
AGNI menggerutu kesal. Seharusnya dia membatasi minumnya saat jamuan, jadi dia tak perlu melipir ke toilet dulu buat buang air.
Toilet perempuan di belahan dunia mana pun sepertinya sama. Selalu penuh oleh antrean. Agni hendak menghampiri pintu dengan antrean terpendek, tetapi tiba-tiba seseorang menyambar lengan atasnya.
Agni mengaduh kesakitan, lalu menengok ke belakang untuk menegur si pelaku.
Matanya membesar.
“Sakit?” Lea menyeringai. Kuku-kukunya yang runcing melesak dalam ke kulit Agni. “Kamu pikir kamu bisa keluar dari tempat ini dengan tenang? Percaya diri sekali.”
“Lepas!” Agni mendesis. Dia tak bisa menarik dirinya, karena Lea pasti bakal menguatkan cengkeramannya. “Saya tidak punya masalah dengan Anda.”
“Siapa bilang? Menggandeng Ishan di depanku bukan masalah buatmu?” Teriakan Lea membuat perempuan-perempuan yang tadinya mengantre memilih kabur dari toilet. “Gara-gara kamu juga Ishaan yang biasanya bermalam denganku sampai pagi pulang lebih cepat! Apa, sih, yang dia lihat dari kamu?”
“Saya hanya bekerja sebagai asistennya, tidak lebih.”
Lea tak puas mendengar jawaban Agni. “Asisten macam apa sampai Ishaan mengajakmu datang ke acara penting ini? Aku yakin dia juga yang membelikan gaun ini untukmu. Mana mungkin gadis murahan sepertimu punya uang banyak buat beli pakaian mahal.”
“Nona, saya mohon, lepaskan saya!” Agni memekik, berharap ada petugas yang mendengarnya. “Kalau Nona meninggalkan luka di lengan saya, Tuan Ishaan justru curiga dan akan melacak siapa pelakunya.”
“Berani juga kamu.” Namun, peringatan Agni rupanya berhasil. Lea melepaskan cengkeramannya. “Dengar, perempuan mana pun, terutama gadis kampung sepertimu, enggak panas bersanding dengan Ishaan. Aku yang akan jadi Nyonya Marlon! Aku yang bakal memimpin perusahaan bersamanya!”
Sambil bersumpah serapah, Lea meninggalkan toilet. Pintu-pintu bilik yang sedari tadi terutup terbuka satu per satu. Perempuan-perempuan itu hanya menatap Agni yang tengah membersihkan luka di wastafel, sebelum berlalu dari sana.
Setelah yakin lukanya tak mengeluarkan darah, Agni masuk ke salah satu bilik kosong. Sambil menuntaskan urusan yang tertunda, Agni menarik tisu untuk mengeringkan luka. Dia tak membawa foundation maupun color corrector dan hanya bisa mengandalkan loose powder-nya untuk menyamarkan jejak kekerasan yang Lea tinggal.
Bagaimanapun, Ishaan tak boleh melihatnya. Lea bukan tandingan sepadan untuk Agni. Biarlah keributan di antara mereka menjadi rahasia yang disimpan dinding dan bilik toilet ini.
*
“Maaf lama, Tuan.” Agni menggerai rambutnya untuk menutupi lengan atasnya. “Antreannya panjang.”
“Aku maklum. Cewek pasti lama di toilet.” Menilai dari reaksinya, Ishaan sepertinya tak tahu ada keributan yang terjadi di toilet. “Kita mau ke apartemen atau langsung jalan-jalan ke luar?”
__ADS_1
Ajakan Ishaan sungguh menggoda bagi Agni. Saat membeli sepatu dan aksesori tempo hari, Agni sempat mengamati keindahan malam yang Frankfurt perlihatkan padanya. Namun, gara-gara bertemu Lea, Agni tak lagi berselera.
“Agni?” Ishaan merunduk. “Kamu kenapa?”
“Saya—saya mau istirahat, Tuan. Kita ke apartemen saja.”
“Yakin mau pulang? Malam masih panjang.”
“Kalau Tuan mau jalan-jalan, silakan. Cuma saya tidak bisa menemani.”
Pria di hadapannya menatap curiga, tetapi pada akhirnya mengikuti permintaan Agni. Mereka masuk lift, lalu kembali ke lantai 16. Agni sedang mengingat di mana dia harus mencari first aid kit untuk mengobati luka saat Ishaan mendadak menyambar lengannya.
Refleks, Agni menutupi bekas lukanya. Membongkar rahasianya yang berumur pendek. Ishaan tak mengucap sepatah kata pun, lalu memintanya masuk saat pintu apartemen terbuka.
“Tuan—”
“Duduk.” Ishaan menunjuk sofa di ruang tengah, lalu masuk ke kamar dan kembali bersama first aid kit yang Agni butuhkan. “Perlihatkan lukamu.”
“Tuan, tidak apa-apa. Bukan luka parah.”
Agni akhirnya membiarkan Ishaan merawat lukanya. Memang tak separah memar pada pelipis pria itu, tapi masih menyisakan nyeri.
“Akan kulaporkan perempuan itu—”
“Jangan diperpanjang, Tuan. Saya malas harus berhadapan dengan dia.”
“Ini bukan kali pertama Lea bertindak kasar dan main fisik,” Ishaan menyela. “She can get away like this because of her father. Kalau aku sudah mengumpulkan bukti kuat, aku jamin dia bakal mendekam di balik penjara.”
Agni ingin menenangkan Ishaan. Akan tetapi, memperhatikan pria itu begitu hati-hati membersihkan luka Agni, lalu mengoleskan obat membuatnya terenyuh. Dulu, Agni yang merawat sendiri bekas luka yang ibu tirinya tinggalkan. Kini, untuk kali pertama, ada orang lain yang mengurusnya.
“Agni? Hei….” Ekspresi wajah Ishaan yang tadinya murka berubah panik kala Agni perlahan terisak. “Hei, hei, kenapa? Aku terlalu kasar ya mengobati lukamu?”
Agni hanya bisa menggeleng. Tubuhnya berguncang. Isaknya berubah jadi tangis. Pada saat itu pula, Agni merasakan sepasang tangan menutupi bahunya dengan jas, lalu menariknya mendekat hingga kepalanya bersandar pada dada Ishaan.
__ADS_1
“It’s okay, Agni,” bisiknya. “Menangislah sampai kamu tak merasa sakit lagi.”
**
Kali pertama Ishaan melihat perempuan menangis adalah saat Tanisha menangkap basah pacarnya selingkuh di bangku SMA.
“Dasar enggak tahu diri! Kurang apa aku dari cewek itu?” Tanisha sesegukan dalam pelukan Ishaan. “Aku cantik, aku bisa beliin dia jersey tim sepak bola favoritnya! Tapi kenapa dia malah main di belakangku?”
Selepas Tanisha meluapkan amarahnya, Ishaan mendatangi pria yang mematahkan hati sang kakak. Mengajaknya duel sampai akhirnya mereka sama-sama masuk ke rumah sakit akibat luka parah. Seminggu kemudian, mantan pacar Tanisha pindah ke sekolah lain.
Mudah bagi Ishaan membalas perlakukan orang-orang yang dikasihinya. Sekali lagi, dia punya privilege yang memungkinkan semuanya terjadi. Namun, sang ibu kurang menyukai sikap tersebut. Maka setiap kali Ishaan ketahuan menyalahgunakan hak istimewanya, akan ada satu fasilitas yang dicabut dalam jangka waktu yang lama.
Teknik itu berhasil melatih Ishaan bersikap ekstra hati-hati. Entah akan ada berapa orang yang Ishaan habisi kalau sang ibu tak memberinya peringatan keras.
Malam ini, menyadari apa yang terjadi pada Agni, hampir mendorong Ishaan mengambil tindakan yang salah. Lea sangat kelewatan. Perempuan itu selamat gara-gara permohonan Agni.
Selain itu, tangisan Agni. Entah mengapa, Ishaan yakin Agni tersedu sedan bukan karena mengingat perlakuan Lea. Apakah kejadian itu memantik sesuatu yang sudah lama dia kubur? Ishaan ingin menanyakannya, tetapi Agni masih terlalu kalut. Dia perlu memberinya waktu untuk istirahat.
Menit-menit berlalu. Tangis Agni berangsur mereda. Gadis dalam pelukannya lalu berupaya melepaskan diri. Tak mau memaksa, Ishaan membiarkannya. Kemudian, dia mengambil tisu untuk menyeka air mata Agni yang melunturkan riasan wajahnya.
Saat Agni hendak mengatakan sesuatu, jemari Ishaan menahan bibirnya. Dia tahu apa yang akan gadis itu ucapkan.
“Bukan salahmu, jangan minta maaf,” ujar Ishaan. “Kalau sudah merasa baikan, bersihkan dirimu. Istirahatlah. Bawa jaketku sekalian. Besok pagi, biar aku minta pelayan buat dry cleaning sekalian dengan gaunmu.”
Agni mengangguk patuh. Sebelum beranjak ke kamar, Ishaan membantunya melepaskan strappy heels, lalu menuntunnya. Syukurnya jadwal mereka kosong sampai hari Senin. Jadi, Agni dapat fokus memulihkan diri.
“Kamu mau sarapan apa besok?”
Biasanya, Agni menyerahkan semuanya pada Ishaan, tetapi kali ini gadis itu memberi jawaban pasti. “Bubur ayam.”
“Nice. Biar kupesankan pada Mia.” Ishaan mengelus puncak kepala Agni. Ingin sekali dia meninggalkan kecupan singkat di sana. Akan tetapi, dia menahannya. Agni sudah cukup tertekan malam ini.
“Sleep tight, Agni.”
__ADS_1
Gadis itu mengulas senyum, lalu membalasnya sebelum menutup pintu.
***