Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Para Perempuan yang Tersakiti


__ADS_3

MIMPI itu datang lagi.


Ishaan agak bingung dengan cara kerja otaknya. Bagaimana mungkin dia memimpikan momen intim bersama Agni beberapa jam setelah mereka bertemu untuk kali pertama dalam tujuh tahun. Dulu, hal ini terjadi saat mereka memulai perjalanan di Eropa. Membuatnya salah tingkah berhari-hari.


Sebelum mimpi itu semakin meresahkan, Ishaan memaksa dirinya bangun. Agni punya pacar, dia mengingatkan walau terasa pedih. Dia tak boleh membayangkan hal-hal aneh bersama perempuan yang jelas memilih menjalin komitmen serius bersama orang lain.


Ishaan berdeham. Tenggorokannya kering. Lantas dia mengambil gelas berisi air yang disimpannya di nakas. Sembari meneguknya, Ishaan berupaya mengusir bayang-bayang Agni.


Sayangnya usaha itu gagal.


Jarum-jarum jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Tanisha minta pulang ke Jakarta pukul tujuh. Masih cukup waktu untuk meneruskan tidur, tetapi Ishaan memilih joging di tengah kegelapan sebelum otaknya menayangkan adegan-adegan dari malam panas bersama Agni di Barcelona.


*


"Kesambet apa kamu joging pagi-pagi buta? Yakin enggak ngantuk pas nyetir ke Jakarta?"


"I'm all good. Daripada Mbak yang bawa mobil. Yakin kita pulang ke Jakarta enggak tinggal nama?"


"Ih, amit-amit!" Tanisha menoyor dahi Ishaan. "Ya udah kita gantian. Aku dulu yang nyetir, terus kamu di separuh perjalanan."


Suasana hati Tanisha belum sepenuhnya membaik, tetapi paling tidak sang kakak kini mampu menjaga sikap. Saat sarapan di hotel, Tanisha belum menyinggung lagi kejadian di kantor. Mungkin menunggu momen yang tepat sampai kepalanya benar-benar dingin.


Sebelum bertolak ke Jakarta, Tanisha sempat video call bersama Haikal. Senyum dan kehangatan yang terpancar begitu kontras dari sosok beringas yang Ishaan lihat kemarin. Haikal menanyakan Dareen sebelum mengakhiri percakapan yang Tanisha balas dengan alasan Dareen sudah berangkat kerja.


"Kenapa Mbak pengin pulang hari ini?" Ishaan membuka topik pembicaraan setelah mereka masuk tol. “Masalah sama Dareen belum tuntas, kan?”


“Kamu benar, aku enggak boleh bertingkah memalukan di kantor Dareen.” Mengejutkan, pencerahan macam apa yang Tanisha dapatkan semalam. “Makanya aku mau ubah strategi supaya Dareen mengakui kesalahannya dan mau mengusir perempuan itu dari kantor sekaligus kehidupan kami.”

__ADS_1


Oke, Ishaan terlalu cepat menyimpulkan sikap tenang yang Tanisha tunjukkan. Kakaknya pasti punya rencana mengerikan dan dia tentu bakal dilibatkan. “Mbak, tolong jangan sampai kita salah menuduh orang.”


“Kamu lihat enggak, sih, foto-foto yang kubawa kemarin? Perlu aku perbesar?” Tanisha merengut. “Dengar, aku bakal ambil alih perusahaan di Jakarta, sementara kamu aku tugaskan mengawasi Dareen dan selingkuhannya di Bandung.”


“Sebentar, sebentar…” Atensi Ishaan terbelah antara menyimak Tanisha dan memastikan sang kakak tak ugal-ugalan selama menyetir. “Seingatku perjanjiannya adalah saat Dareen terbukti selingkuh, Mbak bakal gugat cerai dia sebelum ambil alih perusahaan. Terus, aku boleh kembali ke Jerman, bukan?”


“Ya, masalahnya baik Dareen maupun perempuan itu belum mau mengaku,” sahut kakaknya ketus. “Kalau kamu ada di sana, mereka bakal tertekan. Lalu mereka enggak punya pilihan lain buat mengakui kesalahan.”


Ishaan ragu rencana itu bakal berhasil. Bagaimana kalau Dareen, di waktu yang sama, sedang mencari cara untuk menyelematkan selingkuhannya? Kemungkinan terburuk, bagaimana kalau kakak iparnya tak pernah mendua?


“Apa Mbak punya bukti Dareen selingkuh selain dari foto?” Dokumentasi yang bawahan Micah setor belum terlalu kuat. Apalagi kalau Tanisha akan meneruskan kasus ke pengadilan, buktinya harus lebih banyak. “Pesan teks atau rekaman telepon, misalnya. Buat menangkap basah mereka, kita juga butuh minimal dua orang sebagai saksi.”


Tanisha tak menjawab, tapi saat dia meningkatkan kecepatan laju mobil, Ishaan paham kakaknya disaputi kebimbangan. Kalau Tanisha mengutusnya ke Bandung untuk penelusuran lebih jauh, itu berarti dia tak akan memantau restoran di Jakarta. Namun, Ishaan juga tak perlu terus menghindari Lea yang belum menyerah menarik perhatiannya.


Satu lagi, Ishaan bakal sering bertemu Agni meski tak tahu harus merasa senang atau risau menanggapinya.


**


Pesan yang Dareen kirimkan keesokan paginya tak lantas memperbaiki suasana hati Agni. Dia jelas-jelas difitnah di depan banyak orang. Tuduhannya pun begitu merendahkan. Hal lain yang membuatnya sakit hati adalah Dareen yang memilih diam alih-alih membela atau sekadar menjauhkan Tanisha darinya.


Belum lagi kejadian itu direkam beberapa orang. Ishaan memang memperingatkan mereka buat menghapusnya, tetapi siapa tahu ada yang menyimpannya dan menjadikannya gunjingan di group chat.


Atau yang lebih buruk, membagikannya ke Rano.


“Katanya sakit, tapi malah ngopi.” Uak Puput muncul dari dapur sambil membawa semangkuk bubur ayam komplit untuknya. “Untung Mang Saep masih di depan gang, jadi kekejar buat beli.”


“Nuhun, Uak.” Diambilnya sendok dari rak. “Kalau Uak mau ke warung, enggak apa-apa. Aku cuma kecapekan, enggak demam atau pilek.”

__ADS_1


“Ya udah, tapi Uak jualan setengah hari,” ujar Uak Puput. “Kemarin gimana, kamu sempet jenguk Rano?”


Agni menggeleng lemah. Dareen memintanya pulang lebih awal, tetapi Agni tak memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Rano. Dia memilih menyendiri di sebuah taman kota sampai jam pulang kerja tiba.


“Nanti aja kalau dia udah baikan. Kemarin nge-chat, katanya masih batuk-batuk.” Keterangan yang Agni sampaikan adalah pesan yang Rano kirim dua malam sebelumnya. Dia butuh alasan kuat buat mendukung kebohongannya.


Syukurnya, Uak Puput tak menaruh curiga. Perempuan itu meneruskan pekerjaannya sebelum pamit berjualan di warung. Agni menyantap sarapan dalam diam dan kembali ke kamar setelah mandi.


Tumpukan notifikasi memenuhi layar saat Agni mencabut kabel charger dari ponselnya. Sebagian dari Ulfa dan Heni, sebagian lagi dari Dareen. Agni belum siap membaca pesan-pesan itu sampai matanya menangkap panggilan telepon dan sebuah pesan dari nomor telepon tak dikenal.


Otot-ototnya menegang. Bagaimana kalau pesan itu berasal dari Tanisha?


Agni membalikkan tubuh hingga wajahnya menghadap bantal. Dilepaskannya teriakan yang sejak kemarin tertahan; membiarkannya teredam dalam tebalnya kain. Reputasi dan kariernya sedang dipertaruhkan. Apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki imejnya yang rusak gara-gara kesalahan orang lain?


*


Menjelang jam makan siang, Agni terbangun. Kedua matanya berat akibat menangis sepagian. Perlahan, dia duduk di tepi ranjang sambil mengumpulkan kesadaran. Bagaimanapun Agni tak boleh kelihatan memprihatinkan di hadapan Uak Puput.


Agni mencuci muka dan merapikan rambutnya. Kala mendengar pagar terbuka, gadis itu cepat-cepat turun ke lantai satu. Uak Puput sudah pulang, sesuai kata-katanya tadi pagi. Namun saat Agni hendak membuka pintu, telinganya mendengar percakapan antar dua perempuan.


Lagi, tubuhnya membeku. Ditempelkannya telinga ke daun pintu untuk mengecek sosok yang mengobrol bersama Uak Puput. Gelak tawa yang terdengar mengindikasikan tamunya bukan orang yang Agni cemaskan bakal datang, tetapi ketenangannya tak serta-merta berakhir.


Agni mundur saat Uak Puput memasukkan kunci dan membuka pintu utama. Perempuan itu terkejut melihatnya. “Eh udah bangun. Uak ke sini bawa tamu, tadi orangnya makan siang di warung.”


“Tamu?” Kemudian, Agni mengalihkan pandangannya ke belakang Uak Puput. Saat melihat sosok berhijab itu tersenyum ke arahnya, lutut Agni seketika lemas.


Tamu itu adalah Inggrid.

__ADS_1


***


__ADS_2