
BERTEMU wajah-wajah familier di Berlin memuluskan rencana Ishaan untuk mendirikan cabang perusahaan di Jerman. Sebagian klien yang bersedia menemuinya ternyata kenalan sang ibu. Meski begitu, Ishaan tetap harus membuktikan bahwa dia juga bertanggungjawab dan profesional, bukan sekadar karena dirinya adalah keturunan keluarga Marlon.
Lancarnya pertemuan-pertemuan yang berlangsung tak terlepas pula dari kesigapan Agni menangkap inti penting yang disampaikan klien. Namun yang mengejutkan Ishaan, Agni kali ini memperlihatkan kemampuannya berbicara dalam bahasa Jerman. Memang belum fasih, tetapi klien-kliennya terkesan dengan kepercayaan diri yang Agni perlihatkan.
“Aku kaget, bahasa Jerman-mu lumayan lancar,” puji Ishaan tulus saat mereka menikmati makan siang. “Terus, kenapa di apartemen kamu kelihatan kayak orang bingung tiap aku bicara dengan supir atau pelayan?”
“Saya pernah belajar bahasa Jerman di SMA. Sampai di Berlin, saya coba poles lagi pakai aplikasi. Mumpung saya masih ingat basic-nya.”
“Tingkatkan terus. Ambil kursus kalau perlu.” Sejujurnya, Ishaan juga kagum dengan inisiatif Agni mempelajari bahasa Jerman begitu menapakkan kaki di Berlin. Padahal di kota-kota sebelumnya, dia mengandalkan Ishaan atau warga lokal yang menemani mereka bepergian. “Bahasa Jerman adalah salah satu bahasa yang sering dipakai buat berbisnis. Makanya ibuku dari kecil melatihku dan kakakku buat belajar banyak bahasa.”
“Pantas Tuan lancar bicara dalam berbagai bahasa.” Agni menyesap jus apelnya. “Berapa banyak bahasa yang Tuan kuasai?”
“Untuk yang fasih, lalu di luar Indonesia dan Inggris, ada tiga. Italia, Jerman, dan Belanda. Kalau yang patah-patah… Prancis, Spanyol, dan Korea.”
Sisa hari itu lantas Ishaan lewatkan dengan memamerkan kemampuan berbahasa pada Agni. Sambil mengitari distrik bisnis di Berlin, Ishaan menunjuk berusaha menerjemahkan benda-benda di sekitarnya sesuai bahasa yang diminta Agni. Sebuah metode dulu ibunya ajarkan pada Ishaan dan Tanisha.
Saking serunya menerjemahkan berbagai kata, Ishaan sampai tak sadar mereka memasuki distrik hiburan. Gedung-gedung perkantoran dan agensi berganti jadi kafe, club, dan bar. Agni yang menyadari hal tersebut menghentikan langkah, diikuti Ishaan yang keheranan melihat perubahan sikap gadis itu.
“Tuan, kita di mana?” Agni celingak-celinguk. “Kita jalan terlalu jauh.”
Ishaan mengenali distrik ini. Oranienstraβe. Semasa kuliah, dia dan teman-temannya sering mampir ke sini. Selain itu—
“Ishaan?” Seorang perempuan berambut pirang mendekatinya. “Ishaan, bukan? Wie ist es dir ergangen*?”
Tubuh Ishaan menegang kala perempuan itu tanpa menunggu respons langsung memeluknya. Dari sekian hari yang akan dia lewatkan di Jerman, mengapa harus hari ini dia bertemu mimpi buruknya?
*
Mungkin pertemuan ini yang Micah maksud sebagai sesuatu besar yang terjadi di Jerman.
“Lea,” Ishaan menyebut nama perempuan itu, “mir geht’s gut**.”
“Hampir sepuluh tahun berlalu, kamu makin kelihatan ganteng, ya. Berwibawa juga.” Lea melingkarkan salah satu lengannya pada tangan Ishaan. “Baru pulang kerja? Gimana kalau kamu mampir sebentar ke barku? Atau ke club yang dulu sering kita datangi bersama.”
Dari ekor matanya, Ishaan mengamati Agni yang pura-pura menyibukan diri membaca sesuatu di ponsel. Menolak permintaan Lea bukan ide bagus. Keluarga perempuan ini berasal dari kalangan penting yang bersinggungan dengan bisnisnya. Entah sudah ada berapa orang kehilangan pekerjaan gara-gara melawan Lea.
Satu-satunya jalan keluar yang dapat Ishaan ambil untuk menyelamatkan Agni adalah memintanya pulang. Jadi, dia juga lebih fokus memikirkan cara melepaskan diri dari Lea tanpa mengancam keberlangsungan bisnisnya.
__ADS_1
“Boleh aku bicara sebentar pada asistenku?” Ishaan memakai suara menggoda yang dulu kerap dipakai saat bersama Lea. Sesuai dugaannya, Lea mengiyakan dan melepas tangan Ishaan.
“Kamu pulang duluan saja, Agni,” bisik Ishaan. “Biar kuhubungi supir untuk menjemputmu. Aku akan tunggu sampai dia membawamu pergi dari distrik ini.”
“Tuan tidak apa-apa ditinggal sendiri?” Cemas terpancar dari mata Agni.
“I’m all good. Titip tasku juga, biar aku yang bawa ponsel dan dompet.” Lalu, Ishaan menyerahkan tasnya pada Agni. “Sekitar sepuluh menit lagi supirku datang.”
Setelah mengurus Agni, Ishaan mendekati Lea yang tampak penasaran dengan percakapan mereka. Sebisa mungkin, Ishaan menjaga sikapnya supaya sosok itu tak marah atau tersinggung.
“Di mana lokasi bar yang kamu bangun?” Ishaan sengaja membuka basa-basi sembari menunggu jemputan untuk Agni. “Konsepnya sama seperti yang selalu kamu impikan?”
Lea mengangguk antusias. “Kecil, tapi nyaman. Bartender yang bekerja juga menjuarai banyak kompetisi. Makanya banyak yang datang karena ketagihan.”
“Sounds good. Aku bakal mampir sebentar buat coba cocktail.”
“Kok sebentar?” Lea kembali bergelayut manja pada Ishaan. “Biasanya kamu selalu minta bermalam di apartemenku buat bercinta.”
Siapa yang mampu menolak pesona Lea? Postur tinggi semampainya diwariskan sang ibu yang seorang supermodel. Lekukan tubuhnya pun menonjolkan aset-aset kebanggaannya yang membuat banyak pria bertekuk lutut. Ishaan adalah salah satunya, tetapi dia yang beruntung karena berhasil mendapatkan tanggapan yang selama ini didambakan para pemuja Lea.
Dari belokan di belakang Lea, sebuah mobil berwana hitam melaju ke arah Ishaan. Pria itu melepas napas lega. Dia memperhatikan saat mobil tadi berhenti di depan Agni, lalu sang supir membukakan pintu untuk gadis itu. Dalam waktu singkat, mobil itu berlalu dari hadapannya.
Agni berada di tempat yang aman.
“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” Pertanyaan Ishaan itu disambut pekikan girang Lea. Sebelum meninggalkan lokasi, Ishaan diam-diam mengirimkan pesan pada Agni.
Kamu tak perlu menungguku pulang, katanya, berjaga-jaga. Siapkan laporan dan jadwal seperti biasa. Tidur sebelum tengah malam. Jangan lupa ingatkan pelayan untuk menyiapkan sarapan. Terima kasih sebelumnya.
*
Bar bergaya industrial yang Lea dirikan memang sesuai dengan yang diimpikan perempuan itu di bangku kuliah. Sekilas, mengingatkan Ishaan pada club malam yang dia bangun bersama Micah. Bedanya, bar ini tak terlalu riuh meski pengunjung terus berdatangan.
“Frans, cocktail spesial dua gelas!” seru Lea pada bartendernya. Begitu pesanan selesai dibuat, Lea menyerahkan salah satu gelas pada Ishaan. Lalu, alih-alih membawa Ishaan ke kursi kosong dekat jalan masuk, dia malah mengajaknya ke lantai dua.
“Memangnya di lantai dua ada apa?” Dari lantai dasar, Ishaan tak melihat keberadaan lounge. “Tempat karaoke?”
“Kamu nih, sok polos!” Lea menariknya semakin kuat sampai mereka tiba di lantai dua. Hanya ada koridor panjang berpenerangan remang yang membawa mereka ke dua pintu. Insting Ishaan memintanya untuk pergi, tetapi sekali lagi, dia tak mau gegabah mengambil keputusan. “Ruang kerjaku, dong!”
__ADS_1
“Padahal aku mau lihat-lihat interior di lantai dasar. Desain tempat bartendernya bagus,” Ishaan menjaga agar percakapan mereka tak cepat melenceng. “Syukurlah kamu bisa mewujudkan impianmu.”
“Danke! Tapi rasanya percuma aku punya bar tanpa kamu.” Lea membuka pintu ruang kerjanya. “Kita ngobrol di sini biar enggak keganggu orang lain di bawah.”
Ishaan menyesap perlahan cocktail-nya sambil menilai ruangan tersebut. Cukup simpel, dari perabot sampai pemilihan warna dindingnya tak berlebihan. Jendela yang langsung menghadap jalan jadi nilai tambah tersendiri bagi Ishaan. Lea dapat mengamati pelanggan yang berkunjung tanpa perlu berbaur dengan kerumunan.
“Aku tahu kamu pasti bakal mengagumi bagian ini.” Kedua lengan Lea tanpa permisi melingkari perut Ishaan. “Dulu, kita harus diam-diam menerobos ruang kerja kakakku buat melakukannya sampai pagi. Kamu juga harus ganti kursinya gara-gara lupa menaruh alas di sana—”
“Kakakmu masih mengelola restoran di Munich?” Ishaan berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Restorannya di Munich masih beroperasi, tapi dia sama keluarganya pindah ke Hamburg.” Lea malah makin mengeratkan pelukan, lalu menopangkan kepalanya pada pundak Ishaan. “Kenapa kamu kaku banget, sih? Ah, jangan-jangan kamu akhirnya punya pacar? Asistenmu tadi, mungkin? Dia manis juga.”
Jangan, jangan sampai Lea menyeret Agni ke dalam pembicaraan ini. “Lea, aku tahu apa yang kamu inginkan, tapi aku juga belum melupakan kejadian itu.”
“Ishaan, come on!” Lea membalikkan tubuhnya agar mereka saling berhadapan. “Waktu itu aku benar-benar enggak bermaksud membahayakanmu. Salahku yang kurang hati-hati. Sekarang aku rutin cek kesehatan ke obgyn. Selama enam tahun terakhir aku pakai pil KB.”
Dipandanginya perempuan yang berdiri di depannya. Perempuan yang menjadi teman senang-senangnya di ranjang saat mereka kuliah. Perempuan yang juga nyaris menularkan penyakit gara-gara ketahuan sering tidur dengan pria berbeda tanpa pengaman. Selama berbulan-bulan, Ishaan terus memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan dirinya ‘bersih’ sebelum berani berhubungan dengan perempuan lain.
“Sekali saja, untuk bernostalgia,” bisik Lea manja, “aku sudah siapkan pengaman yang sering kamu pakai. Aku bahkan enggak keberatan kalau kamu cuma pengin aku puaskan dengan mulut.”
“Lea, aku sedang kurang berselera untuk melakukannya.”
“Ishaan,” Lea belum mau menyerah, “aku sudah mengenalmu bertahun-tahun. Jangan ragukan kemampuanku. Aku janji hanya malam ini kita melakukannya dan enggak akan ada orang yang tersakiti.
“Terutama asistenmu yang manis itu.” Jemari Lea mulai melepas kancing kemeja Ishaan. “Aku cemburu lihat kamu perhatian banget sama dia.”
Ishaan ingin menggerutu. Perempuan kadang bisa jadi mahluk yang menakutkan. Namun, dia tak boleh cepat menyerah. Dia harus membuat Lea merasa di atas angin sementara dia yang mengendalikan permainan.
“Satu kali,” Ishaan menegaskan, “dengan catatan kamu harus menuruti semua perintahku. Lalu, kita pindah ke kamar hotel yang kupesan.”
Senyum Lea melebar. “I’m all yours tonight.”
***
* [Jerman] Ke mana saja kamu (how have you been)
** [Jeman] Aku baik-baik saja (I’m good)
__ADS_1