Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Modus Terbaru Ishaan


__ADS_3

“SHI, kejadian juga, dong, akhirnya.”


“Apanya yang kejadian?”


“Gue… gue tidur sama Ishaan.”


Meski sedang terpisah jarak ribuan kilometer, Agni dapat membayangkan ekspresi Shia kala mendengar kabar tadi. Matanya pasti membelalak dengan mulut ternganga sebelum merespons, “Serius? Lo enggak perawa—”


“Bentar, konteksnya bukan tidur yang itu.” Agni memijiti keningnya. “Maksud gue, tidur sekamar. Enggak ngapa-ngapain.”


“Kalian cuma tidur satu ranjang gitu?" Shia menegaskan.


“Kurang lebih….” Agni melongok sebentar keluar kamar. Satu jam lalu selepas makan malam, Ishaan pamit keluar. Ada urusan, katanya, tanpa memberi detail pada Agni. Momen itu lantas dia manfaatkan buat melapor pada Shia. Sang sahabat pasti punya masukan untuk menghadapi situasi ini.


“Mmh, tapi enggak mungkin, kan, Ishaan mendadak minta tidur sama lo?” Sesuai dugaan, Shia dapat menebak ada latar belakang yang belum Agni bagikan padanya. “Kalian udah ngapain aja di sana? Mana lagi di Paris. Sengaja kali bos lo cari kota yang tepat buat minta servis tambahan.”


Sesungguhnya, Paris tak seromantis yang digambarkan buku dan film. Kota ini… sibuk. Chaotic, meminjam kata Ishaan. Terutama setelah kejadian di supermarket yang membuat Agni berpikir kalau dia bakal jadi gelandangan di Paris.


“Emang, sih, sempat ada pembicaraan. Terus sejak tiba di sini, sikap Ishaan jadi aneh….” Agni belum berani menceritakan insiden di Frankfurt pada Shia. Biarlah hal itu menjadi rahasianya bersama Ishaan. “Gue awalnya cuma ngajarin dia bikin egg droup soup. Kita ngobrol soal pandangan komitmen, eh tiba-tiba dia bahas soal servis plus yang pernah gue tanya di club dulu.”


“I see,” gumam Shia, tertarik menyimak lanjutannya. “Dari sana kalian bahas apa lagi sampai dia tidur sekamar sama lo?”


Maka, diceritakannya keinginan Ishaan untuk meminta layanan tambahan itu. Kedua pipi Agni menghangat kala mengingat ciuman pertama mereka di dapur, lalu bagaimana Ishaan ingin menghabiskan waktu semalam bersamanya. Tak ada obrolan panjang dan dalam. Ishaan hanya ingin mendekap Agni, lalu mengusap-usap puncak kepala hingga terlelap.


“Oalah, dia minta kelon sama lo?” Tawa Shia meledak di ujung telepon. Kelon. Kata yang sedari tadi Agni cari. “Denger dari cerita lo, Ishaan gentle juga, ya. Gue kira dia bakal minta main panas… apa belum? Jangan-jangan sengaja build up mood dulu sampai lo nyaman. Soalnya dia tahu lo masih perawan.”


Ucapan Shia tadi masuk akal. Agni diam-diam berharap servis yang Ishaan inginkan hanya sebatas kelon. Kalau perkiraan Shia tepat, berarti Agni jugaharus bersiap.


Terdengar pintu terbuka. Agni terkesiap, lalu bersembunyi di belakang pintu. “Shi, udahan dulu, ya? Dia baru balik ke apartemen.”

__ADS_1


“Yowes, hati-hati, Ni. Jangan lupa, minta dia pakai pengaman kalau kalian jadi ‘tempur’.”


Cepat-cepat, Agni mengakhiri pembicaraan di telepon, lalu mengecek ke luar kamar. Ishaan sedang menyeduh kopi, lalu mengeluarkan sesuatu dari kotak yang dia bawa.


“Kenapa intip-intip begitu, Agni? Kemarilah.” Aduh, Ishaan malah menangkap basah gelagatnya yang mencurigakan. “Aku bawa cinnamon roll dari bakery kemarin.”


Bukan cuma dua, Ishaan rupanya memborong sekotak besar cinnamon roll. Isinya ada enam dengan rasa berbeda. Agni lantas mengambil cinnamon roll dengan topping krim keju seperti yang dia santap kemarin siang.


“Tuan beli sebanyak ini buat siapa?” tanya Agni penasaran.


“Buat kita, siapa lagi?” Pria itu membuka kulkas. “Besok kita bakal ke Bordeaux. Lihat-lihat kebun anggur sekaligus berkunjung ke rumah pamanku. Hari Minggu sore, kita naik kereta ke Barcelona.”


Di mana lagi pula Borde Borde itu, gerutu Agni. Gadis itu kurang menyukai perubahan jadwal dadakan. Namun, apa yang bisa Agni lakukan? Ishaan yang menentukan dan berwenang mengatur jadwal.


“Maaf, ya, terkesan tiba-tiba.” Potongan cinnamon roll yang Agni telan nyaris membuatnya tersedak saat dia mendengar ucapan Ishaan tadi. “Pas di bakery, aku dapat telepon dari pamanku. Mama kayaknya kasih tahu dia aku lagi di Eropa. Dia minta aku mampir sebentar, makanya aku ubah rencana.”


Agni mengangguk maklum. “Kita pergi pukul berapa?”


“Saint Emi—apa?”


“Sudahlah, kamu sebaiknya mulai packing, terus tidur.” Tubuh Agni membeku kala Ishaan mengusap krim keju dari ujung bibirnya. Dia sempat mengira pria itu bakal minta ‘jatah’ lain. Akan tetapi, Ishaan malah tersenyum penuh arti sebelum berlalu ke kamar bersama sekaleng minuman soda dan dua buah cinnamon roll.


**


“Kasihan anak orang lo godain mulu,” Micah berdecak. “Kalau dia baperan kayak Ayanna atau Lea, berabe hidup lo.”


“Aku jaga tempo, kok.” Ishaan membuang kaleng minuman sodanya yang kosong. “Kalau kami akhirnya jalan di tempat, aku enggak bakal menyesal.”


Di layar ponsel, Micah melempar tatapan menyelidik padanya. “Ini serius Ishaan yang gue kenal bertahun-tahun? Biasanya lo cuma tahan sampai dua pertemuan sebelum ngajak cewek-cewek itu ngamar—”

__ADS_1


“Hei, hei, justru dari pengalaman sama Lea dan Ayanna, aku sadar aku harus hati-hati,” potong Ishaan cepat. Dia juga belum berbagi cerita tentang insiden di pesta. Namun, mengingat relasi mereka bersinggungan, Ishaan yakin Micah sudah mendengarnya, hanya saja belum mau mengungkit.


“Oh ya, kamu minta video call buat apa?” Mengalihkan topik pembicaraan adalah jalan teraman untuk mengakhiri diskusi tentang ‘hubungan’ Ishaan dengan Agni.


“Lukisan lo udah sampai.” Kemudian, Micah mengarahkan ponselnya pada paket besar yang ditaruh di sudut ruangan. “Tadinya mau gue bawa ke indekos Shia, cuma enggak muat ternyata. Dia juga lagi cari co-living space. Mau pindahan.”


“Ya udah, titip dulu. Biar aku kasih tahu Agni enaknya gimana.” Ishaan bersyukur replika lukisan The Kiss yang dia hadiahkan untuk Agni tiba tanpa cacat. “I gotta sleep. Besok mau ketemu pamanku yang punya kebun anggur. Siapa tahu dia tertarik suplai wine buat club kita.”


Lawan bicaranya terkekeh. “Ini! Ini nih Ishaan yang gue kenal! Take care, bro! ditunggu kabar anggur enaknya!”


Begitu video call berakhir, Ishaan membaringkan tubuh di ranjang. Hampir tengah malam. Semua barang bawaannya sudah masuk koper dan ransel. Sayangnya, kantuk yang dia rasakan saat packing menguap entah ke mana.


Matanya mengerling ke celah pintu. Dari sana, Ishaan dapat menangkap sedikit pintu kamar Agni yang tertutup rapat. Suara-suara di dalam kepalanya menyemangati Ishaan untuk pindah ke sana; tidur bersama seperti kemarin malam.


Semalam aman, kan? Sebuah suara bertanya. Ayolah, malam ini juga pasti bisa.


Kendati begitu, Ishaan tak mau ambil risiko. Tinggal satu kota lagi, Barcelona, dan dia bakal terlepas dari beban pekerjaan. Barangkali saat di Marrakesh pula Ishaan bisa leluasa mengajak Agni untuk—


Ishaan menggeleng cepat, lalu berbalik memunggungi pintu. Tahan, dia harus mampu menjegal semua godaan yang kian lantang. Ishaan lebih memilih tersiksa daripada menyaksikan Agni menjelma menjadi Ayanna dan Lea.


*


Paginya, giliran Ishaan yang nyaris terlambat. Selepas mandi sekenanya, dia bergegas keluar kamar; mendapati Agni yang tengah menyiapkan dua piring omelette. Aromanya yang gurih seketika menerbitkan lapar. Mustahil Ishaan melewatkan sarapan enak.


“Saya tadinya mau membangunkan Tuan,” ujar Agni sambil menuangkan jus jeruk untuk Ishaan. “Cuma saya takut Tuan memang tak ingin diganggu.”


“That’s okay, kita bisa kejar kereta.” Jarinya sibuk menggulir kontak, mencari nama supir yang mengantar mereka ke apartemen sesampainya di Paris. “Sepuluh menit lagi kita pergi. Tinggalkan saja piring-piring kotornya di bak cucian. Biar pelayan yang kusewa yang membersihkannya bersama seisi apartemen.”


Gara-gara keterlambatannya, Ishaan sulit membuka pembicaraan bersama Agni. Mereka sama-sama fokus mengawasi jalanan Paris yang dipadati kendaraan dan wisatawan, lalu setengah berlari mencari gerbong sesuai jadwal keberangkatan. Ketika sampai di kursi, barulah Ishaan dapat melepas napas lega.

__ADS_1


Satu hal lagi faktor yang bikin Ishaan menantikan perjalanan ke Bordeaux: dia duduk bersisian dengan Agni.


***


__ADS_2