacak ulang keberadaan perangkat tadi, tetapi lokasinya sudah tak terdeteksi.
Ikhlasin aja kalau gini mah, batinnya. Untung ponsel lama gue belum dijual. Jadi masih bisa dipake begitu pulang ke Jakarta.
Perutnya keroncongan. Diliriknya jam di layar tablet. Hampir waktu makan malam.
Dibukanya pintu buat mengecek keadaan apartemen. Dari celah, Agni mendapati ruangan yang sunyi dan remang. Dia sempat mendengar bunyi pintu utama yang terbuka beberapa jam lalu; menandakan kepergian Ishaan. Pria itu barangkali sedang jalan-jalan atau punya urusan di luar.
Percakapan tadi…. Agni sadar Ishaan bermaksud baik. Akan tetapi, ini bukan pengalaman pertamanya kehilangan barang bernilai besar. Terakhir, rumah yang semestinya jadi milik Agni, direnggut paksa oleh sang ibu tiri. Mustahil merebutnya kembali saat posisi Agni sangat lemah.
Agni memegangi perutnya yang memberontak kian keras. Barangkali setelah laparnya terkendali, dia dapat berpikir lebih jernih.
*
Agni telah menuntaskan makan malamnya sekian jam lalu. Meja makan dan dapur bahkan dia bersihkan sembari menunggu pria itu. Ganjil rasanya menempati unit apartemen seorang diri. Jauh dari Jakarta pula.
Apa yang sebenarnya Ishaan lakukan? Apa dia nekat mencari ponsel Agni? Memikirkannya saja bikin Agni merinding. Pria itu bisa babak belur, bahkan masuk rumah sakit kalau bertindak nekat seperti di Roma.
Lima menit lagi. Entah berapa kali Agni menahan dirinya masuk kamar demi menunggu Ishaan. Gadis itu lantas mematikan tablet yang memutar film yang tak ditontonnya, lalu mengecek jendela dan pintu sebelum—
Ceklek. Agni bergegas meninggalkan balkon kala mendengar bunyi pintu utama terbuka. Ishaan, mengenakan pakaian yang sama seperti saat mereka terakhir bicara tadi, membawa sebuah kantung kertas di tangan. Kelegaan yang merayapi Agni tak berlangsung lama saat menyadari lebam di wajah Ishaan dan langkahnya yang agak tertatih kala menghampirinya.
“Tuan, apa yang terjadi?” Agni memapah Ishaan, lalu membimbingnya duduk di sofa. “Biar saya ambil first aid kid—”
“Ponselmu,” potongnya sambil menyerahkan kantung tadi pada Agni. “Aku menemukan ponselmu.”
__ADS_1
Agni hanya mengecek sekilas isi kantung itu. Perhatiannya tersita penuh pada kondisi Ishaan. “Saya obati Tuan dulu.”
Ishaan ingin memprotes, tetapi tertahan nyeri dari luka di sekitar sudut bibir. Buru-buru, Agni mengambil first aid kid di dapur dan menyiapkan air untuk membilas kotoran serta luka di wajah pria itu.
“Kayaknya aku harus invest buat sewa preman,” gumam Ishaan saat Agni selesai menangani luka di wajah. “Atau ambil kelas bela diri lagi, ya? Biar aku bisa melawan sendiri.”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?” Agni terus mendesak. Dia ingin mendengar keterangan Ishaan, tetapi yang diterimanya hanya celetukan-celetukan yang tak kunjung menjawab rasa penasaran. “Seharian saya was-was menunggu.”
“Kurang jelas? Aku mengambil lagi ponselmu.” Ishaan meringis kala Agni menekan lengannya. “Dari tadi kamu sibuk mengurus lukaku sampai belum berterimakasih.”
Agni menghela napas. Astaga, kalau bukan bos gue…. “Terima kasih, Tuan.”
Salah satu sudut bibir Ishaan yang tak terluka terangkat. “Aku juga mau minta maaf atas perkataanku tadi. Tidak ada maksud buat menyinggungmu.”
Hati-hati, Agni mengompres lebam di bagian dalam lengan Ishaan. “Mungkin karena hormon juga saya jadi agak sensitif.”
Ishaan menggumamkan ooh panjang. “Cek lagi ponselmu, reset kalau perlu sebelum kamu pakai. Besok aku bakal sewa mobil supaya kita lebih aman bepergian.”
Setelah selesai mengobati Ishaan, Agni mengecek ponsel. Satu-satunya cacat yang dia temukan adalah retakan pada screen protector. Selebihnya, ponsel masih mulus. Agni hanya perlu mengatur ulang setelannya untuk membuka akses perangkat.
Seketika, beban yang seharian mencengkeram Agni terlepas, digantikan lega dan tenang, terutama saat Ishaan pulang. Melewati berbagai kisah kehilangan bertahun-tahun, Agni akhirnya merasakan pengalaman itu. Pengalaman saat hak miliknya kembali padanya.
Terlebih lagi, ada orang yang membantu Agni memperjuangkannya.
“Agni, apa aku mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu lagi?”
Agni mengerjap, lalu menyadari pipinya basah. Di hadapannya, Ishaan kentara sekali cemas. “Semestinya aku minta kamu istirahat. Pasti capek juga menungguku tanpa kabar seharian.”
Cepat-cepat, Agni menghapus air matanya. Faktanya, perubahan hormorn pada pekan menstruasi sering bikin dia lebih cengeng. Namun, sikap dan tindakan Ishaan melembutkan bagian hati yang Agni kira telah lama mengeras.
“Terima kasih, Ishaan.” Agni lantas mencium pipi Ishaan yang tak terluka. Cukup lama sampai pria itu perlu menahan pundaknya. Ada banyak kata berseliweran dalam benak Agni, terlalu banyak sampai dia sulit menentukan mana yang ingin diungkapkan.
Pada akhirnya, Agni membiarkan Ishaan mendekapnya sampai mereka terlelap di sofa.
__ADS_1
***