
“DASAR perempuan murahan, pergi dari rumahku!”
“Ibu salah paham. Bukan aku yang menggoda pacar ibu.”
“Banyak alasan kamu! Terus kenapa pacarku ada di kamarmu? Pasti kamu merayunya buat meninggalkanku, kan?”
“Sumpah, Bu, bukan begitu ceritanya—”
“Kalau bukan karena ayahmu yang kaya, mana sudi aku tinggal seatap dengan perempuan ular sepertimu. Enyahlah dari sini atau aku panggil warga buat mengarakmu keliling kompleks!”
“Bu—”
“Ibu!”
Agni tersentak dari tidurnya. Selama beberapa detik, dia membeku di tempat. Matanya menangkap kakinya yang tertutup selimut, lalu di bawah jendela terdapat televisi mungil yang sudah lama dimatikan.
Kesadarannya perlahan terkumpul. Napasnya yang memburu pun berangsur teratur.
Agni kini ingat, dia berada di kabin first class pesawat yang membawanya ke Eropa bersama Ishaan. Entah sudah berapa lama mereka terbang di udara. Satu yang pasti, Agni tertidur cukup lama sampai memimpikan hal-hal yang tak ingin diingatnya.
Setelah mendapat mimpi tadi, Agni sebenarnya enggan kembali tidur. Di sisi lain, dia ingin turun dari pesawat dalam kondisi segar bugar. Mana mungkin dia menyia-nyiakan setiap detik yang berharga di Benua Biru, beratus kilometer jauhnya dari Indonesia.
Belum sempat memejamkan mata, Agni merasakan seseorang mengawasinya. Mulanya dia ingin mengabaikan, tetapi perasaan itu tak kunjung hilang saat dia berbalik menghadap jendela. Pada akhirnya dia memberanikan diri mengintip dari balik pundak dan—
Di bawah penerangan remang, Ishaan tengah memandanginya.
“Tuan—” Dengan sigap, Agni menegakkan punggung. “Maaf, pasti teriakan saya tadi membangunkan Tuan.”
“Tidak juga. Aku memang belum tidur sejak kita lepas landas dari Jakarta,” sahut Ishaan. “Kali pertama naik pesawat pasti bikin kamu nervous sampai kepikiran keluarga.”
Agni tersenyum masam. “Saya sudah lama tak bertemu ibu. Dia—dia pindah ke rumah suami barunya.”
“Ayahmu?”
“Sudah lama meninggal.” Pembahasan ini mengingatkan Agni kalau dia belum sempat ziarah ke makam sang ayah. “Maaf, Tuan, saya—saya kurang nyaman membicarakan tentang keluarga.”
__ADS_1
“Harusnya aku yang minta maaf. Topik ini tak akan aku ungkit lagi.” Syukurlah Ishaan bukan tipe yang kepoan. “Kamu butuh sesuatu? Camilan atau minuman buat bantu kamu tidur. Penerbangan kita masih sepuluh jam lagi.”
Agni mengecek persediaan minum dan snack yang belum disentuh. “Tidak perlu, Tuan, terima kasih. Saya nanti bisa minta sendiri ke pramugari.”
“Baiklah, tapi jangan sungkan minta bantuan dariku,” pungkas Ishaan sembari memasang headphone dan meneruskan tontonannya.
Menyaksikan film atau serial mungkin membantu Agni mengalihkan pikirannya dari mimpi buruk tadi. Dinyalakannya televisi dan mencari judul yang diharapkannya dapat menghibur di sisa perjalanan.
*
Berdasarkan jadwal yang Ishaan bagikan, Roma menjadi kota pertama yang dikunjungi dalam trip tiga bulan tersebut. Setelah itu, keduanya akan mengitari delapan kota di Eropa sebelum liburan singkat di Marrakesh, Maroko.
“Lho, saya ikut juga?” Agni memastikan saat mengecek itinerary sehari sebelum keberangkatan ke Roma. “Saya hanya bekerja sebentar untuk Tuan. Saya tidak keberatan pulang duluan—”
“Kamu bisa mengurus kepulangan sendiri ke Jakarta? Kita cuma seminggu di Marrakesh,” tukas Ishaan santai. “Lagian aku mau ketemu Mama. Dia tinggal di sana sekarang.”
Bukannya tenang, Agni malah semakin panik. Bagaimana bisa Ishaan menyeretnya yang notabene orang asing ke tengah pertemuan keluarga?
“Saya jadi tidak enak, Tuan,” Agni mencicit.
Kali ini, Agni tak dapat mengelak. Kalau berani melawan, Ishaan bisa-bisa meninggalkannya di tengah perjalanan mereka di Eropa.
“Selamat malam, Tuan Marlon. Makan malam Anda.” Seorang pramugari menghampiri mereka, lalu menata satu set dinner untuk Ishaan. Tanpa Agni duga, pramugari kedua muncul membawakan hidangan yang sama untuknya.
Mulutnya baru terbuka saat Ishaan berkata, “Aku yang pesan. Jadi sesampainya di apartemen, kamu bisa tidur buat menghilangkan jet lag.”
Agni mengangguk patuh, lalu menyantap makan malam ternikmat yang pernah mampir di lidahnya.
**
Walau sudah beberapa kali mampir ke Roma, Ishaan selalu dibuat terkesan akan keindahan kota tersebut. Maka sambil mengarahkan supir taksi menuju apartemen yang disewanya, pria itu sesekali mengagumi bangunan-bangunan klasik di tengah kesibukan warga lokal menjelang akhir musim panas.
“Senang sekali saya bisa membantu Tuan Marlon lagi di Roma,” ucap Luca, sang supir, kala membantu Ishaan dan Agni menurunkan bawaan mereka dari bagasi. “Jangan sungkan menghubungi saya atau istri kalau butuh bantuan.”
“Justru aku yang senang bisa kembali bertemu Anda.” Ishaan menyelipkan sejumlah uang pada tangan Luca. “Terima kasih. Bueno sera*.”
__ADS_1
Saking asyiknya berbincang dengan Luca, Ishaan sampai melupakan Agni yang sedari tadi melongo di belakangnya. Sepertinya gadis itu kebingungan menyimak percakapannya bersama sang supir yang menggunakan bahasa Italia.
“Agni, ayo masuk.” Tepukan halus yang Ishaan berikan di pundak Agni serta-merta menyadarkannya. “Ini apartemen yang biasa aku tinggali kalau mampir ke Roma. Kita menempati lantai tiga. Ada akses langsung ke rooftop.”
Setengah jam kemudian, baik Ishaan dan Agni sama-sama sibuk membongkar isi koper dan tas. Unit apartemen yang mereka tempati memiliki dua kamar tidur yang dilengkapi kamar mandi dalam. Ukurannya tak seluas apalagi semewah apartemen Ishaan di Jakarta. Namun, hal itu yang dia butuhkan. Dia sengaja memilih apartemen dengan desain yang menunjukkan ciri khas Roma.
Saat keluar kamar, Ishaan mendapati Agni yang baru mengambil segelas air dari dapur. Gadis itu mempercepat langkah, tetapi Ishaan menghalangi jalannya menuju kamar.
“Relaks, Agni. Aku tak akan bertindak macam-macam.” Ishaan lalu memiringkan kepala. “Ingat, jangan tidur terlalu malam. Besok kita langsung kerja. Pukul berapa kita harus menemui klien pertama?”
“Pukul sepuluh pagi,” jawab Agni cepat dengan kepala tertunduk.
“Lihat ke atas, memangnya mataku di lantai?” Senyumnya mengembang kala kedua manik mata Agni tertuju padanya. “Kontak mata sangat penting dalam bisnis, Agni. Biasakan diri menatap langsung lawan bicaramu atau kita bakal kehilangan kontrak ratusan juta rupiah.”
“Baik, Tuan. Saya mengerti.”
“Silakan,” Ishaan bergeser agar Agni dapat masuk ke kamarnya, “Dormi bene, Signorina**.”
Agni menoleh padanya Ishaan sesaat sebelum menutup pintu kamarnya.
Tiba-tiba, Ishaan teringat ucapan Micah. Apa dia benar-benar sanggup mengurus pekerjaan berdua dengan Agni?
Ishaan sudah sering dinas ke Eropa tanpa maupun bersama tim kantor untuk melaksanakan tugas. Memang saat membawa Ayanna dua tahun lalu, sebagian pekerjannya keteteran gara-gara mereka keasyikan mencari tempat untuk bermesraan. Untungnya ada Micah yang membantu menuntaskan semuanya sebelum dipertemukan deadline.
Sekarang Ishaan yakin mampu memberikan performa terbaik. Dari pemantauannya sejauh ini, Agni tak menunjukkan reaksi seperti sebagian besar perempuan yang biasanya meleleh kala mendengar Ishaan berbicara dalam bahasa asing. Gadis itu juga terang-terangan menjaga jarak darinya.
Sepertinya aman, batin Ishaan. Dia lantas masuk ke kamar; berharap akan menikmati tidur yang tenang.
Akan tetapi, Ishaan tak menduga bahwa pada malam pertamanya di Roma, dia malah mimpi bercinta dengan Agni.
***
* [Italia] Selamat malam
** [Italia] Tidur yang nyenyak, Nona
__ADS_1